Bangkit dari Luka, Tamiang: Energi yang Tak Pernah Padam

Bangkit dari Luka, Tamiang: Energi yang Tak Pernah Padam
Suasana operasional sumur minyak milik Pertamina EP Rantau di Aceh Tamiang (Analisadaily/nirwansyah sukartara)

Analisadaily.com, Aceh Tamiang - Jejak banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang pada 26 November 2025 lalu terlihat masih membekas ketika kaki menginjakan Kampung Pertamina yang terletak di Kecamatan Rantau, Aceh Tamiang, Selasa (27/10/2026) pagi. Sekitar empat kilo meter sebelum tiba di kawasan operasional perminyakan milik Pertamina EP Field Rantau ini, beberapa titik longsor masih dijumpai yang menandakan betapa dahsyatnya bencana yang melanda daerah itu. Salah satunya titik longsor yang berada di kawasan Desa Bukit Suling Kecamatan Rantau. Begitu juga di sejumlah sudut daerah yang pernah luluh lantak diterjang air bah tersebut, sisa-sisanya masih terlihat. Seperti lumpur mengering, bangunan belum sepenuhnya pulih, termasuk di dalam Kampung Pertamina. Masih ada kantor dan rumah karyawan yang belum ditempati.

Namun, di balik lanskap yang belum sepenuhnya pulih itu, ada denyut kehidupan yang mulai kembali berdetak. Sekitar 5 menit dari Kampung Pertamina, kawasan Sumur P.192 dan P.399 milik Pertamina EP Rantau sudah berjalan seperti sebelum bencana terjadi. Suara mesin-mesin pompa kembali terdengar. Peralatan produksi yang sempat terdiam tiga bulan setelah bencana kini mulai bekerja. Februari 2026, sumur yang telah beroperasi sejak tahun 1970 ini sudah kembali bekerja normal. Aktivitas para pekerja pun kembali terlihat. Seolah-olah kawasan itu sedang mengirimkan pesan bahwa kehidupan tidak boleh berhenti terlalu lama, sekalipun bencana pernah memaksanya terhenti.

Pemandangan di sekitar sumur memang masih menggambarkan bahwa tempat ini pernah menjadi saksi bisu bagaimana air pernah menguasai kawasan tersebut. Bekasnya masih menempel di dinding cat tenda petugas yang terbuat dari petikemas. Tetapi, mesin-mesin produksi sudah kembali berputar.

Di kawasan itu terdapat dua sumur dengan fungsi berbeda. Sumur P.399 merupakan sumur produksi, sedangkan P.192 merupakan sumur injeksi. Keduanya menjadi bagian penting dalam mendukung kegiatan operasi minyak dan gas bumi Pertamina EP Rantau. Di sekitar lokasi, keberadaan RIG pengeboran juga menjadi gambaran bahwa perusahaan tidak sekadar memperbaiki apa yang rusak, tetapi juga mulai melangkah untuk melanjutkan kegiatan operasionalnya. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, kawasan ini nyaris tidak menyisakan aktivitas produksi.

Ketika banjir bandang datang pada akhir November 2025, air bah dengan ketinggian mencapai 4 hingga 4,5 meter merendam berbagai fasilitas operasi Pertamina EP Rantau. Peralatan produksi, instalasi pendukung, perkantoran hingga permukiman pekerja ikut terdampak. Lumpur setebal 30 hingga 80 sentimeter menutup sejumlah fasilitas.

Peralatan yang selama ini menjadi tulang punggung produksi minyak terendam. Mesin-mesin tidak lagi bisa dioperasikan. Kegiatan produksi pun terhenti total. Kerusakan berbagai fasilitas tersebut menimbulkan kerugian hingga miliaran rupiah. Bukan hanya kerugian perusahaan yang menjadi persoalan. Berhentinya operasi juga membawa dampak lebih luas bagi kehidupan masyarakat Aceh Tamiang.

Sebab, kegiatan industri migas di wilayah ini memiliki keterkaitan dengan denyut ekonomi daerah. Aktivitas pekerja, kebutuhan logistik, transportasi, jasa, hingga berbagai kegiatan ekonomi masyarakat ikut bergerak seiring berjalannya operasi perusahaan.

Ketika sumur-sumur minyak berhenti berproduksi, aktivitas di sekitarnya turut kehilangan tenaga. Apalagi, saat bencana datang, bukan hanya kawasan operasi Pertamina yang lumpuh. Jalan, permukiman, pasar, dan berbagai fasilitas masyarakat juga ikut terdampak. Warga harus berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar, sementara roda perekonomian seolah berhenti berputar. Kini, hampir setahun setelah bencana, keadaan mulai berubah. Mesikpun masyarakat Aceh Tamiang masih trauma dengan kejadian tersebut.

Menghidupkan kembali energi

Bagi Pertamina EP Rantau, memulihkan operasi bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Ada banyak fasilitas yang harus diperiksa, dibersihkan, diperbaiki, bahkan dibangun kembali sebelum bisa difungsikan.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan perusahaan melakukan pemulihan secara bertahap melalui empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability.

Pada fase emergency, prioritas utama kata Tomi adalah memastikan keselamatan pekerja sekaligus memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, kesehatan, dan listrik. Setelah kondisi mulai terkendali, perusahaan beralih ke tahap reactivation untuk mengaktifkan kembali fasilitas-fasilitas penting dan sumur produksi.

Memasuki Februari 2026, upaya menghidupkan kembali mesin-mesin sumur mulai dilakukan secara bertahap. Satu per satu fasilitas yang sebelumnya terendam diperiksa dan direaktivasi. Pekerjaan itu tidak hanya membutuhkan perbaikan teknis, tetapi juga ketelitian untuk memastikan seluruh peralatan dapat kembali beroperasi dengan aman. Perlahan, hasilnya mulai terlihat.

Khusus di kawasan Sumur P.192 dan P.399, tingkat pemulihannya kini telah mencapai sekitar 95 persen untuk kembali beroperasi seperti semula. Mesin-mesin yang sebelumnya terdiam kini kembali menjalankan fungsinya.

Sementara secara keseluruhan, dalam waktu sekitar empat bulan, produksi minyak Pertamina EP Rantau berhasil kembali ke performa awal. Bahkan, pada Mei dan Agustus 2026, produksi sempat menyentuh 2.000 barel per hari, lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum banjir. Saat ini, produksi berada pada angka stabil sekitar 1.700 barel per hari.

"Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi, perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik," ujar Tomi.

Salah satu tantangan terbesar yang harus diselesaikan saat pemulihan adalah menghidupkan kembali pembangkit listrik. Bagi Pertamina EP Rantau, listrik ibarat jantung yang menggerakkan seluruh kegiatan operasional.

Ketika listrik mati, persoalannya bukan hanya mesin produksi yang berhenti. Pasokan air bersih juga terganggu karena instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) ikut terendam. Pompa-pompa tidak bisa bekerja, sementara fasilitas lain yang membutuhkan energi listrik juga tidak dapat difungsikan.

Situasi semakin sulit karena High Pressure Compressor Station (HPCS), yang sebelumnya menjadi sumber tunggal pasokan gas untuk pembangkit listrik, mengalami kerusakan berat akibat banjir.

Tim kemudian melakukan berbagai analisis untuk menemukan alternatif. Mereka akhirnya memutuskan memanfaatkan Stasiun Pengumpul (SP)-5 dengan sejumlah modifikasi agar dapat mengambil alih fungsi HPCS. Pasokan gas kemudian didukung pula oleh SP-1.

Inovasi dan gotong royong

Inovasi tersebut menjadi salah satu kunci percepatan pemulihan. Tanpa menunggu seluruh fasilitas lama kembali normal, perusahaan mencari jalan lain agar sistem kelistrikan bisa beroperasi kembali.

"Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu," katanya.

Kebersamaan lintas wilayah operasi itu menjadi gambaran bagaimana menghidupkan ekonomi Tamiang kembali. Ia yakin bahwa pemulihan tidak hanya mengandalkan kekuatan satu lapangan. Ada tangan-tangan pekerja dari berbagai daerah yang ikut membantu mengembalikan denyut operasi di Aceh Tamiang.

Bahkan, di tengah situasi pemulihan, Pertamina EP Rantau tetap melanjutkan pengeboran sumur baru. Hingga Oktober 2026, perusahaan telah melakukan tajak lima sumur, yakni RNT DZ-51, RNT DZ-52, RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemulihan tidak berhenti pada mengembalikan kondisi seperti sebelum bencana. Perusahaan juga berupaya menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan keberlanjutan produksi.

