Sindrom Kaum Thalut

Oleh: Muhammad Idris Nasution. Bani Israil adalah salah satu bangsa yang cukup istimewa. Ada banyak hal yang Allah berikan kepada mereka, sesuatu yang tidak diberikan kepada bangsa-bangsa lainnya. (QS al-Maidah: 20) Namun, sebalik keistimewaan mereka, ada segudang sikap dan prinsip hidup mereka yang dikritik Allah lewat al-Quran, dengan mencelanya, atau dengan menceritakan siksa yang diturunkan kepada mereka sebab kelakuan mereka itu. Yang demikian, tiada lain adalah nakala, yaitu ibrah dan peringatan, dan juga sebagai mau’izhah, pelajaran bagi kita yang hidup di zaman ini. (QS al-Baqarah: 66)

Meskipun al-Quran sudah memberikan peringatan, apa yang diprediksikan oleh Rasulullah, bahwa akan ada banyak orang yang mengikuti dan meniru cara hidup Bani Israil, telah terbukti dari realita kehidupan masyarakat di era ini. Perilaku dan pandangan hidup mereka dipengaruhi Bani Israil. Bahkan, seandainya mereka masuk ke lubang biawak, mereka pun tak segan-segan ikut masuk ke sana. (HR Bukhari)

Salah satu kisah menarik tentang Bani Israil, yang diuraikan cukup panjang, adalah cerita kaum Thalut. Al-Quran menguraikan bagaimana sikap yang mereka tunjukkan berkenaan dengan pemilihan atau pengangkatan raja yang akan memimpin mereka, melawan tirani Raja Jalut. Kisah itu dimulai dari ayat 246 QS al-Baqarah, sampai akhir juz’ dua. Faktanya, sedikit banyak, penyakit mereka itu terus berjangkit sampai kini.

Raja Pilihan Tuhan

Ada rentang masa yang sangat panjang antara Nabi Musa sampai munculnya nama Raja Thalut. Abu Hayyan al-Andalusi, dalam kitab tafsirnya, al-Bahr al-Muhith, menceritakan secara ringkas kronologi kisah itu. Ketika Nabi Musa As. telah wafat, posisinya digantikan oleh Nabi Yusya’. Hari berganti, beliau pun meninggal, lalu digantikan lagi oleh Nabi Hizqil. Sejak meninggalnya beliau ini, muncul beragam bid’ah di tengah-tengah masyarakat, mereka menyembah berhala. Maka Allah pun mengutus Nabi Ilyas, yang kemudian digantikan oleh Nabi Ilyasa’. Setelah beliau berpulang, bid’ah semakin tumbuh menjamur. Kekuatan musuh-musuh Bani Israil pun semakin kuat. Mereka adalah bangsa Amaliqah, kaumnya Jalut.

Bangsa Jalut ini mengalahkan mereka dalam berbagai peperangan. Bani Israil diusir dari tanah air mereka. Anak-anak mereka, dan para pangeran dipenjara. Mereka pula dikenakan kewajiban membayar pajak. Kitab suci mereka, Taurat, ikut dirampas. Tak ada lagi yang tersisa seorang yang akan mengatur tatanan hidup dan strategi perang. Meraka benar-benar kalah.

Di saat-saat seperti itu, mereka pun datang menjumpai Nabi Syamwel. Memohon kepada Tuhan agar diutuskan seorang raja yang bakal mempimpin mereka. Maka Allah pun menjawab keluhan mereka, dengan mengutus Thalut, sebagai pembebas penderitaan, dan penawar kesedihan mereka.

Namun, buruknya sikap Bani Israil, mereka melawan dan menentang ‘kebijakan Tuhan’ ini. Mereka menggugat, “Bagaimana bisa dia menjadi raja kami, kamilah yang lebih berhak dari dia, pun dia tak diberikan keluasan harta”. Ungkapan ini, menurut Wahbah az-Zuhaili, menunjukkan sifat Bani Israil yang keras kepala dan suka melawan. Dan itu sudah menjadi watak dan adat-kebiasaan Bani Israil. (Tafsir al-Munir) Jangankan kebijakan kepala suku, yang notabene sederajat dengan mereka, kebijakan Tuhan saja digugat habis-habisan.

Kata para mufassir, kebetulan Thalut berasal dari prajurit biasa. Dia bukan keturunan raja-raja. Dia juga tidak berasal dari keturunan nabi-nabi. Tradisi yang memegang tampuk kerajaan pada masa itu adalah keturunan Yahudza, termasuk  kemudian Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Sedangkan para nabi secara tradisi berasal dari keturunan Lewi, termasuk Nabi Musa dan Nabi Harun. (Abu Hayyan, 1/266) Maka mereka berpendapat Thalut harus ditolak karena tidak sesuai kriteria dan keinginan mereka, walaupun yang memilihnya adalah Tuhan.

Apakah ada orang seperti itu sekarang? Mari bercermin pada diri kita masing-masing; sudah berapa banyak ‘pilhan-pilihan Tuhan’ yang kita langgar, bahkan lawan? Baik berupa tuntunan dan perintah, maupun laranganNya, yang dikemas dalam syariah.

Memilih dengan Amanah

Salah satu sikap Bani Israil yang disorot dalam cerita ini adalah penilaian mereka tentang kriteria seorang pemimpin. Di mana mereka menilainya atas dasar keturunan dan kekayaan material, bukan atas dasar kapabilitas dan kredibilitasnya.

Memilih adalah memberikan amanat. Ibnu Taimiyah, dalam kitabnya, as-Siyasah al-Syar’iyyah, mengemukakan bahwa barangsiapa mengalihkan suatu jabatan dari seseorang yang sebenarnya lebih layak dan tepat untuk mendudukinya kepada orang lain karena factor ikatan kekeluargaan, loyalitas atau persahabatan, atau kesamaan negara, mazhab, suku bangsa seperti Persia, Turki, dan Romawi. Atau karena adanya uang pelicin (suap), ataupun kepentingan-kepentingan tertentu, atau sebab-sebab yang lain, merasa iri terhadap orang yang lebih berhak dan layak itu. Semuanya itu merupakan bentuk pengkhianatan kepada Allah, RasulNya dan kaum mukminin.

Bahkan lebih ngeri penegasan Rasulullah Saw., “Ada tiga golongan manusia yang Allah tidak sudi berbicara dengannya maupun memandangnya, apalagi mengampuni dosanya. Bahkan baginya siksa yang pedih: Pertama, seseorang yang memiliki kelebihan rezki tapi tidak mau mengulurkan tangannya kepada yang membutuhkan. Kedua, orang yang memilih pemimpinnya hanya karena imbalan materi; jika diberi ia memilih, jika tidak diberi tidak memilih. Ketiga, seseorang yang membuat janji dengan orang lain dengan sumpah atas nama Allah tapi mengingkarinya.” (HR Bukhari-Muslim)

Pada cerita tadi, Allah memilih Thalut sebagai pemimpin mereka karena dua kelebihan yang dimilikinya dan sedang mereka butuhkan saat itu. Yaitu, ilmu, ada yang mengatakan ilmu tentang strategi perang, dan kekuatan tubuhnya. Ibnu Abbas mengatakan, bahwa pada saat itu Thalut adalah orang yang paling luas wawasannya di kalangan Bani Israil, paling tampan dan paling sempurna tubuhnya. (al-Baghawi, 1/228) Buya Hamka sampai mengatakan bahwa dua hal ini, dengan penafsiran  dan pemahaman yang lebih luas, menjadi dasar memilih pemimpin: Ilmu dan tubuh yang kuat. (Tafsir al-Azhar, 2/266) Para ulama telah banyak mengungkapkan bagaimana kriteria-kriteria itu dengan sangat luas dan baik.

Karena itu, para pemilih harusnya tahu jejak-rekam calon pilihannya itu. Masdar Farid Mas’udi dalam bukunya berpendapat bahwa kekurangan informasi, itu turut mendorong seseorang memilih pemimpin atau wakilnya secara serampangan, ikut-ikutan atau bahkan tidak memilih sama sekali. (Masdar Farid Mas’udi, 2013:152) Tentu saja dengan melihat gambarnya di spanduk-spanduk, kartu nama, atau batang pohon, saja tidak cukup. Spanduk-spanduk itu sama sekali tidak menggambarkan kualitas orangnya.

Mari memilih pemimpin berdasarkan rekam-jejak, kredibilitas dan kapabailitasnya, bukan berdasarkan popularitas, atau keuntungan material saja. Jangan sampai kita terjangkiti virus kaum Thalut itu. Dengan kita, sebagai pemilih, berlaku amanah, maka mudah-mudahan akan lahir pula pemimpin yang amanah. Karena, “Sebagaimana keadaan kalian, demikian pula terangkat pemimpin kalian.” (al-Hadis)

Penulis mahasiswa IAIN SU, Fakultas Syariah, Jurusan Ahwal al-Syakhshiyah, Semester VI.

()

Baca Juga

Rekomendasi