Berdaya di Tanah Rawan Bencana

Berdaya di Tanah Rawan Bencana
ENERGI YANG BANGKIT DARI LUKA: Erna, penyandang disabilitas di Aceh Tamiang dengan optimistis dibantu tongkatnya mengikuti pelatihan mitigasi bencana yang digelar PT. Pertamina EP Rantau bersama BPBD Aceh Tamiang mendirikan tenda. (Analisadaily/qodrat al qadri)

Analisadaily.com, Aceh Tamiang - Empat puluh menit meraba jalan di tengah gelap, lumpur, dan kepungan longsor. Dengan satu kaki, Erna harus menyelamatkan dirinya sekaligus ibunya yang telah renta. Setahun berlalu, perempuan itu kini justru belajar banyak dari program yang diberi nama Digdaya.

Gerimis menyelimuti Kampung Pertamina EP Rantau, Aceh Tamiang, Selasa (27/10/2026) pagi. Beberapa hari belakangan ini, cuaca di Tamiang memang sedang musim hujan. Meski gerimis, puluhan disabilitas yang bernaung dalam Satgas Digdaya tampak bersemangat mengikuti simulasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang. Mereka diajarkan cara mendirikan tenda saat bencana. Instruktur dari BPBD membagi mereka dalam beberapa tim. Satu tim terdiri dari empat orang.

Di hadapan mereka, tenda darurat masih terlipat rapi. Dengan aba-aba waktu 3, 2, 1, mereka langsung sigap merangkai tenda. Kain dibentangkan, tiang disusun rapi lalu setiap bagian disatukan dengan cekatan.

Tak banyak suara terdengar selain instruksi dan gesekan antartiang. Tangan-tangan mereka bekerja saling membantu. Ada yang memasang rangka, menarik tali, ada pula yang memastikan setiap sudut tenda berdiri kokoh. Tak sampai setengah jam, tenda itu pun tegak sempurna.

Pemandangan sederhana itu menyimpan makna, di tengah keterbatasan fisik yang dimiliki, mereka membuktikan bahwa kemampuan untuk bertahan dan menyelamatkan diri tidak ditentukan oleh kesempurnaan tubuh.

Salah seorang di antara mereka adalah Erna. Perempuan 46 tahun itu menyelesaikan simulasi dengan cekatan. Namun, di balik ketenangannya, tersimpan pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya. Setahun lalu, ketika banjir bandang dan longsor menerjang Aceh Tamiang, ia pernah terkurung kepungan tanah, berjuang mencari jalan keluar dengan hanya satu kaki. Ingatan itu belum benar-benar pergi.

Erna bercerita bahwa Rabu malam, 26 November 2025, sekitar pukul 19.00 WIB. Hujan masih turun deras ketika ia sedang duduk di ruang tamu rumahnya di Dusun Bukit Suling, Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang. Ia merasa tempat itu cukup aman, mengingat ruang tamu rumahnya tidak berbatasan langsung dengan bukit. Bagian rumah yang berdekatan dengan lereng justru ada di kamarnya. Namun, malam itu, rasa aman bisa runtuh dalam hitungan detik.

“Awalnya terdengar suara seperti benda berkelinting dari arah luar,” kata perempuan berdarah Aceh tersebut.

Ia mencoba mencari tahu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat bagian belakang rumahnya. Dinding kamar sudah hancur dihantam longsoran tanah. Bukit di belakang rumah seolah runtuh dan menyeret apa saja yang berada di bawahnya. "Begitu tahu longsor, kami langsung keluar," kenangnya.

Erna tidak sendiri. Ada ibunya yang telah berusia 68 tahun. Dalam keadaan panik, keduanya berusaha menyelamatkan diri. Saat keluar rumah, air sudah setinggi paha orang dewasa. Kanan dan kiri juga sudah tertumpuk tanah bekas longsor. Mereka berdua terus berlari mencari jalan yang aman. “Dengan lumpur tebal, saya cari jalan keluar dengan tongkat saya. Ibu saya dari belakang terus tarik baju daster saya. Karena kondisinya benar-benar gelap,” ucapnya berlogat Aceh.

Kaki kiri Erna telah diamputasi akibat kecelakaan ketika usianya 24 tahun. Sejak itu, ia menjalani hidup dengan satu kaki. Tetapi malam tersebut, tak ada waktu untuk meratapi keterbatasan. Di hadapannya hanya ada satu tujuan yakni membawa ibunya keluar dari kepungan longsor.

