Kulit Bawang Putih Diolah Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan di SMK Kesehatan

Kulit Bawang Putih Diolah Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan di SMK Kesehatan
Kulit Bawang Putih Diolah Jadi Tinta Spidol Ramah Lingkungan di SMK Kesehatan (Analisa/Istimewa)

Analisadaily.com, Palangka Raya - Limbah kulit bawang putih yang selama ini kerap dianggap sebagai sampah ternyata dapat dimanfaatkan sebagai bahan alternatif dalam pembuatan tinta spidol. Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan Universitas Palangka Raya (UPR) dan SMK Kesehatan Muhammadiyah Palangka Raya.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Agustus 2026 tersebut mengajak siswa tidak hanya mengenal pemanfaatan limbah organik, tetapi juga memahami proses pembuatan produk, penggunaan alat laboratorium, hingga dasar pemasaran dan pengelolaan usaha.

Tim pelaksana terdiri dari Fandi Tuju, S.Pd., M.Si. sebagai ketua pelaksana, serta Danna Solihin, S.E., M.Si. dan Dr. Vinsen Willi Wardhana, S.P., M.Si. sebagai anggota. Kegiatan tersebut juga melibatkan empat mahasiswa, yakni Ranny Purwandari, Fatma Puspita Sari, Norhusna, dan Shely Aulia Putri.

Mengapa Kulit Bawang Putih Bisa Menjadi Tinta?

Spidol dan papan tulis merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Namun, tinta spidol konvensional dapat mengandung berbagai bahan kimia yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya.

Salah satu kelompok bahan yang sering dikaitkan dengan tinta spidol adalah Volatile Organic Compounds (VOC). Beberapa formulasi tinta juga menggunakan pigmen berbasis karbon, seperti carbon black. Paparan terhadap senyawa tertentu dari tinta dan pelarut dapat menimbulkan gangguan seperti iritasi atau pusing, terutama apabila digunakan dalam kondisi dengan ventilasi yang kurang baik.

Karena itu, diperlukan edukasi mengenai alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan limbah yang tersedia di sekitar masyarakat. Salah satu alternatif yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah kulit bawang putih.

kegiatan foto bersama
Kulit bawang putih dapat diproses melalui pembakaran dengan suhu tinggi hingga menghasilkan karbon atau arang berwarna hitam. Karbon tersebut kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pigmen hitam dalam formulasi tinta.

Proses pembentukan arang dapat dilakukan dengan metode sederhana, seperti menyangrai kulit bawang putih menggunakan wajan dan kompor, atau menggunakan oven dengan suhu tinggi. Setelah menjadi arang, material tersebut dihaluskan menjadi bubuk agar lebih mudah dicampurkan ke dalam formulasi tinta. Pemanfaatan ini memiliki dua manfaat sekaligus. Pertama, mengurangi limbah organik yang berpotensi menumpuk dan dibuang ke lingkungan. Kedua, mengubah limbah menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Bagaimana Tinta Dibuat?

Arang kulit bawang putih bukan satu-satunya bahan yang digunakan. Agar dapat menghasilkan tinta yang dapat digunakan pada spidol, bubuk arang dicampurkan dengan beberapa bahan pendukung.

Formulasi yang diperkenalkan menggunakan akuades sebagai pelarut utama dan alkohol sebagai pelarut tambahan. Selain itu, digunakan gum arab sebagai bahan pengental dan polietilen glikol (PEG) sebagai stabilizer.

Setiap bahan perlu ditakar dengan tepat. Bahan berbentuk cair diukur menggunakan gelas ukur, sedangkan bahan berbentuk bubuk seperti gum arab dan arang kulit bawang putih ditimbang menggunakan timbangan analitik. Ketepatan takaran penting karena komposisi bahan dapat memengaruhi karakteristik tinta, seperti tingkat kekentalan, kestabilan campuran dan kemampuan tinta untuk digunakan pada media tulis.

kegiatan foto bersama
Dalam proses pencampuran, tim menggunakan hot plate magnetic stirrer, yaitu alat laboratorium yang dapat membantu mengaduk campuran secara lebih merata sekaligus menjaga proses pencampuran sesuai kebutuhan. Melalui proses tersebut, siswa diperkenalkan bahwa pembuatan suatu produk tidak hanya membutuhkan bahan baku, tetapi juga pengetahuan mengenai formulasi, pengukuran dan penggunaan alat secara tepat.

Siswa Belajar Langsung di Laboratorium

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 36 siswa kelas XI SMK Kesehatan Muhammadiyah Palangka Raya. Pemilihan siswa sebagai peserta bertujuan memberikan pengalaman praktik yang dapat mendukung keterampilan penggunaan peralatan laboratorium, khususnya peralatan yang berkaitan dengan pembelajaran Biologi dan Kimia.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai potensi kulit bawang putih sebagai sumber pigmen organik serta penjelasan mengenai formulasi tinta spidol. Setelah mendapatkan materi, siswa mengikuti praktik secara langsung. Mereka didampingi oleh dosen dan mahasiswa dalam setiap tahapan, mulai dari pengolahan bahan hingga proses pencampuran tinta.

Seluruh alat dan bahan telah disiapkan oleh tim pelaksana sehingga siswa dapat lebih fokus mengikuti proses praktik. Pendampingan dilakukan untuk memastikan penggunaan peralatan laboratorium dilakukan dengan benar dan aman. Tidak berhenti pada pembuatan produk, siswa juga mendapatkan pelatihan hingga tahap pengemasan. Dengan demikian, peserta memperoleh gambaran mengenai proses produksi secara lebih utuh, mulai dari bahan baku, pengolahan, hingga produk siap dipasarkan.

Belajar Menjadi Wirausaha

Aspek edukasi dalam kegiatan tersebut juga diperluas ke bidang kewirausahaan. Siswa diperkenalkan pada pentingnya manajemen usaha, branding dan pemasaran digital dalam mengembangkan sebuah produk. Produk yang memiliki manfaat lingkungan perlu memiliki identitas yang jelas agar dapat dibedakan dari produk sejenis. Karena itu, siswa diberikan pemahaman bahwa kemasan, nama produk, identitas visual dan informasi produk merupakan bagian penting dalam membangun branding.

Siswa juga diperkenalkan dengan pemasaran melalui e-commerce. Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan bahwa produk hasil kegiatan praktikum tidak hanya berhenti sebagai tugas sekolah, tetapi berpotensi dikembangkan menjadi produk usaha. Selain pemasaran, siswa dikenalkan dengan pentingnya pembukuan sederhana. Setiap biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi perlu dicatat dan dibandingkan dengan hasil penjualan untuk mengetahui kondisi keuangan dan potensi keuntungan usaha.

Dengan cara tersebut, siswa belajar bahwa sebuah produk membutuhkan lebih dari sekadar ide dan proses pembuatan. Pengelolaan produksi, pengemasan, pemasaran dan pencatatan keuangan juga menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha.

Kolaborasi Kampus dan Sekolah

Program ini terlaksana melalui pendanaan BIMA Kemdiktisaintek pada skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. Kegiatan menjadi bentuk kolaborasi antara UPR dan SMK Kesehatan Muhammadiyah Palangka Raya. Kolaborasi tersebut sekaligus membantu sekolah yang masih dalam proses melengkapi fasilitas laboratorium Biologi. Laboratorium yang pembangunannya relatif baru tersebut masih membutuhkan berbagai alat dan bahan untuk mendukung kegiatan praktikum.

Melalui program ini, sebagian alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan dapat memberikan pengalaman praktik kepada siswa sekaligus mendukung pemanfaatan fasilitas laboratorium sekolah. Bagi Universitas Palangka Raya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang Pengabdian kepada Masyarakat. Sementara bagi sekolah, kegiatan memberikan tambahan pengalaman praktik dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran.

Dari Limbah Menjadi Edukasi Lingkungan

Pemanfaatan kulit bawang putih sebagai pigmen tinta memberikan contoh sederhana bagaimana limbah rumah tangga dapat dipandang dari sisi yang berbeda. Bahan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sampah dapat diteliti, diolah dan dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi tertentu. Proses tersebut sekaligus menjadi sarana pembelajaran mengenai lingkungan, sains, teknologi dan kewirausahaan.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar membuat tinta spidol, tetapi juga memahami prinsip bahwa pengelolaan limbah dapat dilakukan melalui pendekatan guna ulang dan pemanfaatan sumber daya. Inovasi tinta spidol berbahan arang kulit bawang putih tersebut diharapkan dapat menjadi contoh produk edukatif yang menggabungkan keterampilan laboratorium, kepedulian terhadap lingkungan dan kreativitas kewirausahaan.

Kolaborasi antara Universitas Palangka Raya dan SMK Kesehatan Muhammadiyah Palangka Raya pun diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran dan inovasi lainnya, sehingga pemanfaatan limbah tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang munculnya produk-produk kreatif berbasis sumber daya lokal.

Poin penting yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana kegiatan ini dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan (eco-friendly) dan mengurangi limbah yang dibuang. Produk tinta spidol eco-friendly ini merupakan hasil kolaborasi UPR dan mitra terpilih dalam pengolahan limbah kulit bawang putih dan memiliki identitas kuat karena ramah lingkungan dan tentunya aman untuk Kesehatan manusia.

Melalui inovasi tersebut, kulit bawang putih tidak lagi sekadar dipandang sebagai limbah, tetapi dapat menjadi bahan yang memiliki nilai guna sekaligus media pembelajaran bagi siswa. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dipadukan dengan keterampilan sains, teknologi, dan kewirausahaan. Ke depan, pemanfaatan limbah menjadi produk ramah lingkungan diharapkan dapat terus dikembangkan, sehingga siswa semakin terbiasa melihat permasalahan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menciptakan solusi yang kreatif, bermanfaat, dan berkelanjutan.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi