Sungai Bukan Sekadar Saluran Air

Sungai Bukan Sekadar Saluran Air
Ilustrasi - Sungai (Pixabay)

Onrizal, PhD

Setiap kali banjir datang, perhatian kita hampir selalu tertuju pada rumah yang terendam, jalan yang putus, sawah yang rusak, dan warga yang harus mengungsi. Ketika kekeringan memanjang, fokus kita bergeser pada krisis air baku, irigasi, dan ancaman gagal panen. Semua itu wajar. Namun ada satu hal yang terlalu sering luput: setiap peristiwa ekstrem juga menghantam kehidupan sungai sebagai ekosistem. Ia tidak hanya merusak infrastruktur manusia, tetapi juga mengikis keanekaragaman hayati yang hidup di dalam dan di sekitar aliran air.

Perspektif inilah yang ditekankan oleh sebuah artikel review terbaru di Nature Reviews Biodiversity. Artikel itu menunjukkan bahwa kejadian iklim ekstrem menggerus biodiversitas sungai pada berbagai tingkat, dari gen hingga ekosistem, dan dampaknya menjalar melalui jejaring sungai yang saling terhubung. Ia juga menegaskan bahwa dampak kejadian ekstrem sering diperparah oleh tekanan lain seperti perubahan penggunaan lahan, polusi, dan invasi biologis, sementara kejadian ekstrem yang saling bertumpuk atau terjadi berurutan masih terlalu sedikit dipahami.

Pesan itu seharusnya menggugah Indonesia. Selama ini kita terlalu sering memperlakukan sungai terutama sebagai urusan drainase, pengendalian banjir, dan pasokan air. Padahal sungai adalah sistem hidup. Ketika hujan ekstrem meningkat, banjir menjadi lebih sering, kekeringan memanjang, suhu menghangat, dan kualitas lingkungan daerah aliran sungai memburuk, yang terganggu bukan hanya aliran air, melainkan juga struktur kehidupan di dalamnya. Dalam bahasa yang lebih telanjang: krisis sungai bukan cuma krisis teknik sipil, tetapi juga krisis biodiversitas.

Indonesia sendiri tidak kekurangan tanda bahaya. Bencana hidrometeorologi kian mendominasi kejadian bencana nasional, sementara perubahan iklim memperbesar kemungkinan hujan ekstrem, banjir, kekeringan, dan gangguan terhadap sistem air. Dalam situasi seperti ini, sungai kita menghadapi tekanan berlapis: dari iklim yang makin tidak menentu, dari pencemaran, dari sedimentasi, dari penyempitan sempadan, dan dari perubahan tata guna lahan di hulu hingga hilir.

Di sinilah masalahnya menjadi jauh lebih serius. Bila kejadian ekstrem makin sering dan makin keras, sementara sungai kita sudah terlebih dahulu dibebani kerusakan ekologis, maka daya lenting ekosistem sungai akan makin turun. Konektivitas sungai memang bisa menjadi jalur penyebaran gangguan, tetapi konektivitas itu juga merupakan jalur pemulihan biodiversitas setelah gangguan. Artinya, kebijakan sungai yang hanya sibuk mengendalikan air tanpa memulihkan ekosistemnya akan selalu tertinggal dari masalah.

Hal ini sangat relevan bagi Indonesia, negara yang kaya akan biodiversitas air tawar. Kerusakan sungai bukan sekadar urusan kualitas air atau sampah, tetapi juga ancaman terhadap kekayaan hayati yang tidak tergantikan. Ketika sungai rusak, yang hilang bukan cuma fungsi hidrologis, tetapi juga jalur migrasi ikan, tempat pemijahan, relung ekologis, dan rantai kehidupan yang menopang komunitas lokal.

Sayangnya, cara pikir kebijakan kita masih terlalu sempit. Kita masih cenderung memandang sungai setelah masalah muncul: banjir datang, lalu normalisasi; kekeringan datang, lalu respons darurat; pencemaran muncul, lalu penertiban sesaat. Padahal dalam kondisi iklim yang makin tidak stasioner, pendekatan seperti itu jelas tidak cukup. Pengelolaan sungai harus bergerak dari respons lokal yang reaktif menuju pendekatan resiliensi skala daerah aliran sungai yang lebih antisipatif, lebih berbasis pemantauan, dan lebih jujur terhadap kompleksitas kejadian ekstrem yang saling bertumpuk.

Arah perbaikannya sebenarnya sudah mulai terdengar. Restorasi sungai semakin sering disebut sebagai bagian dari solusi terhadap krisis air dan dampak perubahan iklim. Tetapi restorasi sungai tidak boleh dibaca sempit sebagai proyek fisik semata. Restorasi harus berarti memulihkan fungsi ekologis sungai: menjaga konektivitas, melindungi sempadan, menekan pencemaran, menata penggunaan lahan di hulu-hilir, dan memasukkan biodiversitas sebagai indikator utama keberhasilan, bukan sekadar ornamen tambahan.

Karena itu, ada tiga koreksi yang mendesak. Pertama, pengelolaan sungai di Indonesia harus berhenti melihat biodiversitas sebagai urusan pinggiran. Dalam era perubahan iklim, keanekaragaman hayati adalah bagian dari ketahanan sungai itu sendiri. Kedua, sistem pemantauan sungai harus diperkuat, bukan hanya untuk debit dan banjir, tetapi juga untuk kualitas habitat, komunitas biota, dan perubahan ekologis pascakejadian ekstrem. Ketiga, kebijakan sungai harus bergerak pada skala daerah aliran sungai, sebab kerusakan di satu titik tidak tinggal di satu titik; ia menjalar melalui jaringan yang sama yang seharusnya menopang pemulihan.

Sudah waktunya kita mengubah cara memandang sungai. Sungai bukan sekadar jalur air yang harus dilancarkan agar banjir cepat surut. Sungai adalah ruang hidup. Bila kita terus melihatnya hanya sebagai infrastruktur, maka setiap hujan ekstrem akan terus kita baca sebagai gangguan sesaat, bukan sebagai peringatan bahwa fondasi ekologis kita sedang rapuh. Dalam kondisi iklim yang makin keras, menjaga sungai berarti juga menjaga keanekaragaman hayati yang membuat sungai tetap hidup. Dan tanpa sungai yang hidup, ketahanan kita sendiri akan makin mudah runtuh.

Bio penulis

Onrizal, PhD, adalah associate professor bidang ekologi dan konservasi biodiversitas tropika di Universitas Sumatera Utara. Ia menaruh perhatian pada konservasi, tata kelola lanskap, dan hubungan antara sains, kebijakan, dan masa depan ekosistem Indonesia.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi