SMA Santo Thomas 1 Medan kembali menyelenggarakan Stosa Cultural Festival (SCF) 2026 yang mengusung tema “Di bawah Langit, Kita Berpadu” bertempat di Medan International Convention Center (MICC) pada Sabtu (28/8/2026). (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - SMA Santo Thomas 1 Medan kembali menyelenggarakan Stosa Cultural Festival (SCF) 2026 yang mengusung tema “Di bawah Langit, Kita Berpadu” bertempat di Medan International Convention Center (MICC) pada Sabtu (28/8). Pentas seni ini menjadi salah satu agenda strategis sekolah yang dilaksanakan setiap 3–4 tahun sekali sebagai wadah pengembangan bakat, kreativitas, serta apresiasi seni dan budaya siswa.
Kegiatan ini diikuti sekitar 1.800 peserta yang terdiri dari siswa, guru, orang tua, serta tamu undangan dengan turut menghadirkan Gubernur Sumatera Utara yang diwakili oleh Pihak Dinas Pendidikan (Bapak D. Nainggolan), Ketua YPK Don Bosco Yosep Yuki Hartandi.
Ketua YPK Don Bosco KAM Yosep Yuki Hartandi menegaskan bahwa SCF 2026 merupakan wujud nyata komitmen sekolah dalam memfasilitasi bakat dan kreativitas siswa.
“SCF 2026 adalah wujud komitmen sekolah dalam memfasilitasi bakat dan kreativitas siswa. Kami meyakini pendidikan berkualitas harus menyeimbangkan aspek akademik dengan pengembangan karakter serta kemampuan kolaborasi melalui seni dan budaya agar siswa siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Yosep.
Kepala Sekolah SMA Santo Thomas 1 Medan, Sariman Gultom menambahkan Sejalan dengan komitmen yayasan dalam menghadirkan pendidikan yang komprehensif, pihak sekolah berharap Stosa Cultural Festival 2026 bukan sekadar ajang pertunjukan seni, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang terintegrasi. Melalui kegiatan ini, siswa didorong untuk mengasah kepercayaan diri, kepemimpinan, serta kemampuan bekerja sama lintas budaya dan lintas disiplin, sebagai bekal menghadapi dinamika masa depan.
“SCF 2026 menjadi ruang nyata bagi siswa untuk bertumbuh dan mengekspresikan potensi terbaiknya. Kami percaya bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kreativitas, dan semangat kolaborasi. Melalui panggung ini, siswa belajar menghargai keberagaman, memperkuat identitas, serta membangun rasa percaya diri sebagai generasi muda yang siap berkontribusi bagi Masyarakat,” terang Sariman.
Kegiatan ini menampilkan drama teater yang mengangkat kisah Sondang, boru ni raja dalam budaya Batak yang memiliki impian besar dan harus menghadapi dinamika tiga dimensi kehidupan: budaya Batak, budaya Jawa, dan kehidupan modern. Pertunjukan ini menjadi simbol harmoni keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di Kota Medan.
Selain itu, berbagai penampilan kreatif dari ekstrakurikuler sekolah turut memeriahkan panggung, menampilkan kolaborasi lintas minat dan bakat siswa di bidang seni musik, tari, dan pertunjukan.
Melalui pelaksanaan SCF 2026, SMA Santo Thomas 1 Medan menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, apresiasi terhadap keberagaman, serta kemampuan berkolaborasi. Festival ini diharapkan terus menjadi ruang ekspresi yang konsisten dalam mengembangkan potensi siswa sekaligus memperkaya ekosistem seni dan budaya di Kota Medan.
(DEL)