Dari Lereng Sibayak ke Panggung Dunia: Misi Besar Dedy Ismail Hasibuan Membumikan Trail Running di Sumut

Dari Lereng Sibayak ke Panggung Dunia: Misi Besar Dedy Ismail Hasibuan Membumikan Trail Running di Sumut
Dedy Ismail Hasibuan ((Dokumentasi: Istimewa))

Analisadaily.com, Medan - Bagi kebanyakan orang, akhir pekan adalah waktu terbaik untuk beristirahat dan memulihkan diri dari penatnya rutinitas pekanan. Namun, bagi Dedy Ismail Hasibuan, Sabtu dan Minggu justru menjadi panggilan jiwa untuk kembali pulang ke tanah kelahirannya di Kabupaten Karo.

Di sana, di tengah sejuknya udara pegunungan dan terjalnya jalur pendakian yang telah akrab sejak kecil, ia tidak sekadar melepas lelah, melainkan merajut mimpi besar. Pegawai instansi pemerintah di lingkungan Pemprov Sumut ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk memperkenalkan, merintis, dan membesarkan olahraga trail running, lari lintas alam, dari Sumatera Utara menuju panggung nasional hingga internasional.

Kecintaan Ismail terhadap alam terbuka bukanlah hal yang instan. Tumbuh besar di Tanah Karo memberikannya kedekatan emosional yang mendalam dengan bentang alam pegunungan. Ketertarikan itu bertransformasi secara serius ketika ia mengikuti ajang Kebut Gunung di Gunung Sibayak pada awal 2015 dalam kategori beregu dan sukses menyabet posisi pertama.

Pengalaman dini tersebut membuka matanya bahwa berlari di alam bebas menuntut disiplin yang jauh berbeda dibandingkan lari di jalan raya, mulai dari adaptasi elevasi, pengaturan tenaga, hingga ketajaman membaca jalur. “Sejak saat itu, jalan setapak di tengah hutan dan puncak-puncak gunung menjadi rumah kedua bagi saya,” ucapnya ketika berbincang dengan Analisadaily.com, Kamis (29/10/2026).

Dedy Ismail Hasibuan (Dokumentasi: Istimewa)
Perjalanan kompetitif Ismail terus menanjak seiring berjalannya waktu. Pada 2023, ia menaklukkan Bukit Lawang Orangutan Trail Run kategori 27 kilometer di posisi kelima. Prestasinya kian berkilau pada 2024 ketika turun di Sibayak Altitude Run kategori 40 kilometer, di mana ia sukses finis di jajaran 20 persen teratas pelari tercepat meski harus melewati batas cut-off time yang ketat. Tak hanya di jalur trail, ia bahkan sempat mencicipi kerasnya aspal lewat ajang Oil Palm Marathon kategori Full Marathon 42 kilometer dan berhasil menembus 10 besar.

Puncaknya, pada 2025, ia memperbaiki catatan waktunya di Sibayak Altitude Run dengan menyegel posisi keempat. Konsistensi ini berlanjut pada 2026, di mana ia kembali menduduki podium ketiga di ajang yang sama, serta meraih posisi kedua dalam Kejuaraan Provinsi Jarak Pendek 40 Kilometer Male ALTI Sumatera Utara 2026.

Menariknya, kiprah Ismail di dunia lari trail tidak hanya dibuktikan dari koleksi medali podiumnya semata. Ia juga dipercaya mengemban tugas berat sebagai sweeper sejauh 100 kilometer di ajang bergengsi Trail of The King (TOTK) pada 2025 dan Juni 2026, serta didapuk sebagai influencer dalam Simanindo Trail Run di Kabupaten Samosir.

Namun, di balik setiap garis finis yang ia lewati, selalu ada cerita perjuangan yang membentuk karakternya. Salah satu momen paling berkesan terjadi tatkala ia mengikuti Bali Trail Run 2026 kategori 60 kilometer. Untuk bisa berdiri di garis start ajang impian tersebut, Ismail harus menyisihkan penghasilannya selama hampir dua tahun, dibantu oleh dukungan penuh dari rekan-rekan terdekatnya.

Dedy Ismail Hasibuan (Dokumentasi: Istimewa)
Kendati persiapan fisik telah dimatangkan, takdir berkata lain ketika sepatu ASICS Gel-Sonoma 7 yang digunakannya mengalami keausan parah pada bagian tapak dan grip. Memasuki kilometer ke-45, di tengah posisi yang masih aman di 15 besar, kakinya mulai melepuh hebat. Dengan sisa daya dan mental baja, ia mengatur ulang langkahnya hingga akhirnya berhasil menyentuh garis akhir di posisi ke-49 dari total 728 peserta.

“Bagi saya, insiden tersebut bukanlah kegagalan, melainkan pelajaran berharga bahwa lari trail menuntut kesiapan perlengkapan yang matang dan ketangguhan mental menghadapi situasi di luar rencana,” ungkapnya.

Pengalaman berharga dari berbagai perlombaan nasional ini kemudian ia bawa pulang untuk membangun tanah kelahirannya. Sejak 2024, Ismail dipercayakan memegang mandat sebagai Ketua Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Karo. Bersama rekan-rekan di komunitas Karo Trail Run (KTR), ia bahu-membahu mendirikan wadah resmi yang kini telah terdaftar dan diakui oleh KORMI Kabupaten Karo.

“Melalui organisasi ini, saya ingin memastikan bahwa generasi muda Karo memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk mengenal olahraga lari trail secara terarah, membangun kedisiplinan, serta mengasah mentalitas juara sejak usia dini,” sebutnya.

Dedy Ismail Hasibuan (Dokumentasi: Istimewa)
Komitmen nyata tersebut langsung dibuktikan lewat keikutsertaan kontingen Kabupaten Karo yang menurunkan sembilan pegiat trail running dalam ajang FORPROV pertama tahun 2026. Bagi Ismail, pencapaian olahraga tidak boleh hanya bertumpu pada satu atau dua individu saja, melainkan harus dibangun di atas ekosistem pembinaan yang kokoh dan berkelanjutan.

Dari semangat inilah, sebuah cita-cita yang lebih besar mulai bersemi di benaknya, yakni mendirikan akademi trail running pertama di Sumatera Utara yang berpusat di Tanah Karo. Ia membayangkan sebuah pusat pelatihan khusus di mana anak-anak muda dapat belajar teknik dasar berlari di alam, menempa ketahanan fisik, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi berstandar tinggi.

Ke depan, Ismail menyimpan asa yang kuat agar Sumatera Utara, khususnya Kabupaten Karo, tidak hanya melahirkan atlet-atlet berbakat yang mampu berprestasi di kancah global, tetapi juga menjadi tuan rumah bagi event-event lari trail berkelas dunia yang mendatangkan gaung positif bagi pariwisata daerah.

Baginya, garis finis dalam sebuah perlombaan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah titik anjak untuk terus melangkah lebih jauh. Dari rimbunnya hutan pegunungan Sumatera Utara, Dedy Ismail Hasibuan akan terus berlari, merawat asa, dan membuka jalan lebar bagi generasi penerus bangsa untuk mengukir sejarah di panggung dunia.

(RZD)

Baca Juga

Rekomendasi