Dari Pesisir Batu Bara Tembus Ritel Modern, Ini Kisah Cahaya Syajaril Bersama Alfamidi (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Batubara — Dari sebuah usaha kecil di kawasan Pesisir Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, Cahaya Syajaril perlahan membuktikan bahwa produk lokal juga mampu bersaing dan menembus pasar ritel modern.
Perjalanan itu tidak datang dalam semalam. Berawal dari usaha rumahan yang dirintis sejak 2021, Syajaril kini mampu memasarkan produk olahannya melalui delapan gerai Alfamidi. Kehadiran produk di ritel modern tersebut sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi usahanya.
Kisahnya bermula pada Juli 2025. Saat itu, Syajaril bersama sekitar 100 pelaku UMKM lainnya mendapat kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada Alfamidi melalui fasilitasi Dinas Koperasi dan UMKM.
Dari puluhan hingga ratusan sampel produk yang diperkenalkan, produk milik Syajaril menjadi salah satu yang terpilih.
“Tidak mudah sebenarnya bisa masuk ke ritel modern. Waktu itu ada kurang lebih 100 pelaku usaha yang memberikan contoh produk atau sampel. Puji Tuhan, usaha kami menjadi salah satu yang terpilih,” ungkap Syajaril dalam keterangan persnya, Selasa (23/9/2026).
Sejak saat itu, perjalanan usahanya memasuki babak baru. Produk yang sebelumnya lebih banyak dikenal di lingkungan sekitar, kini lebih mudah dijangkau masyarakat melalui jaringan toko Alfamidi.
Dampaknya pun mulai terasa. Setelah produknya masuk ke delapan gerai Alfamidi, omzet penjualannya meningkat sekitar 50 persen.
“Alhamdulillah, untuk mendapatkan produk kami, pelanggan atau pembeli sekarang tinggal datang ke Alfamidi terdekat dari rumah mereka,” ujarnya.
Bagi Syajaril, masuk ke ritel modern bukan sekadar soal peningkatan penjualan. Kesempatan tersebut menjadi dorongan untuk terus memperbaiki kualitas dan tampilan produknya.
Kemasan pun terus dikembangkan agar semakin menarik perhatian konsumen. Inovasi dilakukan tanpa meninggalkan karakter utama produknya sebagai olahan pangan yang menggunakan bahan baku lokal.
Salah satu produk unggulannya adalah basreng pedas. Produk ini memiliki cerita tersendiri karena bahan bakunya berasal dari lingkungan sekitar.
Ikan sebagai bahan dasar diperoleh dari kawasan Pesisir Lima Puluh, sementara cabai merah didatangkan dari Desa Lubuk Cuik, salah satu wilayah penghasil cabai di Batu Bara.
Dengan demikian, usaha yang dijalankan Syajaril tidak hanya menciptakan produk jadi, tetapi juga ikut menghubungkan potensi petani dan pelaku usaha lokal dalam satu mata rantai ekonomi.
Konsep tersebut semakin kuat karena Syajaril juga menekuni bidang pertanian. Ia mencoba menerapkan konsep “From Farm to Table”, yakni mengolah potensi hasil pertanian dan perikanan lokal menjadi produk yang dapat dinikmati masyarakat.
Dari bahan baku yang tumbuh dan dihasilkan di daerah sendiri, kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah dan dipasarkan melalui jaringan ritel modern.
Bagi Syajaril, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa UMKM daerah memiliki peluang untuk berkembang ketika mendapatkan akses pasar dan pendampingan yang tepat.
Ke depan, ia berharap kemitraan bersama Alfamidi dapat terus berkembang. Tidak hanya bertambah dari sisi jumlah gerai, tetapi juga mampu membawa produknya menjangkau wilayah lain di Sumatera Utara.
“Harapannya tentu produk kami bisa semakin luas pemasarannya dan menjangkau daerah lain. Kalau usaha semakin berkembang, kami juga bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja dari daerah sekitar,” katanya.
Kisah Syajaril menunjukkan bahwa produk lokal tidak harus meninggalkan daerah asalnya untuk bisa naik kelas. Dengan inovasi, konsistensi, bahan baku lokal, serta akses pasar yang lebih luas, produk dari pelosok daerah pun memiliki kesempatan untuk hadir di rak-rak ritel modern.
Melalui kemitraan dengan pelaku UMKM, Alfamidi terus membuka ruang bagi produk lokal untuk berkembang sekaligus memperluas akses pemasaran. Bagi pelaku usaha seperti Syajaril, kesempatan tersebut bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga tentang membawa potensi daerah menjadi bagian dari pasar yang lebih luas.
(NAI/NAI)











