2.550 Mahasiswa di Sumut Diterjunkan ke Lokasi Terdampak Bencana

2.550 Mahasiswa di Sumut Diterjunkan ke Lokasi Terdampak Bencana
Kepala LLDikti Wilayah I, Prof. Saiful Anwar Matondang. (Analisadaily/Irin Juwita)

Analiasadaily.com, Medan - Sebanyak 2.550 mahasiswa dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) di Sumatera Utara telah diterjunkan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan pemulihan wilayah terdampak bencana di Sumatera Utara.

Program Mahasiswa Berdampak yang merupakan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI ini terlaksana selama sekitar satu bulan di lokasi terdampak bencana. Untuk di Sumatera Utara ribuan mahasiswa disebar ke daerah khusus seperti di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Langkat.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I, Prof. Saiful Anwar Matondang, menjelaskan dalam pemilihan mahasiswa terdampak ini, mahasiswa diminta menyusun proposal dan anggaran untuk kegiatan pemulihan di lokasi-lokasi terdampak bencana di Sumatera Utara, khususnya Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Langkat.

"Bahkan ada mahasiswa yang ditugaskan hingga Aceh Tamiang. Secara keseluruhan, terdapat 104 proposal yang disetujui. Mahasiswa dari berbagai organisasi bersedia terjun langsung selama satu bulan penuh selama masa liburan. Program ini sudah diluncurkan secara resmi, sekaligus sudah dilakukan penyematan tanda bagi mahasiswa yang bertugas di daerah terdampak," kata Prof Saiful, Selasa (3/1/2026).

Disebutkannya, total mahasiswa yang terlibat sekitar 2.550 orang, baik dari perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). Namun, jumlah terbesar berasal dari PTS. "Dari sekitar 140 proposal yang masuk, sebagian besar diajukan kampus swasta, sedangkan dari PTN hanya sekitar 30-an proposal," ungkapnya.

Beberapa kampus bahkan mengirim mahasiswa hingga ke luar Sumatera Utara, seperti ke Aceh Tamiang. Misalnya, UMN mengirim satu tim ke sana. Setiap proposal melibatkan sekitar 50 mahasiswa dan didampingi dosen pembimbing, sehingga total pesertanya mencapai ribuan.

Terkait bantuan pendidikan, sejumlah pemerintah daerah juga mengajukan permohonan keringanan biaya kuliah. Contohnya, Bupati Aceh Tamiang meminta agar mahasiswa asal daerahnya yang terdampak dibebaskan dari pembayaran SPP selama satu semester.

Selain itu, pihak kementerian juga telah mengusulkan lebih dari 6.000 mahasiswa yang orang tuanya terdampak bencana untuk mendapatkan beasiswa satu semester dari pemerintah pusat. Saat ini masih menunggu persetujuan dan realisasi anggaran.

"Selama bertugas, mahasiswa ditempatkan di posko-posko yang sudah dibentuk kampus sebelumnya, seperti di Aceh Tamiang dan Tapanuli Selatan. Posko tersebut sebelumnya digunakan untuk tanggap darurat, kini dilanjutkan sebagai pusat kegiatan pemulihan. Sebagian mahasiswa juga ditempatkan di rumah warga yang tidak terdampak. Teknis pelaksanaan diatur masing-masing fakultas dan universitas," ungkapnya.

Prof Saiful menambahkan beberapa kampus yang paling banyak mengirim mahasiswa antara lain UMSU, terutama ke Aceh Tamiang dan Sibolga.

"Kegiatan dilakukan berkolaborasi dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten, termasuk dalam distribusi bantuan kesehatan dan logistik ke daerah sulit dijangkau," pungkasnya.

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi