Analisadaily.com, Medan - Panggung seni bagi anak bukan sekadar tempat untuk tampil. Di sana mereka belajar berbicara, bergerak, berimajinasi, membangun keberanian dan berinteraksi. Namun, di balik proses kreatif tersebut, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: anak harus mendapatkan ruang yang aman.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian dalam penguatan tata kelola Sanggar Anak Deli Company, komunitas seni anak yang telah berdiri sejak 12 Februari 2012 di Kota Medan.
Sanggar ini menjadi ruang belajar berbagai bentuk seni, mulai menulis, mendongeng, membaca puisi, monolog hingga pantomim, dengan peserta mulai usia empat tahun hingga tingkat SMA.
Selama ini, aktivitas sanggar banyak bertumpu pada dedikasi dan kepercayaan antara pengelola, pelatih, anak dan orang tua. Namun, ketika melibatkan anak dalam aktivitas seni secara intensif, kepercayaan personal perlu diperkuat dengan sistem yang mampu menjamin keamanan dan perlindungan anak.
Interaksi dalam seni pertunjukan menyentuh banyak aspek, mulai dari tubuh, suara, ekspresi dan emosi hingga kedekatan antara pelatih dan anak. Karena itu, diperlukan batas dan mekanisme yang jelas agar proses kreatif tetap menghormati hak anak.
Gagasan tersebut diperkuat melalui pendekatan Humanistic Arts Management for Children (HAMC) yang memandang anak bukan sekadar pemain, tetapi manusia yang memiliki hak, martabat, kebutuhan tumbuh kembang dan hak untuk mendapatkan perlindungan.
Membenahi Tanpa Menghakimi
Penguatan tata kelola Sanggar Anak Deli Company dilakukan melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI serta difasilitasi LPPM Universitas Negeri Medan.
Program ini diinisiasi Ayu Nadira Wulandari, M.I.Kom., Fitriani Lubis, M.Pd., Aqsa Mulya, M.Pd., dari Universitas Negeri Medan bersama T. Jalaluddin, M.M., dari Universitas Teuku Umar.
"Prosesnya diawali dengan pemetaan kondisi sanggar bersama pengurus, pelatih, orang tua dan mitra. Tujuannya bukan menghakimi praktik yang selama ini berjalan, melainkan memperkuatnya melalui sistem yang lebih terstruktur," ujar Ayu, Minggu (20/9/2026).
Sejumlah perangkat kemudian disiapkan, di antaranya SOP perlindungan anak, kode etik pelatih, mekanisme pelaporan, model manajemen sanggar humanistik serta kurikulum latihan teater yang disesuaikan dengan tahapan tumbuh kembang anak.
Perlindungan anak juga dipandang sebagai bagian dari keberlanjutan sanggar. Aturan yang jelas memberikan kepastian bagi anak, orang tua, pelatih dan pengelola ketika menghadapi persoalan.
Panggung dan Masa Depan Anak
Sanggar Anak Deli Company telah memiliki perjalanan panjang. Komunitas ini pernah tampil di Taman Budaya Sumatera Utara, Taman Ismail Marzuki, berbagai siaran televisi dan kegiatan internasional. Anak-anak binaannya juga pernah tampil di hadapan Presiden Republik Indonesia dalam Rembuk Kemerdekaan 2023.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa seni dapat menjadi ruang penting untuk membentuk keberanian, kreativitas dan identitas budaya anak.
Namun, semakin besar panggung yang diberikan kepada anak, semakin besar pula tanggung jawab orang dewasa untuk memastikan panggung tersebut aman.
Sebab, tujuan berkesenian bukan hanya melahirkan anak yang mampu tampil, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengenali diri, menghargai orang lain, berempati dan memahami lingkungan.
Anak-anak membutuhkan panggung untuk berekspresi. Tetapi sebelum itu, mereka membutuhkan ruang yang aman untuk tumbuh.
(NS/BR)











