‘Saya Cuma Jual Kerupuk dan Cuci Piring, Pak! Tangis Ibu Ini Pecah Saat Anaknya Bisa Kuliah di PTN Berkat Sofyan Tan (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan — Bagi Nirma Br. Ginting, mencuci piring dan berjualan kerupuk keliling bukan sekadar pekerjaan untuk menyambung hidup. Di balik lelahnya, tersimpan satu harapan besar, anaknya bisa kuliah dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada kehidupan yang selama ini dijalaninya.
Suaminya bekerja sebagai sopir. Sementara Nirma, warga Simalingkar B, Kecamatan Pancur Batu, harus bekerja keras membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, ketika anaknya memperoleh kesempatan kuliah melalui bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah jalur aspirasi, air matanya tak terbendung.
Di hadapan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, Nirma mengungkapkan rasa syukurnya. Perjuangan panjang yang dijalaninya seolah menemukan titik terang ketika keterbatasan ekonomi tak lagi sepenuhnya menjadi penghalang bagi cita-cita sang anak.
Kisah haru itu terungkap dalam kegiatan Serap Aspirasi Masyarakat bersama dr Sofyan Tan di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Sabtu (31/10).
Kegiatan tersebut mempertemukan lebih dari 100 orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi yang berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi keluarga seperti Nirma, kuliah bukan sekadar impian anak. Itu juga merupakan harapan orang tua agar generasi berikutnya tidak harus menjalani kehidupan sesulit yang mereka alami.
Perjuangan serupa dialami Anita br Surbakti, guru honorer asal Simalingkar yang mengajar di SMA/SMK. Dengan gaji sekitar Rp1 juta per bulan, membiayai anak hingga perguruan tinggi terasa seperti perjuangan yang nyaris mustahil. Namun, kesempatan mendapatkan KIP Kuliah mengubah keadaan. Anaknya kini diterima di Politeknik Negeri Medan (Polmed).
“Saya adalah guru honorer, Pak, dengan gaji satu juta rupiah. Saya tak menyangka anak saya bisa kuliah dengan bantuan Bapak. Terima kasih, Ibu Lisna, Pak Tamba, dan Pak Sofyan Tan,” ungkapnya dengan suara bergetar.
Bagi Anita, keberhasilan anaknya melanjutkan pendidikan merupakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Di balik penghasilan terbatas, ia tetap berusaha menjaga agar cita-cita sang anak tidak kandas karena persoalan biaya.
Kisah menyentuh lainnya datang dari Evi Purba, warga Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Ia membesarkan kedua anaknya seorang diri setelah keluarganya dilanda persoalan narkoba.
Ketika anaknya menghadapi kendala administrasi yang mengancam kelanjutan kuliah, Evi kembali dihadapkan pada situasi sulit. Namun, melalui bantuan Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan, anaknya akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di Fakultas Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Medan (UNIMED).
“Suami saya sudah tiada karena narkoba, saya hidup bersama kedua anak saya. Berkat bantuan Rumah Aspirasi dan drSofyan Tan, anak saya bisa terus kuliah tanpa biaya sepeser pun,” tuturnya penuh syukur.
Perjuangan juga dilakukan Santi Dewi, buruh harian lepas asal Simalingkar B. Dengan penghasilan di bawah upah minimum, ia berusaha menyekolahkan anak-anaknya di tengah keterbatasan ekonomi.
Harapannya mulai menemukan jalan ketika anaknya diterima di USU, jurusan Teknik Mesin, melalui KIP Kuliah jalur aspirasi. Kisah para ibu ini memperlihatkan bahwa di balik keberhasilan seorang mahasiswa, ada pengorbanan orang tua yang tidak selalu terlihat. Ada tenaga yang terkuras, kebutuhan yang harus dihemat, dan doa yang tak pernah putus.
Program KIP Kuliah jalur aspirasi yang diperjuangkan melalui Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan menjangkau mahasiswa di berbagai perguruan tinggi negeri, mulai dari USU, UNIMED, Polmed, kampus di Aceh, Universitas Jember, Universitas Udayana di Bali, hingga sejumlah PTN lain di Pulau Jawa.
Sugiarti, salah seorang ibu mahasiswa USU, turut menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diperoleh anaknya. Bagi keluarga prasejahtera, kesempatan memasuki perguruan tinggi negeri sering kali dibayangi kekhawatiran tentang biaya.
Karena itu, bantuan pendidikan bukan sekadar meringankan beban ekonomi, melainkan membuka jalan bagi anak-anak untuk memperbaiki masa depan keluarga.
Mendengar berbagai kisah perjuangan tersebut, Sofyan Tan mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan kesempatan kuliah dengan sungguh-sungguh.
“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah salah satu jalan paling ampuh untuk mengubah nasib keluarga. Jangan pernah patah semangat, kejarlah cita-citamu setinggi langit, karena negara harus hadir untuk memastikan anak-anak kurang mampu berhak memiliki masa depan yang cerah,” pesannya.
Bagi Nirma yang berjualan kerupuk dan mencuci piring, Anita yang bertahan dengan gaji guru honorer, serta Evi dan Santi yang berjuang di tengah keterbatasan, kesempatan anak mereka mengenyam pendidikan tinggi membawa harapan baru.
Mereka mungkin tidak mampu mewariskan harta berlimpah. Namun, melalui pendidikan, mereka berharap anak-anaknya memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupan.
Sebab, ketika seorang anak dari keluarga sederhana berhasil melangkah ke perguruan tinggi, yang tumbuh bukan hanya harapan sang mahasiswa. Ada pula mimpi orang tua yang selama bertahun-tahun diperjuangkan dalam diam, kini perlahan menemukan jalannya.
(REL/RZD)