Analisadaily.com, Aceh Tamiang - Hampir genap setahun setelah banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada 26 November 2025, jejak kehancuran masih terlihat di sejumlah sudut wilayah tersebut.
Selasa, 27 Oktober 2026 silam, mobil suzuki ertiga yang membawa kami tim analisadaily.com kembali mengaspal di Bumi Tamiang, butuh sekitar 45 menit perjalanan dari pusat kota Tamiang untuk menuju perkampungan rantau.
Tepat pukul 10.00 pagi kami tiba, guyuran hujan intensitas sedang kembali melanda seluruh kota, kami tak heran. Karena sehari sebelumnya prakiraan hujan sedang ini sudah tertera di ponsel pintar kami. Rasa rindu ingin bertemu warga terdampak banjir dan dan penyandang disabilitas binaan PT Pertamina EP Rantau menghilangkan risau kami akan ancaman banjir yang tahun lalu terjadi di akhir tahun seperti ini.
Tiba di menyusuri Jalan Rantau menuju lokasi, Lumpur yang mengering, bangunan yang belum sepenuhnya pulih, hingga titik-titik longsor menjadi pengingat betapa dahsyatnya bencana yang pernah melumpuhkan kehidupan masyarakat.
Di tengah kondisi itu, perlahan kehidupan mulai bangkit. Di Kampung Pertamina, Kecamatan Rantau, aktivitas operasional Pertamina EP Field Rantau kembali berjalan. Mesin-mesin pompa yang sempat terdiam selama tiga bulan kini kembali berputar. Sumur-sumur produksi yang terendam banjir mulai beroperasi normal sejak Februari 2026.
Banjir dengan ketinggian mencapai 4 hingga 4,5 meter sebelumnya merendam fasilitas produksi, instalasi pendukung, perkantoran, hingga pemukiman pekerja. Lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter menutup sejumlah fasilitas. Operasional minyak dan gas bumi pun sempat terhenti total.
Namun, pemulihan dilakukan secara bertahap melalui empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability. Dengan dukungan pekerja dari berbagai wilayah operasi Pertamina, fasilitas yang rusak dibersihkan, diperbaiki, dan diaktifkan kembali.
Hasilnya, dalam waktu sekitar empat bulan produksi minyak berhasil kembali ke performa awal. Bahkan, pada Mei dan Agustus 2026, produksi sempat mencapai 2.000 barel per hari. Saat ini, produksi stabil di kisaran 1.700 barel per hari. Pemulihan juga diiringi pengeboran lima sumur baru hingga Oktober 2026.
Bagi Aceh Tamiang, bangkitnya kembali aktivitas produksi bukan sekadar persoalan angka dan target perusahaan. Operasional migas menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah, melibatkan tenaga kerja, kontraktor, transportasi, penyedia jasa, hingga pelaku usaha kecil di sekitar wilayah operasi. Ketika mesin kembali menyala, denyut ekonomi yang sempat terhenti perlahan ikut bergerak.
Pengalaman banjir juga menjadi pelajaran penting tentang kesiapsiagaan. Pertamina EP Rantau kini memanfaatkan aplikasi Prewave untuk memantau cuaca, curah hujan, dan potensi kenaikan air sungai. Posko darurat serta simulasi penanganan bencana disiapkan agar pekerja lebih sigap menghadapi kemungkinan banjir berikutnya.
Upaya membangun ketangguhan juga menjangkau masyarakat rentan. Melalui program Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya (Digdaya), Pertamina memberikan pelatihan kebencanaan bagi penyandang disabilitas di Aceh Tamiang. Mereka dibekali pengetahuan menghadapi banjir, kebakaran, hingga keterampilan penyelamatan diri.
Erna dan Andri, dua penyandang disabilitas yang pernah mengalami langsung banjir bandang, menjadi bagian dari cerita kebangkitan tersebut. Berbekal pelatihan, Erna bahkan mampu membantu menyelamatkan ibunya yang telah lanjut usia saat bencana terjadi.
Kisah mereka menunjukkan bahwa bangkit bukan hanya tentang membangun kembali fasilitas yang rusak atau menghidupkan mesin produksi. Bangkit juga berarti mengembalikan keberanian, menumbuhkan kesiapsiagaan, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk melindungi diri serta orang-orang di sekitarnya.
Aceh Tamiang memang belum sepenuhnya pulih. Bayang-bayang banjir masih menyisakan kecemasan. Namun, di antara luka yang belum sepenuhnya sembuh, mesin-mesin kembali berputar, masyarakat kembali beraktivitas, dan harapan perlahan tumbuh.
Dari Rantau, energi itu kembali mengalir. Bukan hanya energi yang dihasilkan dari perut bumi, tetapi juga energi kebersamaan, kepedulian, dan semangat untuk bangkit. Sebab, banjir boleh merendam bumi Tamiang, namun tidak boleh menenggelamkan harapan untuk kembali berdiri.











