Membangun Jembatan Digital untuk Harangan Girsang: Menghubungkan 1,4 Juta Wisatawan dengan Surga di Simalungun

Membangun Jembatan Digital untuk Harangan Girsang: Menghubungkan 1,4 Juta Wisatawan dengan Surga di Simalungun
Membangun Jembatan Digital untuk Harangan Girsang: Menghubungkan 1,4 Juta Wisatawan dengan Surga di Simalungun (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Parapat – Hanya berjarak lima kilometer dari hiruk-pikuk pusat kota Parapat, tersimpan sebuah rahasia alam yang menakjubkan. Berada di ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), Ekowisata Harangan Girsang Paradise menawarkan paket lengkap: hutan pinus yang tenang, sawah terasering yang hijau, hingga Air Terjun Halimbingan yang masih perawan di lahan lindung seluas 57 hektar.

Namun, sebuah ironi terungkap. Di tengah lonjakan 4,5 juta kunjungan wisatawan ke Danau Toba pada awal 2025, Harangan Girsang justru tetap sunyi, seolah tersembunyi di balik bayang-bayang ketenaran Pulau Samosir.

Bastanta Eka Putra Kembaren, S.Kom., M.M., dari Politeknik Pariwisata Medan, melakukan penelitian mendalam menggunakan kerangka Customer Path 5A. Hasilnya mengejutkan: wisatawan bukannya tidak mau datang, mereka hanya tidak tahu bahwa tempat ini ada.

"Destinasi yang tidak terlihat di internet, di era sekarang sering dianggap tidak ada," ungkap Bastanta, Senin (16/3/2026).

Ia menyoroti bagaimana 84% wisatawan modern mengandalkan internet sebagai kompas perjalanan mereka. Sementara itu, jejak digital Harangan Girsang masih sangat minim; akun Instagram resmi hanya memiliki ratusan pengikut dan informasi praktis seperti rute hingga harga tiket masih sulit ditemukan secara daring.

Pemerintah Kabupaten Simalungun sebenarnya telah bergerak maju dengan membangun jalan hotmix sepanjang 2,5 kilometer untuk mempermudah akses. Namun, aspal yang mulus ternyata belum cukup untuk mendatangkan kerumunan wisatawan.

Ada rantai yang putus dalam proses pemasaran. Masyarakat lokal yang tergabung dalam Pokdarwis Harangan Nauli memiliki semangat konservasi yang luar biasa, namun mereka menghadapi tembok besar bernama keterbatasan kapasitas digital. Tanpa konten visual yang menarik dan strategi pemasaran digital yang tajam, fasilitas pendukung seperti toilet dan tempat duduk yang telah dibangun berisiko menjadi sia-sia.

Potensi Harangan Girsang untuk menjadi destinasi unggulan sangatlah besar. Dari titik pandangnya, pengunjung bisa melihat kemegahan Geopark Kaldera Toba yang spektakuler. Wisatawan yang pernah berkunjung pun umumnya memberikan testimoni positif, namun pengalaman pribadi tersebut seringkali berhenti di lokasi tanpa menjadi promosi organik di media sosial.

"Yang dibutuhkan Harangan Girsang saat ini bukan sekadar jalan yang lebih lebar, melainkan jembatan digital," tegas Bastanta.

Sinergi antara pemerintah daerah, akademisi seperti Poltekpar Medan, dan komunitas lokal menjadi kunci untuk membekali pengelola dengan kemampuan konten kreatif.

Dengan arus jutaan wisatawan yang setiap tahunnya memadati gerbang Parapat, Harangan Girsang memiliki peluang emas. Tantangannya kini tinggal satu: bagaimana mengubah "permata tersembunyi" ini menjadi destinasi yang paling dicari dalam sekali klik.

Oleh: Bastanta Eka Putra Kembaren, S.Kom., M.M. (Poltekpar Medan)

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi