USU dan UMPSA Perkuat Mitigasi Bencana Anak Pesisir Lewat Teknologi Augmented Reality (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Tim pengabdian dari Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU) kembali menunjukkan komitmennya dalam peningkatan keselamatan masyarakat pesisir. Melalui pendanaan program Pengabdian kepada Masyarakat skema Equity USU Tahun 2025/2026, tim ini menginisiasi kegiatan bertajuk 'FGD Penguatan Edukasi Mitigasi Bencana Berbasis Augmented Reality dan Simulasi Virtual bagi Anak Pesisir dalam Mendukung SDG 13 bersama USU–UMPSA'.
Program strategis ini digawangi oleh para pakar teknik sipil USU, yakni Dr. Ir. Rahmi Karolina, S.T., M.T., IPM., GP selaku ketua tim, bersama anggota tim Dr. Ir. Ika Puji Hastuty, S.T., M.T., IPM, Dr. Ir. Nursyamsi, S.T., M.T., dan Ir. Muhammad Agung Putra Handana, S.T., M.T.
Kegiatan ini merupakan tahap lanjutan setelah kesuksesan program tahun lalu di Kampung Nelayan Seberang. Sebelumnya, anak-anak di kawasan tersebut telah mendapatkan pelatihan mitigasi gempa bumi menggunakan AR Card. Pendekatan interaktif ini terbukti efektif meningkatkan antusiasme dan pemahaman anak-anak terhadap risiko bencana dibandingkan metode konvensional.
Kini, melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan mitra internasional Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA), tim pengabdian berupaya mengevaluasi sekaligus memperkuat kurikulum pembelajaran yang telah ada.
Dr. Ir. Rahmi Karolina menekankan bahwa penggunaan teknologi seperti Augmented Reality (AR) bukan sekadar inovasi visual, melainkan kebutuhan mendesak untuk kesiapsiagaan sejak dini.
"Kami ingin menghadirkan metode pembelajaran yang lebih interaktif. Tujuannya agar anak-anak tidak hanya memahami teori, tetapi mampu merespons situasi bencana dengan tepat secara insting dan tindakan," ujar Dr. Rahmi, Senin (6/4).
Ia menambahkan bahwa program ini merupakan kontribusi nyata USU dalam mendukung SDG 13 (Climate Action), khususnya dalam meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi risiko bencana yang kerap mengancam wilayah pesisir.
FGD ini dirancang untuk menyerap perspektif komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari tenaga pendidik (guru) dan orang tua, tokoh masyarakat setempat dan perwakilan lembaga terkait kesiapsiagaan bencana.
Selain evaluasi, diskusi ini juga membahas pengembangan media edukasi masa depan, seperti integrasi AR Card dengan buku cerita serta modul permainan anak. Pengembangan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai potensi bencana gempa dan tsunami.
Melalui sinergi lintas negara dan pemanfaatan teknologi mutakhir, tim pengabdian USU berharap dapat merumuskan strategi edukasi yang tidak hanya efektif dan adaptif, tetapi juga berkelanjutan demi menciptakan generasi pesisir yang tangguh bencana.
(JW/RZD)