Oleh: Jenni Sara, SE. Game Pokemon Go sudah merambah ke kota Medan. Kehadirannya membuat kawula muda yang meminatinya bersorak, sementara orangtua sangat mengkhawatirkan dampak yang diakibatkannya.
Game Pokemon Go telah menjadi permainan yang mampu menyita perhatian masyarakat internasional. Hampir semua negara telah dilanda permainan yang satu ini.
Berbagai media juga turut “membantu” membuat game yang satu ini kian populer karena terlalu sering diberitakan, sehingga pada akhirnya membuat banyak kalangan merasa penasara. Game yang satu ini benar-benar telah melahirkan fenomena baru yang mungkin tidak diprediksi sebelumnya.
Bahkan belakangan diketahui pula bahwa penggunaan aplikasi yang satu ini telah melahirkan sejumlah dampak buruk, bahkan hingga merenggut korban jiwa.
Di Indonesia sendiri, game Pokemon Go juga sudah mulai hangat diperbincangkan dan bahkan dipergunakan. Padahal game ini belum secara resmi diluncurkan di Asia. Era teknologi informasi membuat sebuah aplikasi permainan bisa disebarkan secara cepat. Kunci utamanya tinggal seberapa menarik permainan itu, karena sebenarnya sekarang distribusi bukan lagi persoalan.
Dunia seakan telah terhubung lewat komputer dan telepon genggam. Makin menarik suatu aplikasi, makin cepat pula tersebar. Itulah yang terjadi pada Pokemon Go. Game tersebut sangat menarik, karena memadukan dunia maya dengan dunia nyata pada kondisi terbarunya. Dalam terminologi teknologi informasi, karakteristik itu dikenal sebagai augmented reality.
Suatu produk permainan yang mengandalkan virtual reality saja sudah sedemikan asyik. Padahal realitas yang ditambahkan bukanlah hasil transfer dari keadaan yang sedang terjadi. Pokemon Go menggunakan teknologi yang lebih maju. Realitasnya menjadi lebih terasakan. Perpaduan antara kamera ponsel, peta dalam jaringan internet, dan teknologi yang mengeksplorasi global positioning system (GPS) membuat monster-monster atau Pokemon itu seakan hadir di dekat kita. ”Kehadiran” monster-monster itu di tempat-tempat yang nyata membuat para pemain meninggalkan rumah. Jadilah game itu mengubah lingkungan permainan. Biasanya game bisa dimainkan sambil duduk-duduk di rumah, tetapi kali ini tidak.
Komunitas-komunitas baru pun bisa terbentuk dengan cepat. Tren itu juga menjadi penegas betapa saat ini zaman memang benar-benar telah diubah dengan teknologi informasi. Hal-hal yang bersifat serius sudah difasilitasi jaringan internet yang diakses dengan komputer dan telepon genggam. Misalnya saja saat orang mendaftar perguruan tinggi atau berurusan dengan bank.
Selain itu, makin banyak aktivitas pengisi waktu senggang yang difasilitasi teknologi informasi. Pada masa depan, fasilitas itu diperkirakan makin canggih dan beragam. Gambaran tersebut didasarkan oleh apa yang sudah diberikan Pokemon Go.
Game ini tidak hanya membuat orang menyibukkan diri dengan alat, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, paling tidak dengan tempat-tempat yang ditandai agar didatangi. Kecanggihan itu akhirnya memang memunculkan persoalan.
Sejumlah kecelakaan telah terjadi, karena terlalu asyiknya pemain menggunakan telepon pintarnya. Kekhawatiran bakal terjadi penurunan produktivitas di tempat kerja maupun di sekolah pun muncul. Bahkan penggunaan kamera dalam permainan ini secara tak sengaja menjadi sarana penyampaian data ruang yang sebenarnya tak boleh begitu saja disebarluaskan. Dugaan itu membuat Pokemon Go dianggap sebagai media yang bisa dimanfaatkan intelijen asing untuk kepentingan strategi militer.
Kini, saking tingginya animo publik, Niantic terpaksa menunda rilis global Pokemon Go dan membatasi hanya pengguna di Amerika Serikat, Australia dan Selandia Baru yang bisa mengunduh permainan tersebut. Namun para penggila Android di luar tiga negara itu tidak kehabisan akal. Demi bisa mencoba permainan mereka rela mengunduh file instalasi Pokemon Go dalam bentuk APK dan memasangnya ke dalam ponsel Android mereka. Padahal cara ini sebetulnya memangkas sistem pengamanan bawaan Android yang tidak membolehkan instalasi aplikasi di luar jalur resmi yaitu Google Play Store.
Fatal
Game yang mengandalkan jaringan Global Positioning System (GPS) ini sudah mampu menyamai, bahkan menyalip beberapa nama game legenda yang pernah berada di barisan teratas yang ada di smartphone. Ini merupakan momentum tumbuhnya industri game yang berbasis Smartphone. Namun, perlu diingat oleh para penikmat game untuk tidak larut sehingga menjadi kecanduan. Jika dimainkan sungguh-sungguh, game ini bisa menghabiskan waktu untuk mencari Pokemon ke sana kemari di luar rumah. Bahaya fatalnya bisa membuat orang saling bertabrakan.
Jika tidak hati-hati, game Pokemon Go dapat menimbulkan bahaya lainnya bagi pemainnya. Sebab tanpa disadari, permainan mencari monster itu bisa membuat pemain lupa akan keberadaannya di sebuah tempat. Karena terlalu nafsu ingin menangkap mosnter, bisa-bisa keselamatan diri sendiri diabaikan. Karena itu ada baiknya apabila tempat-tempat yang dijadikan lokasi perburuan monster-monster tersebut berada di kawasan taman atau lapangan. Jangan di jalan karena akan berakibat fatal.
Apalagi permainan Pokemon Go ini akan mengajak para pemainnya untuk berburu berbagai macam jenis monster Pokemon dengan cara menjelajahi setiap sudut lokasi.
Jangan main game ini saat berkendara. Bermain Pokemon Go ini berarti mengajak untuk aktif bergerak.
Jalan keluar rumah dan memburu monster di berbagai lokasi pasti dijalani. Nah, jangan sekali-sekali bermain game ini saat Anda sedang berkendara. Jika tetap ngebet, sebaiknya parkir kendaraan, dan berjalan kakilah mengikuti arahan di mana monster-monster Pokemon bisa didapatkan.
Ketika sedang asyik bermain, hal kerap terjadi adalah lupa dengan situasi sekitar. Bermain Pokemon Go dengan menggunakan smartphone, apalagi di tempat yang ramai dan rawan kejahatan sangat tidak dianjurkan. Bisa-bisa Anda akan menjadi korban penjambretan. Pun di tempat yang sepi, karena bisa mengundang orang untuk berbuat jahat ketika melihat Anda sedang asyik bermain ponsel.
Untuk menghindari terjadinya kasus penjambretan, ajaklah teman-teman lain untuk berburu bersama-sama. Selain lebih aman, perburuan pun akan semakin mengasyikan. Tapi jangan juga gara-gara rebutan monster, kemudian berkelahi dengan teman sendiri. Hal yang harus selalu diingat adalah bahwa Pokemon Go ini hanya game. Hal lain yang perlu dihindari adalah jangan masuk ke rumah orang.
Karena monster Pokemon bisa menyebar dimana-mana, termasuk rumah, kantor, atau pekarangan orang lain, sebaiknya tidak sembarangan memasukinya. Bukan apa-apa, kita pasti tidak ingin dituduh pencuri atau orang mencurigakan yang akan berbuat negatif di rumah atau pekarangan orang lain kan?
Itulah beberapa dampak buruk yang kemungkinan muncul sebagai akibat dari penggunaan game Pokemon. Oleh sebab itu, mengingat begitu banyaknya dampak buruk yang akan ditimbulkannya, maka sebaiknya kita dapat bersikap bijak dalam rangka merespons kehadiran game yang satu ini. Jangan sampai gara-gara permainan game, kita harus menanggung dampak buruk yang semestinya bisa kita hindari.
Disinilah dibutuhkan kearifan dan kebijaksanaan kita dalam rangka menghadapi perkembangan teknologi dan informasi yang kian canggih. ***
Penulis adalah berprofesi sebagai pendidik, pemerhati ekonomi, sosial dan politik di Kota Medan