Mereka berjalan perlahan, tertatih-tatih, melewati air yang semakin tinggi. Sekitar 200 meter dari rumah, keduanya sempat hendak berlindung di rumah tetangga. Namun, mereka mengurungkan niat setelah melihat air yang terus naik. Bahkan, keberadaan pohon durian di sekitar lokasi kata Erna membuat mereka semakin khawatir. “Kata Ibu saya pohon durian itu mau tumbang, jadi cari saja yang lebih aman. Akhirnya saya cari tempat yang lebih aman,” katanya.

Keduanya terus bergerak. Meninggalkan rumah, menaiki bukit, mencari tempat yang lebih tinggi. Sekitar 40 menit dibutuhkan untuk menemukan lokasi yang membuat meraka aman. Malam itu, Erna bukan hanya berjuang menyelamatkan dirinya sendiri. Ia juga menjadi tumpuan keselamatan ibunya.

Di tengah bencana yang membuat banyak orang kehilangan arah, seorang perempuan dengan satu kaki harus memastikan dua nyawa tetap selamat. Tiga bulan mereka mengungsi karena kondisi rumahnya yang hancur. Tidur gelap-gelapan dan tak pernah merasa aman. Dan sekarang ia kembali ke rumahnya yang hancur. Ia kembali tinggal di sana dan memperbaikinya dengan keterbatasan. Karena tidak ada pilihan lain lagi dengan keterbatasan uang yang mereka miliki selain kembali tinggal di sana.

"Kalau lihat cuaca seperti ini hujan kembali turun terus-menerus, saya masih trauma. Cuma kita serahkan saja kepada Allah,” katanya.

Bukan hanya hujan deras yang membuatnya gelisah. Angin kencang pun bisa membangkitkan kembali ingatannya pada bencana besar tahun lalu.

Siaga

Kini, Erna sudah lebih bersiaga. Ketika bencana datang ia harus lebih siap. Ia sudah menyiapkan tas siaga bencana. Berkas-berkas penting pun telah disiapkannya sejak awal. Pengetahuan itu diperolehnya dari pelatihan Program Digdaya yang diinisiasi oleh PT Pertamina EP (PEP) Rantau Field. Erna sendiri tergabung dalam Satuan Tugas Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya (Satgas Digdaya).

Baginya, pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan simulasi. Ia belajar mengenali ancaman di sekitar tempat tinggal, memahami tanda-tanda bahaya, serta menyiapkan dokumen penting sebelum bencana datang. Pengetahuan itu membuatnya lebih waspada, terutama karena rumahnya berada di kawasan rawan longsor.

Sebab, di tanah yang pernah menelannya dalam kepungan lumpur, kewaspadaan kini menjadi bagian dari ikhtiar untuk tetap hidup. Harapannya sederhana. Pemerintah dan pihak terkait dapat membantu menyediakan alat berat untuk merapikan kawasan tempat tinggalnya agar lebih aman. Ia ingin kampungnya kembali tertata, tanpa harus terus dihantui ancaman longsor setiap kali hujan turun.

Pengalaman serupa juga dialami Andri, penyandang disabilitas tuna daksa yang telah hidup dengan keterbatasan fisik sejak kecil. Ketika banjir besar datang pada 26 November 2025, rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer dari sungai terendam sepenuhnya. Air masuk dan memenuhi setiap sudut rumah. Dalam situasi yang serba terbatas, Andri tidak memiliki banyak pilihan untuk menyelamatkan diri.

Malam itu, ia harus digendong oleh ayah dan tetangganya untuk meninggalkan rumah. Tubuhnya yang memiliki keterbatasan gerak membuat proses evakuasi tidak mungkin dilakukan seorang diri.

Di tengah kepanikan, ia menyadari betapa sulitnya menjadi penyandang disabilitas ketika bencana datang. Saat orang lain bisa berlari mencari tempat aman, dirinya harus menunggu bantuan orang lain. “Tapi lewat pelatihan Digdaya ini, saya diajarkan untuk lebih mandiri dan banyak mendapatkan pengetahuan saat bencana,” ujarnya.

Lewat pelatihan program di Digdaya, ia mulai memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika bencana datang. Ia juga belajar bahwa penyandang disabilitas tidak harus selalu berada di posisi menunggu pertolongan. Mereka perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, dan keberanian agar mampu mengambil keputusan dalam situasi darurat.

Cerita Erna dan Andri memperlihatkan bahwa bencana tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur. Bencana juga membuka kenyataan bahwa kelompok rentan menghadapi risiko yang jauh lebih besar ketika akses informasi, komunikasi, dan evakuasi terputus.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki tubuh sempurna. Penyandang disabilitas juga harus mendapat ruang, pengetahuan, dan kesempatan yang sama untuk menyelamatkan diri.

