Peluncuran Buku Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama Bupati Karo, Cory S Sebayang Berani Meninggalkan Zona Nyaman

Peluncuran Buku Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama Bupati Karo,  Cory S Sebayang Berani Meninggalkan Zona Nyaman
Mantan Bupati Karo, Cory Sriwaty Sebayang, saat Meluncurkan buku biografinya bertajuk "Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama Bupati Karo, Jumat (16/10/2025) di Tiara Convention Hall, Medan. (Analisadaily/ yogi yuwasta)

Analisadaily.com, Medan - Mantan Bupati Karo, Cory Sriwaty Sebayang mengatakan, ada 3 hal keberhasilan yang dicapainya selama ia menjabat sebagai Bupati di tanah Karo. Pertama, penangan Covid-19, kedua memperjuangan lahan bagi pengungsi Sinabung di kawasan Siosar dan penyelesaian konflik lahan di Mbal-Mbal Nodi, Desa Mbal-Mbal Petarum, Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo yang mana sekitar 700 Ha lahan dikembalikan fungsinya sebagai kawasan penggembalaan umum oleh Pemkab Karo.

"Itu semua berkat kerja keras Forkopimda Karo. Saya sampai di titik ini melalui perjuangan ada tuhan, keluarga, sahabat dan masyarakat yang mendukung. Dunia usaha mengajarkan keberanian, pelayanan kesehatan mengajarkan kepekaan dan pemerintahan mengajarkan keberanian mengambil keputusan. Dalam hal ini, saya mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak Terkelin Brahmana. Banyak bimbingan yang diberikan kepada saya. Menjadi wanita pertama Bupati Karo, ada harapan masyarakat yang harus saya dengar dengan berusaha menjaga dan fokus bekerja,"ungkap Cory S Sebayang dalam sambutannya dalam kegiatan, “Celebration of Journey”: Peluncuran Buku Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama Bupati Karo, Jumat (16/10/2026).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua Komite II DPD RI, Dr, Badikenita Br. Sitepu SE., SH., M.Si, Pembina Cendikiawan Karo Indonesia, Dr. Ir. Budi D. Sinulingga M.Si, Ketua Wanita Karo Indonesia/Guru Besar USU, Prof. Dr. Maria Br. Kaban SH., M.Hum, Penulis Buku, Mathias Brahmana dan Juniaman Kembaren, keluarga, sahabat dan tamu undangan lainnya.

Ketua Komite II DPD RI, Dr, Badikenita Br. Sitepu SE., SH., M.Si dalam sambutannya mengatakan, Cory S Sebayang yang pertama membawa nama sendiri, sekaligus membuka jalan bagi wanita Karo untuk menjadi seorang pemimpin. Sesuatu yang melampaui pencapaian pribadi. "Cory sebagai Bupati Karo memperlihatkan kesedian untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar,"ungkapnya.

Pembina Cendikiawan Karo Indonesia, Dr. Ir. Budi D. Sinulingga M.Si, menegaskan Cory S Sebayang berani meninggalkan zona nyaman, tidak semua orang berani meninggalkan zona nyaman. "Dia meninggalkan zona nyaman melihat peluang untuk maju menjadi pemimpin,"jelasnya.

Ketua Wanita Karo Indonesia/Guru Besar USU, Prof. Dr. Maria Br. Kaban SH., M.Hum berharap agar semua wanita Karo bisa mengikuti jejaknya kelak.

Sementara penulis, Mathias Brahmana mengatakan, kehadiran Ibu Cory Sebayang sebagai Wakil Bupati Karo (2015-2021) dan Bupati Karo periode 2021-2025 telah mengubah perempuan dan masyarakat Karo dalam memandang kepemimpinan.

Ibu Cory membuka sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat Bupati Karo. Dalam masyarakat Karo yang kuat memegang tradisi patrilineal dan masih kental dengan budaya patriarki, pencapaian tersebut memiliki arti yang melampaui keberhasilan seorang pribadi.

Ketika Ibu Cory akhirnya berhasil menduduki kursi Wakil Bupati Karo dilanjutkan menjadi Bupati Karo; Ibu dari 5 Anak ini telah berhasil memperluas ruang kemungkinan bagi posisi perempuan Karo pada hari esok dan seterusnya.

Ketika dilantik pada usia yang tidak lagi muda, Ibu Cory menerima ucapan bangga dari tokoh-tokoh perempuan Karo, termasuk diaspora yang bekerja di berbagai negara. Mereka melihat sebuah pintu telah terbuka bagi anak-anak perempuan menatap masa depan. Kepemimpinan yang selama ini lebih sering dibayangkan dalam wajah laki-laki kini juga memiliki wajah seorang perempuan Karo.

Akan tetapi, membuka pintu sejarah hanyalah permulaan. Di balik jabatan itu, menunggu persoalan menuntut keberanian nyata.

Keteguhan Ibu Cory terlihat ketika menertibkan Pasar Kabanjahe, Ibu Kota Kabupaten Karo. Di tengah tekanan premanisme, penertiban menghadapi ancaman perlawanan. Dalam kisah yang kami himpun untuk buku ini, para preman telah menyiapkan batu-batu untuk menghadang petugas. Situasi seperti itu dapat membuat siapa pun berpikir ulang.

(YY)

Baca Juga

Rekomendasi