Kemajuan Sains dan Krisis Makna Manusia: Tinjauan Filosofis terhadap Peradaban Modern (Analisadaily/Ilustrasi-AI)
Oleh : Rika Puspita Sari
Kita hidup di zaman paling canggih dalam sejarah manusia. Kita bisa memetakan genom, mengirim wahana ke Mars, dan bercakap dengan kecerdasan buatan dari genggaman tangan. Namun, di tengah kemajuan itu, banyak orang justru merasa hampa. Jonathan Haidt (2024) mencatat bahwa sejak awal 2010-an, kecemasan dan depresi remaja di banyak negara melonjak tajam, bersamaan dengan masuknya ponsel pintar ke dalam keseharian. Pertanyaannya, mengapa semakin banyak yang kita ketahui tentang dunia, semakin sulit kita menjawab untuk apa kita hidup di dalamnya?
Sains Menjawab "Bagaimana", Bukan "Untuk Apa"
Sains modern memandang alam sebagai mesin raksasa yang bekerja menurut hukum matematis. Cara pandang ini melahirkan listrik, obat-obatan, dan internet. Akan tetapi, Max Weber (1946) menyebut proses ini sebagai "pembebasan dunia dari pesona" (
disenchantment). Dunia yang dulu penuh makna kini menjadi benda yang bisa dihitung dan dikendalikan. Sains mampu menjelaskan cara mencapai sesuatu, tetapi tidak bisa memutuskan apakah sesuatu itu layak dicapai.
Edmund Husserl (1970) bahkan menyebut krisis ilmu pengetahuan modern sebagai krisis makna. Menurutnya, sains telah melupakan "dunia-kehidupan" (
Lebenswelt), yaitu pengalaman sehari-hari tempat manusia mencintai, berduka, dan berharap. Ketika yang dianggap nyata hanyalah yang terukur, pengalaman batin manusia perlahan dianggap tidak penting.
Ketika Manusia Menjadi "Sumber Daya"
Martin Heidegger (1977) menilai bahwa teknologi modern membentuk cara kita memandang segala sesuatu sebagai persediaan yang siap dipakai. Sungai dilihat sebagai sumber listrik, hutan sebagai stok kayu. Lama-kelamaan, manusia pun memandang dirinya sebagai "sumber daya manusia".
Byung-Chul Han (2015) melihat dampaknya hari ini. Manusia modern tidak lagi ditindas oleh orang lain, tetapi oleh tuntutan dirinya sendiri untuk selalu produktif dan berprestasi. Hasilnya adalah "masyarakat kelelahan" yang rentan terhadap
burnout dan depresi. Hartmut Rosa (2020) menambahkan bahwa semakin keras kita berusaha mengendalikan dunia, semakin dunia terasa bisu dan tidak lagi "menyapa" kita.
Gejala Krisis Makna
Psikiater Viktor Frankl (2006) menyebut kondisi ini sebagai kekosongan eksistensial, yaitu perasaan bahwa hidup tidak memiliki isi dan tujuan. Gejalanya mudah kita temukan sehari-hari: harga diri diukur dari jumlah
likes dan pengikut, kebosanan muncul di tengah hiburan yang melimpah, dan kesibukan berjalan tanpa arah yang jelas. Kita terhubung dengan ribuan orang di dunia maya, tetapi sering merasa sendirian. Menurut Frankl, kekosongan semacam ini kerap bersembunyi di balik kebosanan, kecanduan, dan pengejaran kesenangan yang berlebihan.
Mencari Jalan Pulang
Solusinya bukan menolak sains, sebab ilmu pengetahuan telah menyelamatkan jutaan nyawa. Persoalannya terletak pada anggapan bahwa sains bisa menggantikan seluruh dimensi kehidupan manusia.
Pertama, Frankl (2006) menunjukkan bahwa makna dapat ditemukan melalui karya, cinta, dan sikap kita saat menghadapi penderitaan. Kedua, Albert Camus (1955) mengajak kita menghadapi absurditas hidup dengan tetap hidup sepenuh hati, seperti Sisifus yang terus mendorong batunya ke puncak bukit. Ketiga, Jujun S. Suriasumantri (2017) mengingatkan bahwa ilmu harus memiliki dasar aksiologis, yaitu pertimbangan tentang untuk apa ilmu itu digunakan. Ilmu tanpa nilai dapat berubah menjadi alat yang merusak. Dalam konteks Indonesia, nilai spiritual dan gotong royong dapat menjadi modal penting, asalkan dihidupkan secara reflektif, bukan sekadar slogan.
Penutup
Kemajuan sains adalah pencapaian besar umat manusia, tetapi pengetahuan tentang
bagaimana dunia bekerja tidak otomatis menjawab
mengapa kita hidup. Tugas generasi kita bukanlah memilih antara sains dan makna, melainkan merajut keduanya kembali. Sains memberi kita alat; filsafat, agama, seni, dan relasi antarmanusia memberi kita alasan. Di tengah dunia yang semakin cepat, keberanian terbesar barangkali adalah berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa semua kemajuan ini, dan untuk siapa?
*Penulis adalah Mahasiswa Doktoral Farmasi Universitas Islam Indonesia dan Dosen Institut Kesehatan Deli Husada Delitua*
Berita kiriman dari: Rika Puspita Sari