Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Sejumlah Wilayah di Madina

Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Sejumlah Wilayah di Madina
Ancaman Banjir dan Longsor Mengintai Sejumlah Wilayah di Madina (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Mandailing Natal – Ancaman banjir dan longsor membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, menyusul hujan berintensitas sedang hingga lebat yang mengguyur kawasan tersebut.

Luapan sejumlah sungai mulai berdampak pada permukiman warga, bahkan sebagian masyarakat dilaporkan telah mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina mengingatkan masyarakat, khususnya yang bermukim di bantaran sungai dan kawasan perbukitan, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.

Terbaru, luapan Sungai Rantopuran menyebabkan banjir di sejumlah desa di Kecamatan Panyabungan pada Kamis (29/10/2026) malam.

Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops-PB) BPBD Madina yang disampaikan pada pukul 21.19 WIB, laporan kejadian banjir tersebut diterima petugas sekitar pukul 19.00 WIB.

Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan debit air Sungai Rantopuran meningkat hingga meluap dan berdampak pada permukiman masyarakat.

Dalam laporan sementara BPBD, desa-desa yang tercatat terdampak meliputi Sopo Batu, Gunungtua Julu, Gunungtua Tonga, Gunungtua Lumban Pasir, Gunungtua Jae, Manyabar, Manyabar Jae, Gunung Manaon, Pagaran Tonga, dan Saba Jambu.

Sementara itu, warga di Desa Manyabar, Manyabar Jae, Gunung Manaon, Pagaran Tonga, dan Saba Jambu dilaporkan sebagian besar telah mengungsi untuk menghindari risiko banjir.

Menanggapi kejadian tersebut, BPBD Madina telah menerjunkan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) ke Desa Manyabar untuk membantu proses evakuasi warga sekaligus menangani sumbatan material kayu di Jembatan Aek Kitang.

Penanganan sumbatan kayu di jembatan tersebut menjadi salah satu upaya yang dilakukan petugas di tengah meningkatnya debit air sungai. Personel BPBD juga membantu mengungsikan warga di lima desa yang disebutkan dalam laporan sementara.

Kepala Pelaksana BPBD Madina, Mukhsin Nasution, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah sungai di wilayah tersebut mulai mengalami peningkatan debit air, bahkan beberapa di antaranya dilaporkan meluap hingga Kamis.

"Sejumlah sungai telah mulai meluap hari ini, di antaranya Sungai Ranto Puran, Sungai Aek Mata, Sungai Simalagi, Sungai Batang Natal, dan beberapa aliran sungai lainnya," ujar Mukhsin.

Banjir yang terjadi di Kecamatan Panyabungan menambah daftar wilayah terdampak akibat hujan deras yang mengguyur Madina dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), luapan Sungai Simalagi pada Rabu (28/10/2026) malam menyebabkan banjir di Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, dan Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara.

Sebanyak 32 rumah dilaporkan terendam banjir. Selain itu, satu fasilitas ibadah turut terdampak, sedangkan akses jalan sempat tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Tim Reaksi Cepat BPBD Madina telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan dan berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat. Dalam perkembangan selanjutnya, air dilaporkan berangsur surut dan akses jalan yang sebelumnya terendam kembali dapat dilalui kendaraan.

Banjir juga merendam permukiman warga dan badan jalan di tiga desa di Kecamatan Panyabungan Barat akibat luapan Sungai Sirambas setelah hujan lebat.

Ketiga desa tersebut adalah Batang Gadis, Barbaran Jae, dan Sirambas. Genangan air sempat memasuki rumah warga serta mengganggu akses jalan umum. Di sejumlah titik, luapan air juga dilaporkan menyebabkan abrasi di pinggiran sungai.

Camat Panyabungan Barat, Ainannur, mengatakan genangan air di wilayahnya mulai surut pada Kamis pagi. Warga kemudian melakukan pembersihan sisa material banjir yang masuk ke rumah dan fasilitas umum.

Meski kondisi di sejumlah lokasi sebelumnya mulai membaik, ancaman banjir belum sepenuhnya berakhir. Hujan yang kembali mengguyur wilayah Madina berpotensi meningkatkan debit air sungai dan menyebabkan genangan meluas, terutama di kawasan permukiman yang berada dekat aliran sungai.

Selain banjir, masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan juga diminta mewaspadai potensi tanah longsor. Kondisi tanah yang jenuh air akibat hujan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah, terutama di lereng dan tebing yang rawan.

"Begitu juga kepada masyarakat di daerah perbukitan agar terus memantau situasi sekitar, karena kondisinya saat ini sangat rawan longsor. Kami minta untuk terus waspada," kata Mukhsin.

BPBD Madina mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir agar terus memantau informasi resmi, mengamankan barang-barang penting, serta segera menuju tempat yang lebih aman apabila situasi dinilai membahayakan.

Warga di sekitar aliran sungai juga diminta menghindari aktivitas di lokasi berbahaya ketika hujan deras berlangsung. Sementara itu, masyarakat di kawasan perbukitan diharapkan memperhatikan kondisi tebing di sekitar permukiman dan jalur yang dilalui sehari-hari.

Masyarakat diminta segera melaporkan kepada aparat desa, pihak kecamatan, atau petugas kebencanaan apabila menemukan tanda-tanda bahaya, seperti kenaikan permukaan air secara cepat, retakan tanah, maupun pergerakan material di lereng. (RES)

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi