Banjir dan Longsor Menyasar Beberapa Desa di Dairi (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Sidikalang - Beberapa desa didera banjir dan longsor di Kabupaten Dairi. Hal tersebut merupakan dampak intensitas hujan tinggi beberapa hari belakangan.
Demikian disampaikan Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Erwin Sitorus, Minggu (25/10).
Dijelaskan, data sementara, bencana menyasar Desa Lae Ambat, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Desa Janji, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Desa Lae Hole 2, Kecamatan Parbuluan dan Desa Pasir Mbellang Kecamatan Tanah Pinem.
“Bencana alam terjadi di beberapa desa dan kecamatan,” kata Erwin.
Erwin menyebut, banjir bandang merusak lahan pertanian di Dusun 5 Desa Lae Ambat. Sekitar 5 hektar lahan produktif tersapu banjir.
“Sekitar 5 hektar lahan produktif tersapu banjir,” kata Erwin.
Diterangkan, jagung siap panen, kelapa sawit, pisang dan lainnya rusak. Selain itu,terjadi luapan air sungai menuju lahan pertanian, Masyarakat dihimbau tidak beraktivitas ke ladang menunggu situasi normal.
“Masyarakat dihimbau tidak beraktivitas ke ladang menunggu situasi normal,” kata Erwin.
Di Desa Janji tepatnya di Dusun Huta Pancur, kata Erwin, badan jalan berkonstruksi hotmix, ambles. Mobil berat tidak nyaman melintas.
Sementara di Desa Pasir Mbellang ke arah Desa Pasir Tengah, permukaan jalan tertimbun tanah longsor dari tebing. Beberapa ruas di sekitarnya mengalami kondisi serupa. Diantaranya, Simpang Renun menuju Desa Lau Njuhar 1.
Erwin menerangkan, bahu jalan menuju Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike Desa Lae Hole 2 mengalami rubuh. Masyarakat melakukan gotong royong guna meminimalisasi dampak.
Di lokasi lain, kata Erwin, pohon tumbang menutup permukaan jalan di Lae Pondom Kecamatan Silahisabungan. Penduduk bersama relawan melakukan pemotongan bentangan demi normalisasi lalulintas.
Terpisah, anggota DPRD, Juangga Silaban menyebut, truk ukuran jumbo disarankan tidak melintas di badan jalan ambles di Desa Janji. Sepanjang 6 meter konstruksi hotmix telah jatuh.
“Truk ukuran jumbo jangan melintas di Desa Janji,” kata Juangga.
Camat Tanah Pinem, Jonathan Ginting menyebut, longsor di wilayahnya kemungkinan besar disebabkan daya ikat tanah berubah rapuh. Dulunya, lahan ditanami kemiri. Sekarang, diganti jagung mengakibatkan tanah tak terikat.
“Hutan kemiri berganti jagung. Jadi, akar tak mampu mengingat tanah,” kata Ginting.
Dijelaskan, tanah longsor sering terjadi di Desa Renun hingga Alur Subur. Jadi, bukan badan jalan yang jatuh. Umumnya, tanah tebing menutup permukaan fasilitas umum.
(SSR/RZD)