Konversi Tanaman Diduga Salah Satu Penyebab Banjir Bandang Lau Petundal Dairi

Konversi Tanaman Diduga Salah Satu Penyebab Banjir Bandang Lau Petundal Dairi
Konversi Tanaman Diduga Salah Satu Penyebab Banjir Bandang Lau Petundal Dairi (Analisadaily/Ist)

Analisadaily.com, Sidikalang - Konversi tanaman keras menjadi tanaman semusim diduga salah satu penyebab banjir bandang di Dusun Lau Petundal, Desa Pamah, Kecamatan Tanah Pinem, Kabupaten Dairi.

Pandangan tersebut disampaikan Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Dairi, Erwin Sitorus, Minggu (1/11).

Dijelaskan, dulunya lahan pertanian di sekitarnya ditanami kemiri. Kawasan itu mirip hutan kemiri. Hamparan terbentang luas. Perakaran vegetasi ini memiliki daya ikat tanah tinggi. Dan, permukaan tanah ditumbuhi rerumputan segar.

Kini, areal di sana diganti menjadi tanaman semusim, khususnya jagung. Dari sisi penerimaan keuangan, hasil penjualan lebih tinggi. Tetapi dari aspek ekologi, berpotensi erosi dan sejenisnya. Realitasnya, budidaya jagung sudah sampai ke puncak bukit.

“Kita berharap, masyarakat mempertimbangkan kembali pemanfaatan lahan demi keselamatan lingkungan dan diri sendiri,” kata Erwin.

Dijelaskan, banjir bandang yang terjadi, Sabtu (31/10) sore diakibatkan hujan lebat. Sungai Lau Mbelin tidak mampu menampung luapan dari hulu. Aliran kemudian menyasar ke permukiman penduduk. Lalu serap tanah terhadap air tak sekuat dulu.

“Sungai tak mampu menampung luapan yang disertai material batu dan kayu hingga menyasar ke permukiman penduduk,” kata Erwin.

Dalam musibah kali ini, kata Erwin, sebanyak 16 keluarga terdampak. Diantaranya Nopradi Ginting, Andri Tarigan, Ambran Ginting, Jovi Tarigan dan Riduan Sambo.

Menurut Erwin, banjir bandang sedemikian bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan lebat menjadi ancaman. Dulu juga sudah mendera.

Karenanya, kata Erwin, dibutuhkan kajian, apakah relokasi diperlukan?

“Setiap hujan deras, potensi banjir bandang, tinggi. Jadi diperlukan kajian apakah relokasi menjadi alternatif,” kata Erwin.

Erwin mengatakan, dibutuhkan keterlibatan semua pihak guna melakukan investigasi. Ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat. yaitu Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Dinas Kehutanan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan perijinan.

Terpisah, Frengky Ginting menyebut, kerusakan terparah mendera keluarga Obet Tarigan (32) pengusaha kelontong dan warung kopi. Lantai rumah jatuh. Sebagian bangunan berubah mereng.

Sementara itu, pembangunan rumah milik Ambran Ginting tertunda, pekerjaan lantai semen disapu banjir.

“2 unit rusak parah,” kata Frengky.

(SSR/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi