RESENSI BUKU

Flood Risk, Landscapes and Adaptive Capacity

Flood Risk, Landscapes and Adaptive Capacity
Flood Risk, Landscapes and Adaptive Capacity (Analisadaily/Istimewa)

Membaca ulang banjir bukan sebagai satu sebab, melainkan sebagai hasil interaksi bentang alam, tata guna lahan, dan kapasitas adaptif

Onrizal, PhD

Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara

Perkumpulan Akademisi dan Saintis Indonesia (ASASI)


Inti penilaian

White paper ini sangat kuat sebagai peta berpikir untuk membaca banjir secara sistemik. Nilai utamanya terletak pada keberanian menolak jawaban tunggal, terutama simplifikasi bahwa deforestasi selalu menjadi penjelasan final. Namun, karena berbentuk white paper dan desk review, kekuatan buku ini lebih menonjol sebagai kerangka diagnosis dan arah kebijakan daripada sebagai pembuktian kausal final untuk semua konteks.

Gambaran umum

Buku ini berangkat dari banjir besar Sumatra pada November 2025 dan segera menempatkan pembaca pada argumen utamanya: banjir tidak boleh dibaca semata-mata sebagai gejala naiknya muka air, apalagi sebagai akibat tunggal dari hilangnya tutupan hutan. Penulis menegaskan bahwa dampak banjir terbentuk oleh interaksi antara proses biofisik, perubahan bentang alam, pola pemanfaatan ruang, dan cara sistem pemerintahan menafsirkan, menyiapkan diri, serta merespons kejadian ekstrem.

Kerangka tersebut membuat white paper ini terasa penting. Alih-alih berhenti pada perdebatan siapa yang harus disalahkan, penulis mendorong pembaca untuk memecah risiko banjir ke dalam tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu bahaya, keterpaparan, dan kerentanan (hazard, exposure, and vulnerability). Dengan cara itu, banjir dibaca sebagai masalah sistem, bukan sekadar masalah pohon versus non-pohon.

Isi pokok dan argumen utama

Bagian awal buku memperlihatkan posisi intelektual penulis dengan sangat jelas. Mereka menolak narasi lama yang menyatakan bahwa penambahan tutupan hutan akan selalu menurunkan banjir. Hubungan hutan dan banjir, menurut buku ini, selalu bergantung pada konteks ruang, skala, iklim, sifat bentang alam, serta interaksi sosial-ekologis yang menyertainya. Karena itu, buku ini bukanlah kampanye penghijauan yang disederhanakan menjadi slogan, melainkan ajakan untuk melakukan diagnosis yang lebih jujur dan lebih presisi.

Kontribusi konseptual paling menonjol muncul pada bagian "Multiple Scales and Perspectives". Melalui Gambar 2, penulis merangkai proses dari tingkat akar, tanah, infiltrasi, limpasan, dan aliran sungai hingga ke tata guna lahan, tenurial, narasi publik, kebijakan iklim, serta kapasitas manusia dan kelembagaan. Pembaca diajak memahami bahwa banjir lahir dari keterkaitan antara sistem ekologis dan sistem sosial. Kerangka ini kuat karena menjembatani ilmu hidrologi, tata kelola lingkungan, dan politik kebijakan.

Buku ini juga sangat menarik ketika membahas bentang alam yang berfungsi hidrologis. Penulis menyoroti agroforest atau kebun lindung yang selama berabad-abad melindungi sawah dan aliran air bagi desa-desa di pegunungan Sumatra. Dalam pembacaan ini, yang penting bukan sekadar label formal hutan atau bukan hutan, melainkan apakah suatu penggunaan lahan benar-benar mempertahankan fungsi penyangga air. Karena itu, terasering sawah di lereng dapat memiliki fungsi buffer yang sebanding dengan tanah berhutan, sedangkan tanah yang dipadatkan atau didrainase cepat justru dapat memperbesar limpasan puncak.

Bagian "Problem Diagnosis" memperjelas orientasi kebijakan buku ini. Tabel 1 menghubungkan tiga komponen risiko - bahaya, keterpaparan, dan kerentanan - dengan masalah konkret dan rekomendasi tindakan. Cuaca ekstrem, keterputusan dari statistik iklim historis, degradasi kapasitas penyangga lanskap, tata ruang yang buruk, reklasifikasi sistem adaptif lokal, serta lemahnya koordinasi lintas sektor dibaca sebagai simpul masalah yang berbeda dan tidak dapat diselesaikan dengan satu instrumen kebijakan yang seragam.

Di bagian akhir, penulis mendorong pergeseran dari perdebatan atribut (attribution debates) menuju hal-hal yang dapat ditindaklanjuti (actionable diagnostics). Artinya, fokus kebijakan seharusnya bergerak dari pertanyaan 'siapa yang salah?' menuju 'apa yang harus dilakukan dan oleh siapa? Dari sini lahir rekomendasi seperti memperkuat sistem peringatan dini regional, mengintegrasikan adaptasi iklim dengan pengurangan risiko bencana, memberi ruang lebih besar bagi sungai, mengakui lanskap multifungsi, dan memperkuat kapasitas adaptif masyarakat serta kelembagaan.

Kekuatan buku

Pertama, buku ini kuat secara konseptual. Ia tidak terjebak pada dikotomi hutan versus non-hutan, melainkan menilai fungsi hidrologis secara lebih ilmiah dan lebih kontekstual.

Kedua, buku ini berhasil menggabungkan ilmu biofisik dengan dimensi sosial, politik, dan moral. Box 1 tentang multiple perspectives on floods memperlihatkan bahwa cara masyarakat, birokrasi, insinyur, dan pegiat lingkungan memahami banjir bisa berbeda-beda, dan perbedaan itu memengaruhi respons kebijakan.

Ketiga, orientasinya sangat aplikatif. Tabel 1, Gambar 10, dan Box 2 membuat buku ini berguna bukan hanya bagi akademisi, tetapi juga bagi perencana pembangunan, pengelola DAS, BPBD, dinas PUPR, dan pemerintah daerah.

Keempat, buku ini memberi tempat yang layak bagi sistem lokal seperti kebun campuran dan agroforest (wanatani) adat. Ini penting karena banyak dokumen kebijakan justru menghapus kompleksitas lokal demi kategori administrasi yang kaku.

Catatan kritis

Meski sangat bernilai, buku ini bukan tanpa keterbatasan. Karena berbentuk white paper dan dinyatakan sebagai desk review atas peristiwa banjir Sumatra 2025, kedalaman pembuktian kausalnya memang tidak sedetail monografi empiris berbasis pengukuran lapangan jangka panjang. Buku ini sangat kuat dalam membangun kerangka baca, tetapi belum dimaksudkan sebagai penutupan perdebatan ilmiah tentang besaran kontribusi relatif tiap faktor di semua lokasi.

Keterbatasan lain adalah bahwa sebagian rekomendasi masih berada pada tingkat arah kebijakan umum. Misalnya, seruan untuk integrasi lintas sektor, peringatan dini regional, atau pengakuan lanskap multifungsi sudah tepat, tetapi belum dijabarkan secara rinci menjadi peta kelembagaan: siapa memimpin, dengan indikator apa, melalui skema pendanaan apa, dan bagaimana prioritas antarwilayah ditetapkan. Untuk pembaca birokratis, kebutuhan terhadap detail implementasi tersebut tetap besar.

Selain itu, fokus geografis pada Sumatra membuat generalisasi ke wilayah lain di Indonesia harus dilakukan secara hati-hati. Pelajaran dari Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sangat relevan, tetapi Papua, Kalimantan, Sulawesi, atau Nusa Tenggara mempunyai rezim hidrologi, sejarah penggunaan lahan, dan konfigurasi sosial yang tidak identik.

Relevansi bagi pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam di Indonesia

Untuk konteks Indonesia, buku ini sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa kebijakan pengendalian banjir tidak cukup diserahkan pada proyek fisik, penanaman pohon seremonial, atau normalisasi sungai semata. Yang dibutuhkan adalah pengelolaan bentang alam yang benar-benar fungsional: tata ruang berbasis risiko, perlindungan penyangga hidrologis, pengendalian drainase di lahan gambut dan lahan basah, pengawasan pembalakan dan konversi lahan, serta pengakuan terhadap sistem-sistem lokal yang terbukti menjaga aliran air dan produksi.

Buku ini juga sangat berguna bagi agenda perencanaan pembangunan. Kerangka hazard-exposure-vulnerability (bahaya-keterpaparan-kerentanan) dapat diterjemahkan ke dalam penyusunan RTRW, RDTR, pengelolaan DAS, strategi adaptasi perubahan iklim, dan kebijakan pemulihan pascabencana. Dengan kata lain, nilai terbesar buku ini bukan hanya pada penjelasannya tentang banjir, tetapi pada kemampuannya memaksa pembaca menyusun ulang cara berpikir lintas sektor.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Flood Risk, Landscapes and Adaptive Capacity adalah white paper yang cerdas, tajam, dan sangat layak dibaca. Karya ini berhasil menggeser pembahasan banjir dari ruang moralistik yang penuh kambing hitam ke ruang analisis yang lebih matang dan lebih berguna untuk kebijakan. Ia kuat sebagai kompas intelektual: menunjukkan ke mana diagnosis harus diarahkan, apa yang perlu diintegrasikan, dan mengapa restorasi yang baik harus didefinisikan secara fungsional, bukan simbolik.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi peneliti, mahasiswa, perencana pembangunan, pengelola lingkungan, serta pejabat pemerintah yang bekerja pada isu kehutanan, tata ruang, DAS, adaptasi iklim, dan kebencanaan. Bila ingin diringkas dalam satu kalimat, pesan terpenting buku ini adalah: banjir tidak akan dipahami dengan baik selama kita masih mencari satu sebab tunggal untuk sebuah masalah yang pada dasarnya bersifat sistemik.

Sumber utama resensi

Resensi ini disusun berdasarkan pembacaan naskah lengkap: van Noordwijk M, Leimona B, Agus F, Abdurrahim AY, Ekadinata A. 2026. Flood risk, landscapes and adaptive capacity. White Paper. Bogor, Indonesia: CIFOR; Nairobi, Kenya: ICRAF. DOI: 10.5716/cifor-icraf/PP.46337.

RESENSI BUKU
(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi