20 Siswa SMAN 1 Sidikalang Masuk UGM Jalur SNBP (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Sidikalang - Pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi tanpa tes atau istilah sekarang, Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), merupakan detik-detik bikin jantung berdebar tak menentu.
Bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru. Bahkan beban tersebut justru terasa berat bagi orang tua.
“Lulus tidak...masuk tidak...gimanalah ya? Oh Tuhan, kabulkanlah doa kami,” begitu pengalaman Sarifuddin, salahbsatu orang tua siswa 3 tahun silam.
Kala itu, pintu kamar anaknya terkunci rapat. Terdengar suara terisak. Ia pun sedih. Sebab, nama si buah hati tak tertera dalam daftar nama yang merasakan keceriaan.
Sedih memang. Pada hari sedemikian, layar media sosial diramaikan kalimat puji Tuhan. Foto-foto kegembiraan pemberitahuan lulus ditampilkan oleh keluarga. Anak si A si B, si C dan lainnya dipajang. Sedangkan ia, memilih tiarap. Juara kelas atau apapun namanya tiada bermakna kala anaknya tereliminasi dari seleksi.
Pun begitu, perlahan, ia membangkitkan semangatnya. Masih ada peluang. Akhirnya, dia menang melalui tes tertulis di Universitas Sumatera Utara (USU). Kursi itu hanya diduduki selama 3 bulan atau hingga ujian tengah semester.
“Kemarin, kami sebetulnya tidak fokus belajar. Pikiran kami, menanti pengumuman di sore hari. Cemas dan gelisah. Bahkan, banyak yang menangis, seakan pesimis lolos,” kata Nona Trihayidah peraih kursi di jurusan Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Rabu (1/4/2026).
Air mata suka, jatuh ketika nama Nona tampak jelas sebagai pemenang. “Aku tak nyangka bisa menang di UGM,” kata Nona.
Hal senada diutarakan Lewi Christomel Sihombing. Dia dan teman sekelas merasa kurang nyaman. Hati dan pikiran tertuju menanti hasil.
Sore itu, mereka semua di ruangan, kata Lewi. Seorang kawan masuk ke ruang wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Tujuannya, bertanya pengumuman.
“Teman itu, bilang, masuk, masuk, masuk.... Spontan, kami pada senang tak terucapkan,” kata Lewi, diterima di jurusan Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak UGM.
Dia menyebut, kaget ketika mendengar, sebanyak 20 siswa memperoleh tiket di UGM. Ini seolah tak mungkin. UGM itu, Top two university in Indonesia. Kampus favorit orang-orang hebat. Kampus menteri...
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Edwin Pasaribu mengungkapkan, capaian itu sungguh fantastis.
“20 anak didik kami dipastikan punya kursi di UGM. Kampus ternama di Indonesia. Percaya atau tidak, sekolah ini jadi fenomenal sekarang. Biasanya, jalur tes, tambah lagi,” kata Edwin.
Peraih kursi lainnya atas nama Alfigo Makmur Purba (kedokteran hewan), Alfredo Cristian Sihotang (kehutanan), Andhika Ujung (teknik pertanian), Foni Delicia Lahagu (manajemen sumberdaya akuatik), Yosafat Steven Sitorus (teknik geologi) dan Apulisa Martha Uli Pasaribu (teknik fisika).
Sebelum mendaftar, kata Edwin, guru memberi pengarahan seputar trik agar peluang lolos lebih terbuka. Misalnya, jangan sampai 2 orang memilih 1 jurusan di kampus yang sama. Nilai siswa juga menjadi pertimbangan, kemana PTN yang memungkinkan.
“Tak kalah penting, program studi yang dilirik, harus didiskusikan dengan orang tua,” tandas Edwin.
Tenaga pengajar, Hotmartua Sipangkar menjelaskan, total lulus SNBP tahun 2026 ini sebanyak 48 orang.
“Dari 48 siswa, 20 orang tembus di UGM. Ini memang poin istimewa. Boleh jadi, prestasi ini tertinggi di Sumatera Utara, khususnya kontestasi merebut kursi di UGM,” kata Hotmartua.
Ditambahkan, dari data itu, 2 orang dinyatakan menang di Institut Teknologi Bandung (ITB). Yaitu, Jonathan Adelio Burnas Sitompul (teknologi industri) dan Samuel Steven Lumban Tobing (teknik pertambangan dan perminyakan).
Teman mereka, kata Hotmartua lagi, 2 orang masuk di Institut Pertanian Bogor (IPB). Yakni Agnes Fiona Sitepu (teknbologi pangan) dan Putri Yustin Naibaho (agronomi danhortikulrura).
Dijelaskan, 3 pelajar meraih kursi di Universitas Diponegoro (Undip). Yakni Alicia Meilani Panjaitan (perencanaan wilayah dan kota), Vennya Christiani Lingga (kedokteran) dan Yosefin Marianna Munthe (sastra Inggris).
“Anak didik kita 3 orang ke Undip. 4 tahun berturut-turut, anak didik menembus fakultas kedokteran,” ujar Hotmartua.
Bicara soal pendidikan, khususnya menembus pintu kampus PTN, sepertinya, bukan lagi hal langka bagi generasi muda asal Dairi. Sedari dulu memang begitu.
Tentunya, prestasi tersebut merupakan kolaborasi nyata beberapa pihak. Utamanya semangat siswa, kerja keras guru dan orang tua. Para si buah hati tidak banyak waktu buat bermain. Learning and learning again. They want to show the best for parent and teacher.
Orang tua mengeluarkan dana tak sedikit untuk menyokong masa depan. Itu dapat dilihat dari menjamurnya bimbingan belajar (bimbel) bertarif mahal.
Pelajar di Sidikalang, kerap jalan kaki atau naik angkot atau dijemput ayah pukul 21.00 Wib dari lembaga pendidikan non formal tersebut. Hujan dan gerimis bercampur angin dingin ditembus.
Guru, siswa dan orang tua berikut bimbel telah menyajikan yang terbaik. Dan, kita tunggu, berapa ratus lagi pelajar yang mengharumkan nama Dairi lewat jalur tertulis.
Biasanya, untuk lingkup SMAN 1 Sidikalang, SMAN 2 Sidikalang, SMA Katolik St Petrus Sidikalang, SMA Methodis Sidikalang, SMAN 1 Sumbul, kuantotal total berada di angka 500 sampai 600 kursi setiap tahun.
Sayangnya, belum pernah terdengar, apa apresiasi nyata Bupati kepada generasi bangsa yang akan membawa atribut “par Dairi di au, par Sidikalang do au, par Sumbul do au’.
Kembali ke kampus UGM, bila saja mereka dikumpul di satu ruangan, maka dari 36 mahasiswa dalam satu rombongan study, 20 orang diantaranya adalah alumni SMAN 1 Sidikalang. Kalau begitu, apa kata dunia? Luar biasa bukan? Kita tak lagi bertanya pada rumput yang bergoyang.
Belajar dari tahun-tahun sebelumnya. Bila 500 atau 600 siswa peraih kursi di PTN, itu berarti dibutuhkan 2 pesawat terbang untuk membawa mereka ke perantauan. Alangkah indahnya kalau di lambung pesawat ditulis “par Dairi di hami (kami dari Dairi).
(SSR/RZD)