Delapan Prediksi Bencana Alam Besar Mendatang

BADAI, tornado, gempa dan bencana alam lainnya setiap tahun menimpa bumi yang kita huni ini. Kendati beberapa daerah yang terkena dampak lebih sering daripada di daerah lain, kebanyakan orang lebih takut pada cuaca ekstrim.

Para ilmuwan telah mem­pelajarai ben­cana alam sela­ma berabad-abad. Dan pada abad ke-21 ini banyak ilmu­wan mem­pre­diksi bencana alam lebih besar dan kuat yang akan terjadi dalam wak­tu dekat mau­pun di masa depan.

Berikut bencana-bencana alam, yang te­lah diprediksi dapat terjadi di masa men­da­tang.

1. Kebakaran Hutan,

Ame­rika (2016 - 2050)

Ilmuwan Lingkungan asal Har­vard School of Engi­neering and Applied Sciences (SEAS) memprediksi bahwa pada tahun 2050, Kebakaran Hutan akan terjadi selama lebih tiga minggu, dua kali lebih berasap dan akan me­micu kebakaran lebih besar per tahun.  US Geological Survey dan Dinas Kehu­tanan Amerika telah mencatat sejak tahun 1999, luas areal yang terbakar di Amerika meningkat tiga kali lipat 2,2 juta menjadi 6,4 juta per tahun.

Menurut SEAS, penye­bab­nya adalah perubahan iklim secara bertahap, yang telah meningkatkan suhu bumi. Dr Loretta J. Mickley, seorang peneliti di SEAS, me­nyatakan bahwa suhu akan menjadi penentu terbesar dari kebakaran di masa depan.

Lebih panas suhu, maka kemungkinan terjadinya ke­bakaran menjadi besar. Dinas Kehutanan telah mengkam­panyekan un­tuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dengan cara membersihkan se­mak-semak kering dari hu­tan. Dengan 30.000 - 50.000 Kebakaran hutan per tahun. Amerika bisa menjadi Nera­ka versi bumi.

2. Gempa Dahsyat, Chile (2015 - 2065)

Pada 1 April, 2014, gempa berkekuatan 8,2SR terjadi di 97 km di lepas pantai ba­rat laut chile dekat kota Lquique, menye­babkan tanah longsor dan tsunami.

Gempa ini bisa mencipta­kan kemung­ki­nan gempa lebih besar di Chili dalam waktu dekat karena lokasi gempa.

Gempa Lquique berasal dari zona sub­duksi dimana salah satu lempeng tektonik, yakni lempeng Nazca berada di ba­wah lempeng lain, Lem­peng Amerika Selatan.

Zona subduksi ini adalah bagian dari "Ring of Fire" dimana terdapat 75% dari gunung berapi aktif seluruh dunia, yang menyebabkan banyak aktivitas seismik.

Ketika lempeng tektonik bergerak menyebabkan lem­peng di bawahnya ikut ber­gerak itulah yang disebut gem­pa.

3. Gempa "Kembar", Je­pang (2017)

Dr. Masaaki Kimura, se­orang ahli seis­molog seka­ligus Profesor geologi dari Uni­­­versitas Ryukyu, mem­prediksi bahwa akan terjadi gempa 9,0 SR lain, sangat mirip dengan gempa Tohoku 2011, yang akan terjadi di Jepang pada tahun 2017.

Pada 11 Maret 2011, gempa berkekua­tan 9,0 SR, 372 km terjadi di lepas pantai timur laut dari Tokyo yang menimbulkan tsunami se­tinggi sembilan meter. Dr Kimura telah mem­prediksi gempa Tohoku 2011 empat tahun yang lalu, na­mun prediksinya ditolak oleh Pa­cific Science Congress.

Hipotesisnya didasari pada konsep "Mata Gempa". Mata gempa inilah yang menjadi prediktor terbaik dari mana dan kapan gempa akan terjadi.

Mata gempa adalah seba­gian dari empat langkah jang­ka pendek metode prediksi gempa, yang dijuluki "Meto­de Kimura".

4. Erupsi Gunung Fuji (2015-2053)

Ketika gempa Tohoku melanda Jepang, 20 dari 110 gunung berapi aktif di Jepang me­nunjukkan peningkatan aktivitas seis­mik. Para ahli yakin bahwa gu­nung-gu­nung tersebut bisa meletus kapan saja. Ba­dan Meteorologi Jepang (JMA) me­mantau aktivitas seismik dan gunung berapi aktif di Jepang.

Dari 110 Gunung berapi di Jepang, 37 dianggap "ak­tif", yang berarti mereka telah meletus dalam 10.000 tahun terakhir.

Perhitungan terkahir me­nunjukkan bah­wa Jepang me­miliki letusan gunung be­rapi besar setiap 38 tahun. Saat ini, 15 aktivitas vulkanik ter­jadi setiap tahunnya.

Salah satu dari 47 gunung berapi di Je­­pang, Gunung Fuji, adalah gunung ber­api tertinggi di Jepang, setinggi 3.773 meter.

5. Gempa dan Tsunami,

Oregon (2015-2065)

Kendati adanya upaya bersama 150 ahli, OSSPAC (BPBD versi Oregon), mem­­prediksi bahwa gempa berke­kuatan 8,0 - 9,0 SR dan tsu­nami akan terjadi di le­pas pantai Oregon dalam 50 tahun ke depan.

Yang menjadi pertanyaan besar: Kapan per­sisnya ben­cana alam itu terjadi, dan apakah Oregon sudah siap menghadapinya ?

Gempa-tsunami Oregon terdapat zona subduksi Cas­cadia, 1.287 km di dalam ke­­rak bumi dan 97 km dari pantai Oregon.

Zona subduksi ini diang­gap sebagai zona subduksi paling tenang di dunia, te­ta­pi saat ini zona tersebut me­nyem­buyi­kan aktivitas seis­mik terbesar abad ini. Kejad­ian ini telah dipre­diksi sejak tahun 2010.

6. Kenaikan Permukaan

Laut (2050 - 2100)

Oktober 2012, Badai San­dy meneng­gelam­kan bebe­rapa kota, karena kekuatan­nya, badai tersebut hanya ter­jadi sekali sel­ama 700 tahun menurut NASA.

Namun begitu, seiring ber­jalannya wak­tu, naiknya per­mukaan laut bisa me­neng­ge­lamkan kota besar pada tahun 2050.

Suatu studi pada tahun 2012 yang dila­kukan Profesor John Boon dari Virgi­nia Ins­titute of Marine Science me­nya­takan pe­rubahan signi­fikan permukaan laut se­pan­­jang pantai timur dari Key West, Flo­rida, ke Newfoun­dland, Kanada, dimu­lai se­kitar tahun 1987.

Studi tersebut menun­juk­kan bahwa per­mukaan air laut meningkat 0,3 milimeter per tahun. Penelitian ini bersa­maan dengan studi US Geo­logical Survey yang dilaku­kan para ilmuwan di Florida yang me­nyatakan bahwa permukaan laut di Pantai Timur meningkat tiga atau empat kali le­bih cepat dari­pada di tempat lain di dunia.

Daerah pesisir di timur laut Amerika yang saat ini diang­gap lebih beresiko, karena nilai properti utama dan garis pantai buatan di tempat se­perti New York yang bisa tenggelam pada tahun 2050.

Diperkirakan pada tahun 2050 permu­kaan air laut naik sekitar 79 cm. Inilah alasan mengapa mantan walikota New York Michael Bloom­berg mengusulkan $20 Miliar untuk membuat sistem banjir pada tahun 2013 sebelum dia berhenti. Na­mun rencana ini tidak masuk dalam ren­cana pembangunan.

7. Tsunami Terbesar, Tidak diketahui

Dr. Simon Day dari Uni­versity College London dan Dr. Steven Ward dari Uni­ver­sity of California Santa Cruz mem­prediksi bahwa gunung berapi Cumbre Vieja di Ke­pulauan Canary akan meletus dan mencip­takan tsunami terbesar sepan­jang sejarah.

Dalam makalah mereka yang ditulis pada tahun 2001, Dr. Day dan Dr. Ward ber­hipotesis bahwa struktur gu­nung berapi dari erupsi ter­akhir, menyebakan sisi kiri dari gunung tersebut menjadi tidak stabil.

Jika Cumbre Vieja meletus lagi, sisi kiri tersebut akan long­sor sehingga akan me­n­yebab­kan tsunami.

Mereka telah menyim­pul­kan bahwa gel­ombang me­ngerikan akan berkece­patan 800 km/jam, dengan tinggi 100 me­ter, dan akan mencapai Florida dalam wak­tu 9 jam, bahkan tsunami ini bisa men­­­capai tempat terjauh seperti Inggris, Florida, dan Karibia. Ini adalah skenario terburuk.

8. "Big One", California (2015-2045)

US Geological Survey telah mening­kat­kan kemung­kinan gempa 8,0 SR atau lebih besar akan melanda California dalam be­berapa dekade men­datang. "Big One" me­ngacu pada gempa yang ditunggu masya­rakan California sela­ma ber­tahun-tahun.

UCERF3 mem­prediksi letusam gempa dan menya­takan bahwa gempa berke­kuatan 8,0 SR atau lebih besar berpeluang tujuh per­sen terjadi dalam waktu 30 tahun menda­tang. Jika itu terjadi, kemung­kinan besar akan terjadi di patahan San Andreas yang men­­cakup selatan California sampai Los Angeles.  Namun ada banyak speku­lasi dari pata­han mana gempa akan berasal. Beberapa pi­hak me­ngatakan "Big One" bera­sal dari Hay­ward Sesar dekat Bay Area dan San Fran­cisco. (ltvc/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi