Tim PKM USU melakukan foto bersama dengan para peserta pertunjukkan kesenian di Desa Lingga. (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Sejumlah dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU baru saja menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Budaya Lingga. Tim dosen dan mahasiswa yang dipimpin Dra, Rithaony Hutajulu, M.A, dibantu oleh dua dosen anggota, Dr, Edi Sumarno, M.hum serta Hubari Gulo S.Sn, M.Sn dibantu oleh sejumlah mahasiswa Etnomusikologi melakukan pengabdian yang didanai oleh Kemdiktisaintek dalam Program Inovasi Seni Nusantara 2026.
Program ini bertujuan untuk mengembangkan komunitas sanggar yang bergerak di bidang seni dengan melakukan pendampingan dan pelatihan terhadap Sanggar Nggara Simbelin dalam membuat karya seni inovatif Drama Tari Topeng Gundala Gundala untuk kebutuhan paket seni wisata di Desa Lingga. Metode yang dipakai adalah dengan melakukan sosialisasi sadar wisata kepada masyarakat dan pelatihan terhadap penggarapan karya inovatif yang berangkat dari seni tradisi yang ada.
Tim pengabdian Program Inovasi Seni Nusantara mendampingi ketua Sanggar Nggara Simbelin Simpei Fusen Sinulingga berserta timnya Egi Novta Bifendo Sinulingga S.Sn, M.A, dalam menyiapkan karya Drama Tari Topeng Gundala-Gundala, yang merupakan seni pertunjukan drama tari tradisi yang sudah lama berkembang di Masyarakat Karo.
Lewat program ini telah tercipta karya kreatif inovatif satu pertunjukan yang mengabungkan unsur seni pertunjukan tradisi Karo lainnya yang berdurasi satu jam berupa drama tari Gundala-Gundala yang sudah dipadu dengan aspek seni pertunjukan tradisi karo lainnya seperti musik dan tari.
Pertunjukan Jumpa La Banci: The Story of Gurda Gurdi and Gundala-Gundala, merupakan pertunjukan medley yang memadukan musik, tari, dan teater tradisi Karo. Pertunjukan diawali dengan tari Piso Surit yang dibawakan oleh lima pasang penari remaja, kemudian dilanjutkan dengan tari Landek Sada Tan yang menggambarkan kisah seorang perana atau pemuda sakti yang jatuh cinta kepada seorang putri raja. Kisah tersebut diiringi lagu “Jumpa La Banci”, yang menggambarkan cinta yang tidak dapat bersatu karena perbedaan status sosial.
Cerita berlanjut dengan kemunculan Perik Si Gurda-Gurdi, yaitu burung yang merupakan penjelmaan sang pemuda. Keindahan burung tersebut menarik perhatian sang putri hingga raja mengadakan pesta untuk merayakan kehadirannya.
Suasana pesta digambarkan melalui tari Perkolong-kolong dan kemudian dilanjutkan dengan tari topeng Gundala-Gundala. Konflik terjadi ketika sang putri tanpa sengaja menyentuh ekor Gurda-Gurdi, yang merupakan sebuah pantangan karena menyebabkan Gurda-Gurdi tidak dapat kembali ke wujud manusianya.
Gurda-Gurdi kemudian mengamuk dan terjadilah pertempuran dengan panglima kerajaan. Pertunjukan berakhir dengan kekalahan dan terusirnya Gurda-Gurdi dari kerajaan. Tari Mejuah-juah menjadi penutup yang menggambarkan kembali terciptanya kedamaian di kerajaan.
Pertunjukan yang dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, di Desa Lingga tersebut mendapat perhatian dari wisatawan lokal maupun mancanegara. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, tim pengabdian USU mendorong agar pertunjukan kesenian tradisional dilaksanakan secara rutin, minimal satu kali dalam sebulan, sebagai bagian dari pengembangan Desa Lingga sebagai desa wisata budaya.
Selama ini wisatawan umumnya datang ke Desa Lingga untuk melihat rumah adat. Dengan adanya pertunjukan seni secara rutin, diharapkan kunjungan wisatawan semakin meningkat dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat melalui penjualan alat musik tradisional Karo, kerajinan, dan cendera mata.
Tim pengabdian USU juga memberikan pelatihan mengenai pengemasan pertunjukan agar menarik bagi wisatawan tanpa menghilangkan ciri khas budaya Karo. Selain itu, masyarakat didorong untuk menerapkan prinsip Sapta Pesona sehingga pengembangan seni dan pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Lingga.
Masyarakat di desa Lingga memberi respon yang positif terkait adanya kegiatan PKM di desa Lingga, agar desa Lingga mampu menjadi desa wisata yang memiliki kualitas wisata yang baik serta mampu menjadi tonggak ekonomi masyarakat di desa tersebut.
(YY)