Pakar Sebut Kepemimpinan Dirut Baru PLN Mampu Perkuat Ketahanan Energi Nasional (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Jakarta - Kepemimpinan baru PT PLN (Persero) diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui pembenahan sistem kelistrikan, percepatan transisi energi, dan pembangunan infrastruktur pendukung energi baru terbarukan (EBT).
Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Feiral Rizky Batubara, menilai pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar merupakan kesempatan strategis untuk memperkuat fondasi kemandirian energi Indonesia.
Menurut Feiral, tantangan utama pimpinan baru PLN bukan sekadar meningkatkan kapasitas pembangkit listrik, melainkan memastikan seluruh sistem ketenagalistrikan mampu menopang agenda pembangunan pemerintah, termasuk industrialisasi dan hilirisasi.
“Sektor ketenagalistrikan memiliki posisi yang sangat strategis karena keandalan pasokan listrik akan menentukan keberhasilan agenda pembangunan, mulai dari industrialisasi hingga hilirisasi,” ujar Feiral yang juga merupakan pengamat ketahanan energi, Jumat (16/10/2026).
Ia mengapresiasi kontribusi Darmawan Prasodjo selama memimpin PLN. Di sisi lain, Feiral menilai pengalaman Suroso Isnandar di bidang sistem tenaga, manajemen proyek, dan energi terbarukan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan sektor kelistrikan yang semakin kompleks.
Namun, pengalaman tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan langkah operasional yang mampu memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat transformasi energi nasional.
Feiral mengingatkan, pengembangan energi baru terbarukan tidak boleh hanya berorientasi pada penambahan kapasitas pembangkit, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Percepatan pembangunan pembangkit harus diimbangi dengan kesiapan jaringan dan teknologi pendukung agar energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara optimal.
Karakteristik energi surya yang bergantung pada intensitas matahari membuat produksi listriknya berfluktuasi. Kondisi ini menuntut PLN memiliki sistem kelistrikan yang fleksibel dan mampu menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan listrik.
“Pengembangan PLTS harus berjalan seiring dengan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), serta peningkatan fleksibilitas sistem. PLN harus mampu menyeimbangkan pasokan dan permintaan listrik setiap saat,” tegasnya.
Kesiapan infrastruktur tersebut juga penting untuk meminimalkan risiko pembatasan produksi listrik dari pembangkit energi terbarukan atau curtailment, yang dapat terjadi ketika kapasitas pembangkit tidak dapat sepenuhnya diserap oleh sistem.
Karena itu, menurut Feiral, kepemimpinan baru PLN perlu memastikan pengembangan pembangkit, jaringan transmisi dan distribusi, serta penyimpanan energi direncanakan secara terintegrasi.
Ia berharap PLN di bawah kepemimpinan Suroso Isnandar mampu membangun sistem kelistrikan yang semakin tangguh, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan energi.
Dengan fondasi infrastruktur yang kuat, energi terbarukan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari proses transisi energi, tetapi juga berperan strategis dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
(RZD)