"Dulu tangan ini yang menebang, sekarang tangan ini pula yang harus memulihkannya."
Kalimat itu meluncur lirih dari mulut Kasto Wahyudi. Tatapannya menyapu hamparan mangrove yang menghijau di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Sabtu (24/10/2026). Ada penyesalan yang tak sepenuhnya bisa diungkapkan dengan kata-kata oleh Kasto pagi itu, tetapi dari penyesalan itu ternyata ada kebahagiaan untuk Desa Pasar Rawa saat ini.
Di atas bangku kayu, ia kembali memandang panorama mangrove di Ekowisata Pasar Rawa yang berjarak lebih kurang 60 kilometer dari Kota Medan. Di depan ia duduk, anak-anak sekolah dan beberapa pengunjung berlalu lalang menikmati hijaunya mangrove. Kasto melihat bahwa kondisi Pasar Rawa saat ini tak lagi sesenyap dahulu. Belasan tahun lalu, kawasan ini lebih akrab dengan lumpur yang pekat, banyak batang-batang mangrove yang tumbang dan ramainya kepulan asap dari dapur pembakaran arang. Sekarang deretan mangrove tumbuh di sepanjang aliran air. Menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang. Jalur susur mangrove mengundang pengunjung menikmati kesejukan alamnya. Di tambah lagi ada homestay yang sudah mulai beroperasi. Homestay ini membuka kesempatan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama di Desa Pasar Rawa menyaksikan kehidupan pesisir dari dekat.
“Dahulu orang-orang datang ke desa ini untuk membeli arang dari kayu bakau yang ditebang, berbeda dengan sekarang,” kata Kasto sambil mengenang.
Di antara suara percakapan pengunjung dan desir angin yang menyentuh dedaunan, pria berusia 47 tahun ini akhirnya menemukan arti baru dari kehidupannya. Alam yang dahulu ia rusak kini justru menjadi sumber rezeki bagi dirinya dan masyarakat Desa Pasar Rawa.
Di balik hijaunya mangrove Desa Pasar Rawa saat ini, tersimpan kisah masa lalu ia yang kelam. Kisah tentang seorang lelaki yang pernah ikut menghitamkan laut, sebelum akhirnya memilih jalan untuk bertobat. Kasto sadar mangrove-mangrove itu seharusnya menjadi benteng alami pesisir, tapi ia tebang secara besar-besaran bersama warga desa lainnya. Pohon-pohon bakau yang tumbuh di tepian air berubah menjadi tumpukan kayu untuk dibakar menjadi arang.
Dahulu Kasto adalah seorang tauke atau pengepul arang mangrove. Ia mengumpulkan kayu hasil penebangan dan menjalankan sejumlah dapur pembakaran arang. Bisnis itu memberinya penghasilan, begitu pula bagi warga sekitar. Mereka menjual kayu bakau untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Bagi Kasto dan teman-temannya, uang menjadi perkara yang mendesak. Mereka menganggap bahwa menebang mangrove seperti jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan. Kasto dan penduduk sekitar tak menyadari bahwa setiap batang mangrove yang tumbang sesungguhnya membawa pergi bagian penting dari kehidupan mereka sendiri. “Jangan ditanyalah cerita saya dahulu. Beda sekali dengan sekarang,” kata Kasto.
Kasto dan warga tidak menganggap bahwa mangrove di sekitar mereka adalah kehidupan untuk generasi setelah mereka. Ketika pohon-pohon itu hilang, keseimbangan alam pun runtuh perlahan. Kasto tak menyadari bahwa keuntungan yang diperolehnya dari arang tidak sebanding dengan kehidupan yang hilang dari kampungnya.
“Di situ saya sadar, uang yang saya dapat dari arang tak sebanding dengan masa depan anak-anak di Pasar Rawa,” kata Kasto.
Bermula di 2011
Niat untuk mulai meninggalkan pekerjaan sebagai tauke arang perlahan tumbuh di dalam hati Kasto sejak 2011. Saat itu ia melihat bahwa mangrove di Desa Pasar Rawa semakin rusak parah. Air laut mulai naik ke permukaan. Kemudian ikan, udang dan kepiting juga mulai susah didapat. “Jadi dulu ini air udah naik, sekarang aja setelah mulai kami tanami lagi sudah kelihatan bagus lagi seperti ini,” katanya.
Sejak 2011, Kasto kemudian mulai memunguti bibit mangrove dan menanamnya kembali di kawasan pesisir. Ia belajar secara otodidak, mengamati alam, mengenali bibit, lalu menanamnya satu demi satu.
Tidak ada tepuk tangan yang menyambut langkah pertamanya. Tidak pula ada jaminan bahwa bibit-bibit yang ia tanam itu akan tumbuh. Bahkan, ia sempat dicemooh oleh warga sekitar yang menganggap tindakannya sia-sia. Bagaimana mungkin hutan yang telah rusak begitu luas dapat dipulihkan hanya dengan menanam bibit satu demi satu?.
Meski diragukan, Kasto memilih bertahan. Baginya, setiap bibit yang ditanam adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Jika dahulu tangannya terbiasa menebang dan mengumpulkan kayu, kini tangan yang sama harus belajar menanam, merawat, dan menjaga kehidupan. “Di tahun ini, memang belum sepenuhnya kami meninggalkan arang. Semuanya kami tinggalkan perlahan,” katanya.
Ia mengajak beberapa teman terdekatnya selanjutnya membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Penghijauan Maju Bersama. Kelompok ini kemudian menjadi ruang bagi masyarakat untuk bergerak bersama, melakukan penanaman, merawat kawasan, dan menjaga hutan dari kerusakan. Fokus kelompok tani adalah rehabilitasi dan pelestarian ekosistem hutan mangrove (bakau) serta pengembangan eduekowisata berbasis lingkungan
Perjuangan itu berlangsung perlahan. Mereka secara perlahan berpatroli, menanam bibit secara rutin, dan belajar memahami bahwa mangrove. Kasto tak ingin kawan-kawannya hanya berhenti menjadi pembalak, ia juga ingin mereka menjadi penjaga hutan.
Di bawah kepemimpinannya, gerakan kecil yang bermula dari kesadaran seorang mantan tauke arang ini tumbuh menjadi upaya pemulihan ekosistem yang lebih luas. KTH Penghijauan Maju Bersama kini mendapat izin mengelola kawasan kemitraan perhutanan sosial seluas 178 hektare berdasarkan izin dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat.
Hampir setiap bagian dari perjuangan itu mengandung pelajaran tentang perubahan, bahwa manusia tidak harus selamanya terperangkap dalam kesalahan masa lalunya, dan keberanian untuk mengakui kesalahan dapat menjadi awal memulai sesuatu yang lebih besar.
“Tepat pada 2020, saya dan warga desa mulai sadar, bahwa yang kami lakukan menjadi pengepul arang adalah salah. Di 2020 itu pula semua dapur pembuat arang kami hancurkan sendiri. Satu desa ikut menghancurkannya semua. Bukan karena di razia atau dibongkar petugas. Tapi karena kesadaran kami sendiri, bahwa yang kami lakukan adalah salah,” jelas Kasto.
Ia dan warga desa tidak lagi ingin memperoleh penghasilan dari kematian pohon-pohon bakau. Mereka ingin melihat mangrove-mangrove yang sudah mereka tebang secara liar tumbuh kembali, sekalipun harus menunggu bertahun-tahun. Dalam perjalanan itu, Kasto juga menemukan makna pertobatan yang lebih dalam. Dalam Islam, tobat bukan semata-mata penyesalan yang diucapkan melalui lisan, melainkan kesungguhan meninggalkan perbuatan yang salah dan berusaha memperbaiki diri.
Tobat nasuha yang dilakukannya menuntut ketulusan hatinya, tekadnya untuk tidak kembali kepada kesalahan yang sama dan kesungguhan menjalani perubahan dalam dirinya. Kasto menemukan jalan pulangnya. Ia ingin lebih banyak orang mengikuti jalan yang sama.
Keinginannya di jalan pulang ini disambut banyak sambutan dari masyarakat. Ekowisata mangrove yang mereka buat, dijawab dengan banyaknya anak-anak sekolah bahkan mahasiswa dari berbagai kampus yang ada di Sumatera Utara maupun di luar Sumatera Utara datang ke desa mereka, belajar untuk peduli terhadap kelestarian mangrove.
Jadi Sumber Rezeki
Perubahan Pasar Rawa tidak berhenti pada tumbuhnya kembali pohon-pohon mangrove. Pemulihan lingkungan perlahan membuka pintu bagi perubahan ekonomi masyarakat. Perjuangan yang dilakukan Kasto dan teman-teman di KTH maupun di desanya mendapat respons yang lebih luas dari elemen lainnya. Salah satunya adalah dukungan dari Pertamina EP Pangkalan Susu, bagian dari Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1.
Mulai 2022, Pertamina sudah ikut memberikan bantuan ribuan bibit mangrove secara bertahap yang kemudian berkembang hingga ribuan bibit setiap tahunnya untuk ditanam di kawasan pesisir tersebut. Bukan hanya itu, Pertamina EP Pangkalan Susu juga ikut serta penyusunan program intervensi pemetaan sosial bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Stabat untuk merintis program Edu-Ekowisata Mangrove Pasar Rawa
Pendampingan yang mulai dirintis sejak 2022 itu berkembang menjadi program pemberdayaan yang lebih terarah. Melalui pemetaan sosial dan perencanaan bersama, Pertamina mendorong mereka untuk memiliki alternatif penghidupan agar tidak kembali bergantung pada penebangan mangrove dan pembakaran arang.
Pendampingan berkelanjutan dilakukan sejak 2023. Pertamina EP Pangkalan Field memberikan bantuan dan pembinaan melalui program CSR unggulan berupa Program Edu-Ekowisata Mangrove Pasar Rawa (yang juga mengusung inovasi bernama program Mang Rokan). Kemudian guna mendongkrak ekonomi warga, Pertamina memperluas pendampingan ke sektor UMKM. Ikan baronang yang melimpah tidak hanya dijual mentah, tetapi kelompok perempuan pesisir dibina untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi, yakni Baronang Crispy. Bantuan terus diberikan sampai saat ini. Terakhir di tahun 2025, Pertamina memberikan bantuan homestay di kawasan tersebut agar wisatawan yang datang bisa bermalam.
Kehadiran homestay menjadi salah satu langkah penting karena wisatawan tidak hanya dapat datang menikmati pemandangan, tetapi juga tinggal lebih lama dan mengenal kehidupan masyarakat pesisir. “Bahkan wisatwan asing pun akhirnya pernah menginap di sini dan merasakan atmosfer pesisir di sini,” ujarnya Kasto.
Bagi Kasto, dukungan itu menjadi penguat perjuangan yang selama belasan tahun ia rintis bersama warga. Ia tak lagi merasa sendirian menjaga hutan yang dahulu dirusaknya. Kini, upaya konservasi mendapatkan dukungan untuk berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas. “Alhamdulillah, mangrove sudah memberikan penghidupan yang layak bagi masyarakat Desa Pasar Rawa,” ujarnya.
Perubahan itu terasa nyata dalam kehidupan warga. Dahulu, penghasilan sekitar Rp50 ribu sehari dari usaha arang sudah dianggap berarti. Kini, melalui pembibitan mangrove, kegiatan wisata, dan usaha-usaha lain yang tumbuh bersama kawasan konservasi, warga berpeluang memperoleh pendapatan hingga Rp200 ribu per hari. “Alhamdulilah sekarang bisa bekerja di sini. Bisa dapat penghasilan dari sini,” ujar Safriani, seorang ibu yang setiap hari mendapatkan penghasilan dari Pasar Rawa.
