Dari Penerima Zakat Menjadi Pemberi Zakat, Kisah Fatimah Menginspirasi Langkat

Dari Penerima Zakat Menjadi Pemberi Zakat, Kisah Fatimah Menginspirasi Langkat
Fatimah (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Langkat – Tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik sosok Fatimah, S.Si., M.Pd., anggota DPRD Sumatera Utara yang dikenal dekat dengan masyarakat dan vokal memperjuangkan aspirasi rakyat, tersimpan kisah perjuangan hidup yang penuh keterbatasan.

Perempuan yang kini duduk sebagai legislator dari Fraksi PKS itu pernah merasakan hidup sebagai mustahik atau penerima zakat. Namun berkat kerja keras, pendidikan, dan doa yang tak pernah putus, Fatimah berhasil mengubah nasibnya. Kini, ia justru menjadi muzakki atau pemberi zakat yang membantu masyarakat yang membutuhkan.

Perjalanan hidup inspiratif itu terungkap saat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Langkat memberikan penghargaan kepada Fatimah sebagai anggota legislatif yang sadar zakat dalam acara yang digelar di Pendopo Jentera Stabat, Rabu (10/6/2026).

Fatimah menjadi salah satu dari dua penerima penghargaan dan tercatat sebagai satu-satunya anggota legislatif yang mendapat apresiasi atas konsistensinya menunaikan zakat melalui Baznas Langkat.

Dalam sambutannya, Fatimah mengenang masa kecilnya yang jauh dari kemewahan. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai buruh lepas, sementara ibunya mengabdikan diri sebagai guru mengaji.

Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas membuat mereka kerap menerima bantuan zakat dari masyarakat sekitar. Bantuan tersebut menjadi penopang kebutuhan sehari-hari keluarga.

"Zakat yang kami terima waktu itu ditukarkan di kedai-kedai sekitar rumah untuk membeli beras, lauk-pauk, dan kebutuhan pokok lainnya," kenangnya.

Namun, di tengah keterbatasan tersebut, sang ayah selalu menanamkan optimisme kepada anak-anaknya.

"Tidak apa-apa hari ini kita menjadi penerima zakat. Tapi suatu hari nanti kita harus bisa menjadi pemberi zakat. Tidak selamanya tangan kita berada di bawah, suatu saat tangan kitalah yang berada di atas," pesan sang ayah yang hingga kini terus diingat Fatimah.

Pesan itulah yang menjadi bahan bakar semangatnya untuk terus berjuang meraih pendidikan. Tumbuh di kawasan Pantai Gemi, Kabupaten Langkat, Fatimah tidak menyerah pada keadaan meski kondisi ekonomi keluarganya sering kali tidak memungkinkan.

Kesempatan mengubah masa depan datang ketika ia memperoleh bantuan dari seorang ibu angkat serta beasiswa pendidikan untuk menyelesaikan kuliah strata satu hingga strata dua.

"Sejak saat itu saya bertekad, suatu hari nanti saya harus menjadi muzakki dan bisa membantu masyarakat sebagaimana dulu saya pernah dibantu," ujarnya.

Komitmen tersebut bukan sekadar janji. Sebelum terjun ke dunia politik, Fatimah memulai pengabdian sebagai guru Raudhatul Athfal sekaligus berjualan di kantin sekolah untuk menambah penghasilan. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan.

Karier politiknya terus menanjak. Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Langkat dan tercatat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut. Kini, ia mengemban amanah sebagai anggota DPRD Sumatera Utara dari Daerah Pemilihan Sumut XII yang meliputi Kabupaten Langkat dan Kota Binjai.

Kisah perjuangan Fatimah turut menyentuh hati Bupati Langkat, H. Syah Afandin atau yang akrab disapa Ondim.

Meski telah lama mengenal Fatimah, Ondim mengaku baru mengetahui secara utuh perjalanan hidup perempuan yang akrab disapa Ema itu.

"Saya pikir sudah cukup dekat dan mengenal Ema. Tetapi hari ini saya benar-benar tersentuh mendengar kisah masa kecil beliau. Masya Allah, masyarakat Langkat tidak salah memilih sosok seperti beliau untuk menjadi wakil rakyat," katanya.

Hal senada disampaikan Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo. Menurutnya, perjalanan hidup Fatimah menunjukkan bahwa kesuksesan tidak boleh membuat seseorang melupakan akar perjuangannya.

"Allah mengangkat derajat beliau hingga menjadi anggota dewan. Namun beliau tetap mengingat masa-masa sulit yang pernah dialami dan terus berkomitmen membantu masyarakat," ujarnya.

Di penghujung acara, Fatimah menyampaikan pesan yang menyentuh kepada para penerima zakat yang saat ini masih berjuang menghadapi keterbatasan hidup.

"Untuk adik-adik yang hari ini menjadi mustahik, jangan pernah berkecil hati. Jangan pernah menyerah pada mimpi. Tetaplah berdoa, terus belajar, dan berbuat baik. Insya Allah suatu hari nanti kalianlah yang akan menjadi muzakki bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan," pesannya.

Kisah Fatimah menjadi bukti bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Dengan pendidikan, kerja keras, dan keteguhan hati, seorang penerima zakat pun dapat tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengulurkan tangan bagi sesamanya. Sebuah perjalanan hidup yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menegaskan bahwa harapan selalu ada bagi mereka yang tidak pernah berhenti berjuang.

(NAI/NAI)

Baca Juga

Rekomendasi