Energi yang tak pernah padam

Selama puluhan tahun, aktivitas produksi minyak di Aceh Tamiang sudah beroperasi. Sekitar 80 lebih Sumur hadir untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Kehadirannya juga turut menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan banyak pihak, mulai dari tenaga kerja, kontraktor, penyedia jasa, transportasi hingga pelaku usaha kecil di sekitar wilayah operasi.

Karena itu, ketika sumur-sumur berhenti beroperasi akibat banjir, dampaknya terasa lebih luas daripada sekadar hilangnya produksi minyak. Ada mata rantai ekonomi yang ikut terputus.

Sebaliknya, ketika mesin-mesin kembali menyala, aktivitas yang sebelumnya terhenti perlahan mulai bergerak. Pekerja kembali menjalankan tugasnya, kebutuhan operasional mulai terpenuhi, dan berbagai kegiatan pendukung kembali mendapatkan ruang untuk tumbuh.

Produksi dari sumur minyak di Aceh Tamiang menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat. Minyak yang dihasilkan tidak hanya memiliki arti bagi Aceh Tamiang, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok energi yang menopang kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.

Di sinilah makna pemulihan menjadi lebih luas. Menghidupkan kembali sumur bukan semata-mata soal mengejar angka produksi, melainkan juga mengembalikan salah satu sumber penggerak ekonomi dan menjaga keberlanjutan pasokan energi.

Mitigasi

Namun, pengalaman diterjang banjir besar menyisakan pelajaran yang tidak kecil bagi Aceh Tamiang. Pulih saja ternyata tidak cukup. Ada kebutuhan untuk memastikan bahwa ketika bencana serupa datang kembali, kerusakan dan dampaknya dapat diminimalkan.

Terlebih, hingga kini masyarakat Aceh Tamiang masih dihadapkan pada ancaman banjir. Setiap kali hujan deras turun dan debit sungai meningkat, ingatan terhadap peristiwa akhir November 2025 kembali hadir. “Ini kembali was-was sebenarnya. Karena sudah mulai musim hujan kembali. Dua minggu ini air kembali naik,” ujar Pengawas Sumur dari Pertamina EP Rantau, Jefriko Rinaldi.

Bagi warga Tamiang, suara hujan tidak lagi sekadar pertanda pergantian cuaca. Ada kecemasan yang menyertainya. Mereka masih bertahan, kembali membangun kehidupan, tetapi bayang-bayang banjir belum sepenuhnya hilang. Kondisi serupa juga dirasakan para pekerja Pertamina EP Rantau.

Pengalaman banjir sebelumnya membuat perusahaan menyadari bahwa kesiapsiagaan harus dimulai sebelum air datang. Bukan setelah fasilitas kembali terendam dan aktivitas produksi kembali terhenti.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah memanfaatkan teknologi untuk memantau kondisi cuaca dan potensi ancaman banjir. Pertamina EP Rantau mewajibkan para pekerjanya mengunduh aplikasi Prewave di telepon seluler masing-masing. Platform ini menjadi panduan petugas harian di lapangan Pertamina untuk melihat kondisi cuaca agar mereka bisa memitigasi area risiko aliran sungai seperti memantau proyek operasional yang berdekatan dengan aliran yang riskan meluap saat terjadi hujan deras. Begitu juga bisa memantau curah hujan yang tinggi.

“Jadi ini salah satu mitigasi kita petugas di lapangan. Jika ketinggian air masih di bawah 100 sentimeter, kondisi dinyatakan normal. Ketika mencapai lebih dari 130 sentimeter, pekerja harus mulai meningkatkan kewaspadaan dan bersiaga. Sementara itu, ketika ketinggian air mencapai 131 sentimeter atau lebih, status ditetapkan sebagai awas,” kata Jefriko.

Syukurnya, sejauh ini masih dalam keadaan aman. “Tapi namanya bencana kita gak pernah tahu dan prediksi. Intinya kalau menunjukan siaga, kita bisa lebih siap untuk memitigasi,” katanya. Apalagi sumur mereka jaraknya hanya satu kilometer dari Sungai Tamiang.

Informasi mengenai perkembangan ketinggian air menjadi penting karena dapat menjadi dasar bagi petugas untuk mengambil langkah lebih cepat. Dengan adanya sistem pemberitahuan, pekerja tidak harus menunggu sampai air mendekati kawasan sumur untuk melakukan persiapan.

“Perusahaan juga telah menyiapkan posko penanganan darurat apabila banjir kembali terjadi. Sejumlah simulasi telah dilakukan untuk memastikan setiap pekerja memahami prosedur yang harus dijalankan ketika status kedaruratan meningkat,” ucapnya.

Pertamina Lindungi Kaum Rentan

Bukan hanya melakukan mitigasi di lingkungannya, Pertamina EP Rantau juga membantu kaum rentan yakni difabel yang ada di Aceh Tamiang untuk memitigasi bencana lewat program Difabel Siaga Tanggap Bencana dan Berdaya (Digdaya). Program ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi situasi darurat bencana.

Ada puluhan difabel yang mendapat simulasi kebencanaan. Seperti, pemasangan tenda bencana, pembekalan saat menghadapi banjir, kebakaran hingga pembekalan materi dari BPBD Aceh Tamiang.

Erna dan Andri adalah dua penyandang disabilitas yang ikut merasakan manfaatnya. Bahkan keduanya merasakan langsung dahsyatnya banjir bandang Aceh Tamiang pada akhir 2025. Mereka berhasil selamat dari bencana tersebut. Namun, pengalaman itu menyisakan pelajaran tentang betapa pentingnya kemampuan menyelamatkan diri, terutama bagi penyandang disabilitas yang dalam situasi darurat sering kali membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus. “Sangat berguna sekali sehingga kemarin saat bencana semua ilmunya terpakai. Bahkan saya yang bertongkat masih bisa menolong ibu saya yang sudah lansia,” ujar Erna.

Ada perubahan penting dari pengalaman tersebut. Jika sebelumnya mereka mungkin lebih banyak dipandang sebagai pihak yang harus diselamatkan ketika bencana terjadi, kini mereka justru memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk ikut membantu keluarga mempersiapkan diri.

Pelatihan itu menjadi bekal berharga, bukan hanya bagi Erna dan Andri, melainkan juga bagi orang-orang terdekat mereka. Sebab, dalam situasi bencana, keselamatan tidak selalu ditentukan oleh seberapa kuat seseorang secara fisik. Pengetahuan, kesiapan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan memahami langkah penyelamatan juga menjadi hal yang sangat menentukan.

Kisah Erna dan Andri sekaligus mengingatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah, jalan, atau fasilitas yang rusak. Ada hal lain yang harus dipulihkan, yakni rasa aman, kepercayaan diri, dan kemampuan masyarakat untuk menghadapi ancaman serupa. Sebab, bencana tidak memilih siapa yang akan terdampak. Maka, kesiapsiagaan pun harus dimiliki semua orang.

Harapan

Banjir besar akhir 2025 memang meninggalkan luka mendalam bagi Aceh Tamiang. Rumah-rumah terendam, jalan terputus, fasilitas umum rusak, dan mata pencaharian masyarakat terganggu. Tetapi, waktu juga memperlihatkan bahwa kehidupan memiliki kemampuan untuk kembali tumbuh, selama ada kemauan untuk bangkit dan saling menguatkan.

Di Desa Kebun Rantau, suara mesin pompa sumur minyak yang kembali bekerja menjadi salah satu tanda pemulihan itu. Dari sumur-sumur minyak yang pernah tenggelam, energi kembali diproduksi. Dari fasilitas yang sempat lumpuh, aktivitas perlahan dihidupkan. Sementara di tengah masyarakat, Erna dan Andri mulai membagikan pengetahuan yang mereka peroleh kepada keluarga. Mereka kini memiliki bekal untuk menghadapi kemungkinan banjir berikutnya. Sebuah langkah kecil yang memiliki arti besar bagi keselamatan orang-orang terdekat.

Memang, Aceh Tamiang belum sepenuhnya pulih. Bekas longsoran masih dijumpai di perjalanan. Sisa genangan masih membekas di sejumlah bangunan. Dan setiap kali hujan turun, kekhawatiran akan banjir kembali muncul. Namun, ada sesuatu yang berbeda dibandingkan hari-hari ketika bencana melumpuhkan semuanya. Kini, masyarakat dan para pekerja tidak hanya berusaha memperbaiki kerusakan, tetapi juga belajar mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Dari bencana yang mereka hadapi, harapan untuk bangkit terus mereka nyalakan.

Penulis:  Nirwansyah Sukartara
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi