Tragis, Pemanen Sawit di Dairi Tewas Tersengat Listrik Tegangan Tinggi, Tinggalkan Istri yang Sedang Hamil (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Sidikalang – Nasib naas dialami Marhabas Nasta Silaban (36), warga Desa Lae Panginuman, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemanen sawit ini tewas usai tersengat aliran listrik tegangan tinggi saat sedang bekerja di kebun milik Albiner Butar-Butar di Desa Lae Ambat pada Sabtu (3/10) sore.
Peristiwa tragis ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarganya, terlebih sang istri saat ini tengah mengandung buah hati mereka.
Kejadian bermula ketika korban sedang memanen buah kelapa sawit di pohon setinggi kurang lebih 10 meter. Kepala Desa Lae Ambat, Dortan Butar-Butar, mengonfirmasi insiden tersebut dan menjelaskan bahwa alat panen jenis egrek yang digunakan korban tanpa sengaja menyentuh kabel listrik PLN yang melintas di area perkebunan.
“Korban meninggal dunia akibat egrek yang dipakai menyentuh kabel listrik,” ujar Dortan.
Dortan menceritakan awal mula dirinya mengetahui insiden maut tersebut setelah melihat dua kendaraan melintas beriringan di depan rumahnya dengan membawa korban yang sudah berlumuran darah menuju Poskesdes setempat.
“Saya tanya, apa yang terjadi. Diterangkan, kena strum. Tanpa pikir panjang, saya minta menantu keluarkan mobil lalu larikan korban ke Puskesmas,” kata Dortan.
Guna memastikan penanganan medis cepat, Dortan juga berkoordinasi langsung dengan pihak kecamatan dan fasilitas kesehatan terdekat. Namun takdir berkata lain, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.
“Saya juga menghubungi Camat, Edwin Nababan dan petugas Puskesmas agar dipersiapkan pelayanan intensif. Namun, tak lama berselang, saya mendengar berita, telah meninggal dunia,” tutur Dortan.
Dortan menambahkan bahwa sebelum kejadian, pemilik kebun sebenarnya sudah memberikan peringatan agar tidak mengambil buah sawit yang berada terlalu dekat dengan tepi jalan dan jaringan listrik. Diduga karena ingin menambah penghasilan, korban tetap berupaya memanennya tanpa menyadari bahaya alat potongnya menyentuh kabel tegangan tinggi.
Duka mendalam juga dirasakan oleh warga tempat korban berdomisili. Kepala Desa Lae Panginuman, Sapri Amco Sitorus, mengungkapkan bahwa korban merupakan sosok pekerja keras yang merantau di desa mereka untuk menafkahi keluarga.
“Dia merantau di sini. Sehari-hari, kerjanya mendodos atau panen sawit. Terkadang sampai ke Tigalingga,” kata Amco.
Kondisi keluarga yang ditinggalkan kian memprihatinkan lantaran korban merupakan tulang punggung keluarga yang meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil, serta satu calon bayi yang masih di dalam kandungan.
“Istrinya lagi hamil,” kata Amco singkat namun penuh keprihatinan, mengonfirmasi kondisi keluarga almarhum.
Pihak kepolisian setempat telah turun tangan untuk menangani dan melakukan penyelidikan atas musibah ini. Kapolsek Parongil, Iptu Juni Putra Karosekali, membenarkan peristiwa tragis yang menimpa Marhabas Silaban tersebut dan mengonfirmasi bahwa jenazah telah disemayamkan di rumah duka.
“Saksi juga telah dimintai keterangan, atas nama Bistok Siregar,” kata Juni Putra.
(SSR/DEL)