Menjadi Kelompok Berdaya

Kesadaran itulah yang menjadi dasar lahirnya Program Digdaya. Di wilayah seperti Aceh Tamiang, yang hampir setiap tahun berhadapan dengan ancaman banjir dan di sejumlah titik juga rawan longsor, kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Program yang dijalankan Pertamina EP Rantau sejak 2024 tersebut berangkat dari upaya panjang pemberdayaan penyandang disabilitas. Community Development Officer Pertamina EP Rantau, Yosia Cesio menjelaskan, langkah pemberdayaan sebenarnya telah dimulai sejak 2021 melalui Rumah Kreatif Aceh Tamiang. Saat itu, penyandang disabilitas diarahkan agar mandiri secara ekonomi dan memiliki kompetensi usaha melalui pengembangan usaha inklusi coffee dan bengkel disabilitas.

Setelah memiliki bekal kemandirian ekonomi, perhatian kemudian diarahkan pada persoalan lain yang tak kalah penting, yakni keselamatan mereka ketika bencana datang.

Aceh Tamiang memiliki siklus bencana yang berulang. Banjir kerap melanda, sementara penyandang disabilitas termasuk kelompok yang paling berisiko ketika proses evakuasi harus dilakukan dalam waktu singkat.

"Teman-teman disabilitas ini selalu menjadi korban ketika bencana. Karena itu, kami mendata mereka dan memberikan pelatihan agar lebih tangguh menghadapi bencana," ujar Yosia.

Melalui program Digdaya, mereka tidak hanya dibekali pengetahuan mengenai mitigasi, tetapi juga keterampilan menghadapi situasi darurat hingga pemulihan pascabencana. Pelatihan dilakukan secara bertahap, disertai simulasi agar peserta tidak sekadar memahami teori, tetapi mampu mempraktikkannya.

Hingga kini, ada 21 penyandang disabilitas di Aceh Tamiang yang tergabung dalam Satgas Digdaya. Enam di antaranya merupakan penyandang tuna rungu, sedangkan 15 lainnya penyandang tuna daksa.

Sejak 2024, program ini telah melaksanakan dua pelatihan dan satu simulasi. Pada 2025, kembali dilakukan dua pelatihan dan satu simulasi mitigasi. Sementara pada 2026, terdapat empat pelatihan dan satu simulasi. “Termasuk pelatihan mendirikan tenda hari ini,” katanya.

Bagi Pertamina, keberhasilan program ini bukan semata-mata diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Hal terpenting adalah bagaimana pengetahuan tersebut benar-benar digunakan ketika bencana terjadi.

Banjir November 2025 menjadi ujian nyata. Sejumlah anggota Satgas Digdaya, terutama yang berada di wilayah Desa Tenggulun, Aceh Tamiang ikut bergerak ketika akses terputus. Mereka berupaya mencari jalan untuk mendapatkan pertolongan dan membuka komunikasi dengan pihak luar.

Erna yang berhasil keluar dari kepungan longsor sambil menyelamatkan ibunya menjadi salah satu gambaran bagaimana pengetahuan dan kesiapsiagaan dapat berarti sangat besar dalam situasi hidup dan mati. "Pengalaman itu menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan tidak berhenti sebagai teori. Mereka benar-benar bisa mengaplikasikannya ketika bencana terjadi," kata Yosia.

Kelas Berdaya

Digdaya juga terus dikembangkan agar tidak berhenti pada pelatihan bagi penyandang disabilitas. Pertamina mulai memperluas jangkauan melalui kolaborasi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) di Aceh Tamiang, mulai tingkat taman kanak-kanak.

Salah satu program yang dikembangkan adalah Kelas Berdaya. Melalui program ini, anggota Satgas Digdaya dilibatkan sebagai narasumber dan pendamping dalam kegiatan pembelajaran, terutama ketika materi berkaitan dengan lingkungan dan kebencanaan.

Anak-anak berkebutuhan khusus juga mendapatkan kesempatan mengikuti simulasi bencana secara langsung bersama BPBD dan Satgas Digdaya. Dengan begitu, pemahaman mengenai keselamatan tidak hanya diperoleh melalui penjelasan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman praktik.

Ke depan, Pertamina berencana memperluas pemberdayaan dengan memperkuat kemampuan komunikasi para anggota satgas. Mereka akan dibekali pemahaman dan keterampilan menggunakan sarana komunikasi alternatif selain telepon seluler, termasuk radio, sehingga dapat menjadi penghubung informasi antara warga dan posko-posko penanganan bencana. Harapannya, ketika jaringan telepon dan internet kembali terputus, mereka tetap memiliki saluran untuk memperoleh maupun menyampaikan informasi.

Langkah Pemerintah Daerah

Mitigasi menghadapi bencana di Aceh Tamiang bukan hanya dilakukan oleh Pertamina, melainkan juga dilakukan pemerintah daerah (Pemda) Aceh Tamiang. Upaya membangun kesiapsiagaan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, merupakan pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Aceh Tamiang, Juli Darmabakti menilai pelatihan seperti Digdaya memiliki arti penting karena memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk mengembangkan kemampuan dan mengambil peran di tengah masyarakat.

Menurutnya, pembinaan tidak boleh hanya membuat mereka mampu menyelamatkan diri sendiri. Pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat dikembangkan untuk melindungi keluarga, bahkan membantu masyarakat di sekitarnya.

"Minimal mereka mampu berdiri di tengah masyarakat, tidak hanya menjadi penonton. Kita bina agar mereka memiliki kemampuan yang sama. Mereka juga bisa mendirikan tenda dan bahkan memimpin ketika terjadi bencana," ujarnya.

Ia menyebutkan, BPBD menyambut baik pelaksanaan program tersebut karena sejalan dengan tanggung jawab pemerintah dalam memberikan informasi, pembinaan, dan keterampilan kepada masyarakat untuk menghadapi bencana.

Pengalaman banjir tahun lalu menjadi pengingat bahwa informasi dan komunikasi merupakan bagian penting dari keselamatan. Ketika listrik padam dan jaringan telepon terputus, masyarakat membutuhkan saluran lain untuk mengetahui perkembangan situasi.

“Karena itu, BPBD tengah memperkuat sistem komunikasi melalui radio yang terhubung dengan organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (ORARI). Pemancar telah dipasang di kawasan Pertamina dan akan menjadi bagian dari jaringan komunikasi kebencanaan,” ujar Juli.

Setiap pukul 20.00 WIB, dilakukan apel udara melalui radio di Aceh Tamiang. Kegiatan ini menjadi sarana menyampaikan laporan dan informasi harian mengenai kondisi Aceh Tamiang, termasuk perkembangan cuaca, kenaikan debit air, hingga tingkat kewaspadaan di setiap wilayah.

Informasi tersebut diharapkan dapat menjangkau masyarakat yang tidak memiliki akses media sosial maupun jaringan internet. Jika situasi dinyatakan berbahaya, informasi akan diteruskan kepada pemerintah kecamatan dan menjadi bahan bagi pemerintah daerah untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk imbauan maupun evakuasi warga. “Kalau bahaya nanti Pak Bupati buat kebijakan kemudian diteruskan ke camat biar dengan cepat mengambil tindakan,” ujarnya.

BPBD juga merencanakan agar penyandang disabilitas mendapatkan fasilitas radio sehingga mereka tidak tertinggal dalam menerima informasi kebencanaan. Selain itu, masyarakat diminta lebih aktif memantau informasi resmi dari BPBD dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mereka juga harus memiliki tas siaga bencana yang berisi kebutuhan darurat serta dokumen penting keluarga.

125 Titik Evakuasi

Dari sisi kesiapan wilayah, BPBD telah mendata 125 titik evakuasi dan sekitar 70 titik tempat evakuasi yang dilengkapi dengan buffer stock atau persediaan kebutuhan dasar. Lokasi tersebut disiapkan agar masyarakat memiliki tempat perlindungan dan kebutuhan awal selama masa tanggap darurat, termasuk persediaan untuk tujuh hari ke depan.

Aceh Tamiang memiliki 12 kecamatan dengan karakteristik ancaman bencana yang berbeda. Jika banjir hampir menjadi ancaman bagi sebagian besar wilayah, longsor juga perlu diwaspadai di kawasan tertentu.

Sejumlah posko kecamatan turut disiapkan dengan dukungan panel surya agar tetap dapat beroperasi ketika pasokan listrik terputus. Posko-posko tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan penyebaran informasi saat keadaan darurat.

Ia berharap keterlibatan dunia usaha, perusahaan besar, dan BUMN lainnya dapat semakin ditingkatkan. Menurutnya, mitigasi bencana tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan kerja sama seluruh elemen agar masyarakat memiliki kemampuan menghadapi ancaman yang sewaktu-waktu bisa datang. Sebab, di Aceh Tamiang, bencana bukan cerita yang hanya hidup dalam ingatan. Ia bisa kembali hadir bersama hujan yang turun berhari-hari, air sungai yang meluap, atau tanah bukit yang tiba-tiba bergerak.

Pagi itu, tenda yang didirikan Erna dan tiga rekannya akhirnya berdiri kokoh. Mereka mungkin memiliki keterbatasan fisik, tetapi tidak dengan tekad dan kemampuan mereka untuk bertahan.

Penulis:  Nirwansyah Sukartara
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi