Program PKM Mahasiswa Berdampak

HMJ Pendidikan Sejarah Unimed Hadirkan Modul Sekolah Darurat dan Mitigasi Bencana untuk Pemulihan Masyarakat Aceh Tamiang

HMJ Pendidikan Sejarah Unimed Hadirkan Modul Sekolah Darurat dan Mitigasi Bencana untuk Pemulihan Masyarakat Aceh Tamiang
HMJ Pendidikan Sejarah Unimed Hadirkan Modul Sekolah Darurat dan Mitigasi Bencana untuk Pemulihan Masyarakat Aceh Tamiang (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Aceh Tamiang - Upaya pemulihan masyarakat pascabencana di Sumatra kembali mendapat perhatian melalui Program Pengabdiankepada Masyarakat (PKM) bertajuk Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026.

Program ini dilaksanakan di Desa Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam mitigasi bencana dan pemulihan pendidikan bagi korban terdampak.

Program tersebut merupakan bagian dari skema PKM Mahasiswa Berdampak yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Program ini diwakili oleh Universitas Negeri Medan sebagai perguruan tinggi pelaksana yang berhasil lolos seleksi nasional di antara berbagai proposal dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, khususnya banjir dan longsor yang kerap terjadi di kawasan Aceh Tamiang.

Ketua tim PKM, Tappil Rambe, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat ketahanan masyarakat melalui pendidikan kebencanaan berbasis komunitas.

Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga penguatan kapasitas sosial dan pendidikan masyarakat.

“Program ini kami rancang sebagai bentuk pengabdian yang tidak hanya bersifat responsif terhadap bencana, tetapi juga preventif. Artinya, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan agar lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan,” ujar Dr. Tappil Rambe, Minggu (15/3/2026).

Tim PKM ini juga melibatkan dua anggota yakni M. Taufik Rahmadi dan Hariadi, yang memiliki latar belakang keilmuan dalam bidang pendidikan, kesehatan masyarakat, dan pengembangan komunitas.

Ketiganya bekerja bersama mahasiswa serta mitra lokal untuk memastikan program dapat berjalan efektif dan tepat sasaran.

Salah satu program unggulan yang dikembangkan dalam kegiatan ini adalah Sekolah Darurat, sebuah model pendidikan sementara yang dirancang untuk memastikan anak-anak korban bencana tetap dapat mengakses pendidikan.

“Program ini juga menjadi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anakyang terdampak bencana,” ucapnya.

Konsep Sekolah Darurat tersebut dituangkan dalam sebuah modul pembelajaran berjudul “Sekolah Darurat: Landasan Konseptual dan Implementasi Pendidikan dalam Situasi Bencana”. Modul ini berisi panduan praktis bagi relawan, guru, dan masyarakat dalam menyelenggarakan kegiatan belajar bagi anak-anak di lokasi pengungsian.

Selain itu, tim PKM juga menghasilkan modul kedua berjudul “Mitigasi Bencana: Pendekatan Konseptual dan Kerangka Pengurangan Risiko untuk Pembelajaran dan Penguatan Kapasitas Pengurangan Risiko Bencana”. Modul ini dirancang sebagai pedoman bagi mahasiswa, relawan, serta masyarakat untuk memahami konsep mitigasi bencana secara komprehensif.

Materi dalam modul tersebut mencakup berbagai aspek penting seperti pemetaan risiko bencana, penyusunan standar operasional prosedur (SOP) evakuasi, pembentukan tim siaga bencana, serta strategi penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.

“Pendekatan yang digunakan menekankan partisipasi masyarakat sebagai aktor utama dalam proses mitigasi dan pemulihan bencana,” bebernya.

Menurut Dr. Tappil Rambe, pengembangan modul ini merupakan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan program pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai bahwa masyarakat membutuhkan panduan praktis yang dapat digunakan secara langsung dalam situasi darurat.

“Kami berharap modul ini tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi benar-benar dapat digunakan oleh masyarakat, relawan, dan pemerintah desa sebagai panduan praktis dalam menghadapi bencana,” jelasnya.

Dalam implementasinya, kegiatan PKM ini juga menggandeng organisasi mahasiswa sebagai mitra kolaborasi. Salah satu mitra utama adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Unimed yang diketuaioleh Maulana Ramadhan Silalahi.

Dalam pelaksanaan kegiatan berdampak di lapangan Ketua HMJ dibantu oleh Clara Kartika Baiduri sebagai Sekretaris dan Suci Amaliah Haza sebagai bendahara.

HMJ Pendidikan Sejarah yang juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Geografi dan Antropologi berperan dalam kegiatan sosialisasi, pelatihan mitigasi bencana, serta pendampingan masyarakat di lokasi kegiatan.

Kegiatan di Desa Durian Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang sendiri mencakup berbagai agenda, mulai dari pelatihan kesiapsiagaan bencana, simulasi evakuasi, hingga penyelenggaraan kegiatan pendidikan bagi anak-anak di lokasi terdampak.

Program ini juga melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat untuk memastikan setiap kegiatan berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Selain aspek pendidikan dan mitigasi, program ini juga menekankan pentingnya pendampingan psikososial bagi korban bencana, khususnya anak-anak.

Dalam situasi pascabencana, banyak anak mengalami trauma yang dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan mereka.

Melalui konsep Sekolah Darurat, kegiatan belajar tidak hanya difokuskan pada materi akademik, tetapi juga kegiatan yang dapat membantu pemulihan mental anak-anak.

Metode pembelajaran yang digunakan melibatkan pendekatan kreatif seperti permainan edukatif, diskusi kelompok, dan aktivitas seni.

Program PKM Mahasiswa Berdampak ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat berbasis pendidikan kebencanaan yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.

Dengan meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai wilayah, pendekatan mitigasi berbasis komunitas dinilai menjadi salah satu strategi paling efektif dalam mengurangi risiko bencana.

“Dengan pendekatan kolaboratif antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan sosial masyarakat sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan,” tutup Dr. Tappil Rambe.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi