Objek Wisata

Arsitektur Gedung Bersejarah

Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 sebentar lagi tiba. Begitu banyak sudah jasa para pahlawan memperjuangkan negeri ini dari para penjajah. Penjajah yang sempat lama menduduki negeri tercinta kita ini tak hanya memberikan penderitaan, namun ada juga memberikan peninggalan yang bersejarah. Sejarah itu dapat dilihat dari eksistensi bangunan dan gedung-gedung tua di Kota Medan.

Pada masa kolonial Belanda, berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat Indonesia mendapat banyak pengaruh dari kebudayaan Barat. Hal itu terjadi di berbagai kota besar di Indonesia yang diduduki oleh belanda. Kota Medan termasuk di dalamnya. 

Pengaruh kebudayaan Barat, khususnya Belanda, nampak di sejumlah sudut di Kota Medan. Salah satunya terlihat dari segi bentuk kota dan arsitektur bangunan-bangunan yang didirikan bangsa ‘Negeri Kincir Angin’di kota-kota besar tersebut.

Pada proses perencanaan kota dan perancangan bangunan itu, para pengelola kota dan arsitek Belanda tak hanya menggunakan gaya arsitekturnya saja. Belanda, tidak meninggalkan konsep lokal dana penerapan kota dan bangunan. “Mereka menerapkan konsep dan budaya lokal maupun tradisional dalam merencanakan serta mengembangkan kota dan bangunan,” kata Staf Pengajar Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Medan, Saufa Yardha, belum lama ini. 

Menurut Saufa, saat ini, bangunan-bangunan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda di Kota Medan justru menjadi daya tarik wisata di kota metropolitan tersebut. Bangunan-bangunan, seperti Kantor Pos Medan dan Balai Kota Medan, seluruhnya termasuk ke dalam bangunan yang harus dilindungi berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 6 Tahun 1988 tentang Pelestarian Lingkungan Yang Bernilai Sejarah Arsitektur Kepurbakalaan di Medan.

Ada beberapa bangunan bersejarah, katanya, yang menjadi memang tepat arsitekturnya untuk objek wisata bagi turis mancanegara maupun lokal ketika berkunjung ke Medan.

Kantor Pos Medan

Kantor Pos Besar Medan merupakan salah satu sarana pendukung awal yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1911. Dengan arsitek Belanda bernama Snuyf, bangunan ini didirikan dalam rangka mendukung aktivitas warga dan kolonial Belanda di Kota Medan. “Gedung ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pemerintah Belanda pada masa itu. Kantor Pos Besar Medan dibangun dengan material lantai tegel, atap genteng dan tiang beton bertulang,” tuturnya.

Selain bangunan kantor, dia memaparkan, sepertinya Snuyf ‘Sang Arsitek’ juga menyertakan taman air mancur tepat di depan bangunan. “Namun, taman air mancur yang asli sudah direnovasi. Sebaliknya, taman air mancur yang ada sekarang tidak lagi menampilkan kekhasan material aslinya,” paparnya.

Meskipun begitu, menurutnya, bangunan Kantor Pos Besar ini menunjukkan kualitasnya. “Bangunannya masih asli dan tidak pernah direnovasi selain dicat. Ini menunjukkan kualitas bangunannya sangat baik bahkan masih bertahan meskipun sudah berumur puluhan tahun," katanya.

Di Eropa, desain bangunan seperti pada Kantor Pos Besar Medan dikenal dengan gaya arsitektur moderen fungsional (art deco geometric). “Jenis arsitektur ini merupakan generasi ke tiga setelah arsitektur klasik yang hadir sebelum 1910 dan arsitektur neo-klasik (art deco ornamental) sebelum 1920. Selain itu, bentuk atap Kantor Pos Besar Medan juga menunjukkan kekhasan yang berbeda dari bangunan kolonial lainnya yang terdapat di sekitarnya,” ucapnya.

Kantor Pos Besar Medan termasuk salah satu bangunan bersejarah yang tidak mengalami perubahan fungsi sejak awal didirikan. “Sudah selayaknya dipertahankan sebagai pembelajaran sejarah bagi masyarakat kota Medan,” katanya.

Restoran Tip Top

Masyarakat luar kota maupun mancanegara yang berkunjung ke Medan tak hanya disuguhi bangunan tadi saja. Mereka dapat menikmati kuliner enak di gedung bersejarah berikutnya, yakni Restoran Tip Top di ‘Kesawan’ (kini Jalan Ahmad Yani).

Restoran Tip Top merupakan restoran tertua di Kota Medan yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani, tidak jauh dari Tjong A Fie Mansion. Restoran ini tidak hanya  menawarkan menu khas ‘tempoe doeloe’, juga mempertahankan penggunaan peralatan masak serta perabotan yang terus digunakan secara turun temurun.

“Kawasan inibangun pada tahun 1939 dan Tip Top merupakan restoran tertua di Kota Medan . Deekorasi dan suasananya masih dibuat seperti kita bersantap tahun 1940-an. Restoran ini masih menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak yang sama dengan cara memasak dimasa lalu. Pilihan makanan Barat, Chinese dan lokal yang disajikan dengan harga yang pantas. Porsi yang sesuai dan rasa yang dapat diterima," ungkap Saufa.

Tempat ini, kata Saufa, sebenarnya juga jadi ‘permata’ yang tersembunyi. “Makanannya lezat. Apalagi, jika mendapat kesempatan makan malam di restoran ini, anda berada di bagian beranda restoran ini, santapan malam akan bernuansa nostalgia seperti suasana zaman kolonial,” ujarnya.

Bangunan ini memang berderetan dengan bangunan di sampingnya. Tidak sulit juga menemukan  restoran ini karena terletak di inti kota yakni di Jalan Ahmad Yani Kecamatan Medan Barat. Restoran ini adalah restoran yang tepat jika ingin menikmati suasana khas tempo dulu, yang dimunculkan dari interior bangunan dan menu yang khas.

Pertokoan di Jalan Ahmad Yani

Selain disuguhi tempat makan unik dengan desain bangunan tua, Jalan Ahmad Yani memang merupakan ruas tertua yang ada di Kota Medan. Bangunan-bangunan yang ada di dalamnya terdiri atas berbagai fungsi antara lain pusat perbelanjaan (pertokoan dan perniagaan)  dan perkantoran. Sehingga, kawasan ini sangat mumpuni saat menjadi daerah komersial.

Pada koridor Jalan Ahmad Yani, terdapat bangunan-bangunan penting dan bersejarah seperti Tjong A Fie Mansion, Gedung London Sumatera (Lonsum) dan tidak ketinggalan ‘Tip Top’. Namun, bangunan-bangunan menjadi sangat penting bagi masyarakat Medan karena nuansa arsitekturalnya yang khas. Apalagi, Jalan Ahmad Yani memang dinilai kawasan perniagaan yang cukup penting karena ada di pusat Kota Medan. 

Arcade yang ada di Jalan Ahmad Yani dulunya menerus sepanjang koridor jalan. Sayangnya, saat ini hal itu tidak terlihat lagi dan terputus oleh adanya bangunan baru yang tidak mengikuti pola bentuk bangunan lama.

Dalam Perda Kota Medan No.6 Tahun 1988 telah disebutkan bahwa bangunan-bangunan toko yang terdapat di sepanjang jalan ini tidak diperbolehkan untuk diubah bentuk muka bangunannya. Namun, kini, dapat dilihat, cukup banyak bangunan yang diubah muka bangunannya. Bahkan, beberapa dihancurkan dan diganti dengan muka bangunan yang terkini. 

Hal ini sangat disayangkan karena dari segi arsitektur, sejak dulu, bangunan di Jalan Ahmad Yani sudah memiliki kesamaan tata bangunan sehingga memunculkan karakter kawasan yang unik.

"Tidak diikutinya konsep ini akan menyebabkan memudarnya karakter kawasan ini, dan pada akhirnya, jika tidak diantisipasi, akan menyebabkan karakter ini tidak lagi terlihat oleh masyarakat," jelas Saufa.

Gedung Putih (Eks) Balai Kota Medan

Gedung Balai Kota Medan dulunya ditempati oleh Walikota Medan yang pertama yaitu Baron Daniel Mackay. Dahulu bangunan ini bernama Gehmeen Tehnis. Kekhasan arsitektural bangunan ini adalah gaya arsitektur eklektik yang mengambil bentuk arsitektur Renaissance Eropa, dengan sebagian lantai dasar bangunan ini berada di bawah tanah. Selain itu, bangunan ini juga memiliki jam yang disumbangkan oleh Tjong A Fie. Jam ini merupakan produk buatan Firma Van Bergen di Belanda. Dahulu, gedung ini sering dimanfaatkan pemerintah Belanda sebagai gedung pertemuan untuk para petinggi Belanda di Kota Medan. Kini, gedung bersejarah ini tidak lagi berfungsi sebagai balai kota dan sudah menjadi bagian dari Hotel Grand Aston yang berada tepat di bagian belakang gedung (eks) balai kota ini.

Begitu banyak tempat bersejarah yang dapat dikunjungi. Faktanya, bangunan-bangunan itu masih kokoh dan bisa dinikmati ‘wajahnya’ di masa kini. Maka, sebagai masyarakat, kita perlu berpartisipasi dalam menjaganya. Agar, ke depan, anak cucu kita dapat ikut melihat dan merasakan betapa megahnya bangunan-bangunan bersejarah tersebut.

()

Baca Juga

Rekomendasi