Penghargaan
Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal menjelaskan Edu Ekowisata Mangrove Pasar Rawa berhasil menunjukkan peran program pelibatan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara tepat dan komprehensif dapat memberikan dampak langsung kepada operasional perusahaan.
“Saat ini, sudah tidak ada dapur arang di Pasar Rawa dan nelayan Pasar Rawa juga tidak mencari ikan di area SPM. Ketika ekosistem laut pulih, jalan menuju kesejahteraan akan terbuka dengan sendirinya. Kami berharap eduekowisata ini bisa menjadi contoh sukses harmonisasi antara pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi akar rumput," ungkapnya.
Masyarakat Desa Pasar Rawa bersama Pertamina EP Pangkalan Susu menciptakan nilai Bersama (Generating Values), yaitu “Menjaga Mangrove Sama Artinya Menjaga Rumah Kita”. Dengan mangrove yang terjaga, ekosistem pesisir yang baik mampu menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan, sehingga Masyarakat turut berperan aktif dalam menjaga asset dan kegiatan operasional Perusahaan.
Program ini juga berhasil mendapat berbagai pengakuan, di antaranya penghargaan Gold CID Upstream Award 2026 kategori sosial media campaign dan silver untuk kategori Best CID for Social License to Operate (SLO) untuk kepemimpinan Pangkalan Susu Field Manager.
Terbaru, Edu Ekowisata Mangrove Pasar Rawa juga menyabet Platinum Award kategori Economic Empowerment ISRA 2026 dan Predikat Gold dalam Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2026 PHR melalui tim PC Prove Pasar Rawa.
Menanggapi hal ini, Pengamat Lingkungan dari Universitas Satya Terra Bhinneka, Dini Hardiani, S.Hut mengatakan bahwa penghargaan tersebut menjadi penanda bahwa upaya masyarakat Pasar Rawa akhirnya mendapatkan perhatian. Namun yang pasti, bagi masyarakat di Desa Pasar Rawa penghargaan paling berarti justru terletak pada hal-hal sederhana yakni air yang kembali membaik, kepiting yang mulai mudah ditemukan, wisatawan yang datang, ibu-ibu yang memiliki penghasilan, serta anak-anak yang dapat mengenal hutan mangrove sebagai warisan yang harus dijaga.
“Ini penghargaan sesungguhnya. Sulit sekali di zaman sekarang ini menyadarkan seseorang untuk peduli terhadap lingkungan, apalagi di kondisi yang perubahan iklim itu benar-benar terasa. Kita merasa beruntung punya Kasto dan warga desa lainnya di Pasar Rawa. Mudah-mudahan ini bisa dicontoh oleh masyarakat lainnya yang tinggal di daerah pesisir maupun di perkotaan, untuk sama-sama menjaga mangrove dan lingkungan kita,” ujar Kaprodi Managemen Hutan tersebut.
Terkait dengan program yang diberikan bahwa, keberhasilan sesungguhnya katanya bukan hanya ketika sebuah program mendapatkan penghargaan, melainkan ketika masyarakat mampu meneruskan perubahan itu dalam kehidupan sehari-hari. “Kebetulan saya juga pernah ke sana dan melakukan pengabadian ke sana,” katanya.
Menjelang siang, angin berembus di antara dedaunan mangrove Pasar Rawa. Akar-akar bakau mencengkeram tanah berlumpur, berdiri sebagai benteng alami yang melindungi pesisir. Di sela rimbunnya pepohonan, kehidupan kembali menemukan tempatnya.
Kasto berdiri di tengah hutan yang pernah menjadi saksi kesalahannya. Dahulu, ia memperoleh uang dari kayu-kayu yang ditebang. Kini, ia menemukan kebahagiaan dari pohon-pohon mangrove yang tumbuh.
Dalam keyakinannya sebagai seorang Muslim, ia memahami bahwa manusia tidak luput dari kesalahan. Tetapi pintu pertobatan selalu terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin kembali kepada jalan yang benar. Seburuk apa pun masa lalu kita, kita selalu punya kesempatan untuk balik dan menyembuhkan bumi pertiwi ini.











