Mengingat Kembali Pendaki Berkarib Sastra

Oleh: Elsa Vilinsia Nasution

Sastra tak hanya dikenal oleh kalangan muda dan tua. Begitu banyak sastrawan mengaitkan antara sastra dengan politik, ekonomi, cinta, sosial, alam dan lainnya. Setiap penulis mendeskripsikan sastra sebagai hobi dan panggilan hati.

Berbicara tentang hobi, ternyata penulis Indonesia ada yang menghubungkan sastra dengan kegemarannya. Seperti mendaki gunung yang jarang diminati oleh orang lain yakni Soe Hok Gie.

Gie dikenal sebagai salah satu aktivis yang aktif di era Orde Lama dan Orde Baru. Dia banyak menuangkan kegelisahan terkait keadaan politik di Indonesia melalui buku hariannya. Kemudian diterbitkan menjadi buku setelah dia meninggal yaitu Soe Hok Gie; Catatan Seorang Demonstran (1983). Soe Hok-Gie sekali lagi, Orang Orang Di Persimpangan Kiri Jalan (1997), dan Di bawah Lentera Merah (1964). Bahkan kisah hidupnya difilmkan di bioskop tahun 2005 yang diperankan oleh Nicholas Saputra.

Mengulas kembali tentang Gie. Dia menghabiskan masa kecil sampai remajanya ke perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggiran jalan Kota Jakarta. Di saat itu, anak-anak lain seumurannya masih suka keluyuran main layangan dan kelereng. Gie malah sebaliknya. Dia lebih suka mengisi masa kecil-remajanya dengan membaca. Puluhan dongeng sastra klasik, filsafat, sejarah, dan biografi tokoh-tokoh yang mengubah dunia.

Di usia lima belas tahun, Gie telah membaca tentang dinamika politik di berbagai sudut belahan dunia. Tentang berbagai macam pergolakan sejarah pemikiran yang bermunculan dari jaman ke jaman. Dari mulai filsafat klasik yunani, ide-ide utopis sebuah masyarakat yang ideal seperti Marx, Paine, Hobbes, Hegel.

Soe Hok Gie dikenal juga sebagai demonstran dimasa orde lama. Perawakannya kecil, alim. Senjatanya hanya pena dan mesin tik. Ketajaman tulisannya di harian Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia dan Indonesia Raya. Membuat seluruh para politikus korupsi saat itu gerah.

Gie tak  pernah sembarangan menulis dan pastinya bukan tipe mahasiswa yang asal kritik saja. Dia tahu benar situasi ekonomi, politik, masalah sosial, peran pemerintah, dan konsekuensinya bagi masyarakat luas. Gie memaknai apa yang sedang dia perjuangkan, 

Gie merupakan pecinta alam sejati yang mencintai sastra. Begitu besar cintanya pada sastra dalam pendakiannya. Gie waktu itu masih mahasiswa aktif di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Memiliki ide bersama dengan beberapa temannya, Gie menginisiasi terbentuknya UKM di kampus UI. Organisasi tersebut mereka beri nama Mapala UI. Jadi, bisa dikatakan Mapala UI, organisasi pecinta alam tingkat kampus paling tua di Indonesia.

Tak hanya itu. Gie sosok pecinta alam yang gemar menulis puisi. Ketika mendaki gunung, puisi-puisi itupun hidup dalam dirinya. Gie banyak bercerita tentang kegelisahan-kegelisahan yang dia rasakan. Terkait kondisi politik, alam dan cinta. Salah satu puisi terindah dari Gie, banyak disukai oleh pendaki gunung berjudul Mandalawangi-Pangrango. Adapun puisinya seperti yakni: 

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu/aku datang kembali ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu//walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna/aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan/dan aku terima kau dalam keberadaanmu/seperti kau terima daku//aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi/sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada//hutanmu adalah misteri segala/cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta//malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti/Mandalawangi Kau datang kembali/dan bicara padaku tentang kehampaan semua//

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya” tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar/Terimalah dan hadapilah//dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara/aku terima ini semua/melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu//aku cinta padamu Pangrango/karena aku cinta pada keberanian hidup.

Dari makna puisi Soe Hok Gie jujur menyatakan perasaan cintanya pada alam. Kehidupannya penuh rintangan soal keberanian serta kemenangan akan kebebasan. Sebagai sosok idealis, sifat itulah kemudian dikagumi oleh banyak orang. Khususnya mahasiswa dan pendaki gunung.

Dalam hidupnya, Gie selalu menjadi diri sendiri. Dia bahkan tak ragu mengkritik pemerintah tanpa rasa takut sama sekali meskipun mungkin itu membahayakan dirinya sendiri. Selain itu, ada makna salah satu puisinya, Gie pernah menyebut orang yang paling bahagia di dunia adalah mati muda. Entah kebetulan atau memang sudah takdir, Gie akhirnya menutup usia di masa muda pada usia yang belum genap 27 tahun. Dia meninggal di Gunung Semeru karna menghirup gas beracun. Kepergiannya hanya satu hari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-27. 

Tak hanya Soe Hok Gie yang dikenal sebagai penulis yang hobi mendaki gunung. Ada juga Gol A Gong sastrawan yang sudah tak asing lagi bagi traveler dan pendaki gunung. Begitu cintanya dengan alam dan perjalanan Gol A Gong selalu menulisnya setiap dia berpetualang.

Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media massa dan terbit berupa buku.  Salah satunya Balada Si Roy. Kemudian ada Norman Edwin, tak hanya dikenal sebagai seorang petualang yang tangguh. Dia merupakan seorang piawai dalam dunia jurnalistik. Baik motret atau pun membikin tulisan.

Dia memang sempat jadi wartawan Mutiara, Suara Alam dan Kompas. Belum lagi tulisan-tulisannya yang tersebar ke berbagai media massa. Gaya tulisan Norman memiliki ciri khas yang unik. Dari beberapa pendaki gunung yang berkarib sastra ini, bisa menjadi motivasi dan bekal buat kita di generasi sekarang. Menulis adalah simbol kebebasan hati dan bisa menjadi acuan bahwa perjalanan bukan hanya untuk senang-senang semata.

()

Baca Juga

Rekomendasi