Dari Lumpur ke Harapan: 64 Mahasiswa FEB UMSU Hidupkan Ekonomi Bukit Rata

Dari Lumpur ke Harapan: 64 Mahasiswa FEB UMSU Hidupkan Ekonomi Bukit Rata
Dari Lumpur ke Harapan: 64 Mahasiswa FEB UMSU Hidupkan Ekonomi Bukit Rata (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Di Desa Bukit Rata, Kecamatan Kanjuruan Muda, Aceh Tamiang, banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memutus rantai ekonomi pangan masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara hadir melalui program Kampus Berdampak dengan pendekatan rekonstruksi ekonomi berbasis green value chain.

Program ini dilaksanakan sejak 20 Januari hingga 28 Februari 2026, kemudian dilanjutkan dengan tahap monitoring dan evaluasi sepanjang Maret hingga pertengahan April untuk memastikan keberlanjutan dampak di lapangan.

Sebanyak 64 mahasiswa diterjunkan langsung ke-4 dusun terdampak dengan jangkauan lebih dari 120 kepala keluarga.

Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Sylvia Vianty Ranita, SE., M.Si., bersama Arif Pratama Marpaung, SE., MM., dan Agus Sani, SE., M.Sc. Pendekatan yang digunakan tidak sekadar bantuan sesaat, tetapi membangun sistem yang mampu menghidupkan kembali produksi sekaligus memperkuat tata kelola usaha masyarakat.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya pulih, tetapi bangkit dengan sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Sylvia.

Salah satu langkah utama adalah pengaktifan kembali bioflok yang sebelumnya lumpuh akibat banjir. Sistem ini menjadi bagian penting dalam rantai nilai pangan karena mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan limbah.

Kolam-kolam yang sempat tidak berfungsi kini mulai kembali dihidupkan, membuka peluang ekonomi baru bagi warga.

Persoalan mendasar seperti akses air bersih juga ditangani melalui pembangunan sumur bor. Ketersediaan air tidak hanya mendukung kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat.

Pada sisi penguatan ekonomi, warga diberikan pelatihan pemberdayaan UMKM pascabencana. Kegiatan ini mendorong masyarakat untuk kembali menjalankan usaha dengan pendekatan yang lebih terstruktur, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan efisiensi usaha.

Upaya menjaga lingkungan juga menjadi bagian dari pendekatan ini melalui pembuatan alat pembakaran sampah tanpa asap. Di tengah tumpukan limbah pascabanjir, inovasi ini membantu masyarakat mengelola sampah secara lebih aman dan berkelanjutan.

Kepala Desa Bukit Rata, Amran, menyambut baik program tersebut. Ia menilai kehadiran mahasiswa membawa dampak nyata sekaligus semangat baru bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya bantuan, tetapi pendampingan yang membuat warga lebih percaya diri untuk bangkit,” ujarnya.

Program ini menunjukkan bahwa rekonstruksi ekonomi pascabencana membutuhkan pendekatan yang terintegrasi antara produksi, tata kelola usaha, dan keberlanjutan lingkungan. Di Bukit Rata, proses itu mulai berjalan.

Dari bioflok yang kembali aktif, air bersih yang tersedia, hingga usaha kecil yang perlahan bangkit, semuanya menjadi bagian dari fondasi pemulihan yang lebih kuat.

Apa yang dilakukan FEB UMSU menegaskan bahwa kampus dapat hadir sebagai agen perubahan. Tidak hanya menghasilkan ilmu, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi