Oleh: Rani Fitria
KEBERADAAN dan fungsi musik terus beriringan dengan peradaban manusia. Seiring berjalannya waktu, industri musik turut memberikan pengaruh. Dapat dilihat ketika musik menjadi sebuah gaya hidup dan seni yang komersil. Jika kita telisik lagi sejarahnya, suara pertama kali dapat direkam pada tahun 1877. Pada saat itu Thomas Alfa Edison berhasil menciptakan sebuah alat bernama fonograf.
Teknologi terus berkembang, hingga perekaman musik menjadi masif. Tahun 1920-an musik secara populer dapat didengar dan dipromosikan melalui radio. Ini menjadi awal peran industri musik mempengaruhi keberadaan musik itu sendiri. Dari teknologi analog ke digital.
Kini pada era digital, industri musik tidak lagi hanya berpusat pada major record label. Atau yang lebih sering disebut sebagai bisnis musik tradisional. Konsep baru dalam bisnis musik bermunculan. Seperti Do It Yourself (DIY), Entrepreneur Model, 360 Model dan Circular Model.
Konsep-konsep baru tersebut tampaknya menjadi alternatif. Terutama bagi artis atau komposer yang ingin berkecimpung dalam industri musik secara independen. Tentu saja konsep ini menawarkan kebebasan dalam berkarya. Pemusik juga dapat mengatur strateginya sendiri untuk mempromosikan musik.
Keadaan ini diuntungkan dengan kehadiran media sosial. Bukan menjadi barang asing lagi ketika media sosial menjadi sarana marketing yang efisien. Pemusik independen tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyewa tim promosi. Media sosial dapat digunakan sebagai sarana promosi musik tanpa biaya.
Dampak besar media sosial terhadap musik dapat dilihat dalam data. Pada majalah Forbes Top 10 orang yang paling banyak diikuti (followed) secara global di Instagram pada tahun 2017. Peringkat pertama diduduki oleh Selena Gomez. Superstar muda ini memiliki jumlah follower sebanyak 103 juta. Dalam satu tahun belakangan, follower di Instagram Selena Gomez meningkat tajam. Ada sebanyak 50 juta follower.
Posisi kedua adalah penyanyi dan komposer cantik Taylor Swift dengan jumlah follower 94,1 juta. Peringkat ketiga, diisi oleh Ariana Grande. Jumlah follower-nya hanya selisih sekitar 4 juta, yaitu 90,5 juta.
Di Indonesia sendiri, artis dengan jumlah follower paling banyak di Instagram adalah Ayu Ting Ting. Follower-nya sebanyak 20 juta. Penyanyi dangdut muda ini berhasil mengalahkan penyanyi yang selalu berpenampilan glamour, Syahrini. Syahrini yang terkenal dengan jargon-jargon unik dan gaya bicaranya yang khas memiliki jumlah follower sebanyak 18,2 juta. Posisi ketiga diisi oleh pembawa acara musik, Raffi Ahmad, sebanyak 18 juta follower.
Ini menjadi bukti bahwa media sosial didominasi oleh musik. Jumlah follower bagi artis adalah keberhasilan dalam kepopuleran. Bagi para fans, following menjadi sebuah dukungan nyata. Kemudian menjadi sarana utama untuk tetap mendapatkan info terbaru yang sah. Ini adalah sebuah revolusi bagaimana hubungan audiens dengan pemusik yang terbangun tidak hanya dalam sebuah penampilan secara langsung.
Banyaknya platform media sosial, masing-masing memiliki keunikan tersendiri dalam penggunaannya. Berikut adalah beberapa media sosial yang paling banyak digunakan oleh artis atau pemusik. Untuk mempromosikan dan terhubung kepada pendengarnya.
Pertama adalah Facebook Fan Pages. Platform ini menjadi pilihan banyak artis untuk berinteraksi dengan fans. Hal ini dikarenakan Facebook memiliki 1,65 miliyar pengguna aktif di seluruh dunia. Sampai sekarang, media sosial yang diciptakan Mark Zuckerberg ini masih menjadi media yang paling banyak digunakan. Kelengkapan fitur yang ada dalam facebook bisa menjadi alasan utama menjadikannya raja media sosial. Foto, video dan teks yang dapat di unggah secara tidak terbatas membuat Facebook sebuah sarana marketing yang sangat stategis dan mudah digunakan.
Berikutnya adalah pesaing Facebook, yaitu Instagram. Fitur yang disediakan oleh instagram sedikit terbatas. Instagram adalah sarana berbagi gambar dan video yang berdurasi 1 menit. Jika promosi dikemas secara apik, keterbatasan durasi dapat menjadi daya tarik bagi pendengar.
Kelebihan yang ditemukan pada Instagram adalah penggunaan # (hashtag). Fitur yang dapat memberikan artis atau pemusik mendapatkan lebih lagi dukungan atau feedback mengenai konten yang mereka kirim. Dalam kenyataannya, hashtag berhasil menjadi sebuah fenomena budaya bagi masyarakat dalam menyuarakan atau mendukung sesuatu. Tidak hanya dalam musik.
Tren media sosial selanjutnya adalah Snapchat. Platform ini menghubungkan artis dengan para fans secara instan. Snapchat adalah sarana yang unik untuk mengirim konten yang singkat, namun autentik. Artis menggunakan snapchat untuk tetap terhubung dengan para fans secara lebih intim. Melalui Snapchat, para artis lebih ekspresif untuk membuat konten-konten unik yang bersifat original dari diri mereka sendiri.
Sosial media yang terakhir adalah Twitter. Keunggulan yang terdapat pada Twitter adalah Retweet. Retweet menjadi ukuran bagaimana konten artis atau pemusik terus di terbitkan ulang oleh para fans. Sangat penting untuk diperhatikan, konten yang di kirim menarik dan bijak.
Perkembangan media sosial dan keunikan-keunikan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ternyata memberikan pengaruh yang lebih spesifik. Seperti dalam kasus artis dari major record label (tradisional).
Pertama tentu saja mengenai pengaruh strategi artis atau manajemen terhubung dan terus mendapat dukungan oleh fans mereka. Media sosial seolah memberikan sensasi berhubungan secara langsung kepada artis melalui kolom komentar. Dukungan melalui like dan men “share” (membagikan) konten dari akun artis.
Kedua adalah berubahnya cara masyarakat menikmati musik. Kondisi ini menyebabkan menurunnya angka penjualan rekaman fisik atau CD. Cara lain masyarakat menikmati musik pada era digital adalah melalui online atau streaming. Soundcloud, YouTube dan Spotify adalah contoh dari sekian banyaknya media streaming. Media ini dapat diakses secara gratis (tanpa akun berlangganan) dengan kualitas suara yang baik.
Soundcloud adalah media musik dan podcast streaming yang banyak digunakan pemusik. YouTube sebagai platform video terbesar memberikan suguhan yang lain menikmati musik dengan audio visual. Kreatifitas musik yang ditampilkan pada sebuah video musik atau sebuah penampilan langsung yang direkam.
Spotify menyediakan akun premium berlangganan. Dengan akun premium ini kita dapat memiilih dan mengunduh lagu yang kita inginkan, Jika kita tidak berlangganan akun premium, musik masih dapat di akses secara gratis dengan mode acak.
Berubahnya gaya masyarakat menikmati musik secara streaming menjadi sorotan utama. Karena penjualan rekaman fisik masih menjadi tolak ukur pendapatan pemusik. Fitur yang dapat membantu pendapatan pemusik secara streaming adalah akun premium Spotify dan video monetisasi dari Youtube. Monetisasi pada YouTube merupakan cara menghasilkan uang dari iklan yang ditampilkan pada video berdasarkan jumlah view (penonton). Semakin banyak yang menonton video tersebut, maka semakin banyak pula target penonton yang disuguhkan iklan.
Pada tahun 2010, pendapatan rekaman musik secara global menurun, hingga 8%. Diperkirakan terhitung hingga 1,5 milyar dolar Amerika. Pembelian musik secara digital (download) meningkat 5,3% (4,6 milyar dolar amerika). Tidak dapat mengimbangi penurunan angka penjualan rekaman fisik sebesar 14,2% atau 10,4 milyar dolar Amerika.
The Nielsen Company pada tahun 2014 melakukan penelitian bagaimana orang-orang menghabiskan uang untuk musik. Pada penelitian ini diungkapkan bahwa penggunaan paling besar adalah pembelian tiket untuk menonton konser, mencapai 35%. Ini menekankan, meskipun menikmati musik gaya streaming menjadi populer, tetapi sensasi menikmati musik dan berinteraksi secara langsung masih menjadi pilihan favorit.
Konser tur dunia selalu menjadi penampilan yang ditunggu-tunggu para penggemar. Misalnya konser World Tour Bruno Mars, akan dilaksanakan di Sydney. Mulai dari tiket VVIP, hingga festival telah habis (sold out) dalam hitungan jam. Meskipun jadwal konsernya akan dilaksanakan pada Maret 2018 mendatang. Tak jarang juga para penggemar harus mengeluarkan uang lebih banyak. Ketika negaranya tidak dikunjungi pada konser tur dunia tersebut.
Penggemar harus membeli tiket pesawat pulang-pergi, tiket konser, ditambah biaya akomodasi selama di luar negeri. Biaya tersebut hanya bertujuan untuk menikmati konser idola mereka. Beberapa bulan lalu, media sosial dipenuhi oleh penggemar Coldplay Indonesia.
Konser tur dunia Coldplay bertajuk “A Head Full of Dreams” banyak diposting. Dikarenakan Indonesia tidak dikunjungi pada rangkaian tur tersebut, penggemar Indonesia harus nonton di beberapa negara tetangga terdekat. Seperti Singapura dan Bangkok.
Penelitian dilakukan Sanjeev Dewan tentang Social Media, Traditional Media, and Music Sales. Mengungkapkan, teknologi dan digitalisasi dapat di dianalisis menjadi sebuah gangguan (disruption) dalam industri musik.
Gangguan tersebut menjadikan musik memiliki dua karakteristik. Yaitu musik sebagai benda atau produk yang bersifat informatif dan musik sebagai sebuah pengalaman. Fakta musik sebagai benda atau produk informasi dapat dilihat dari banyaknya musik yang dibagi, di distribusikan dan dinikmati secara gratis.
Keberadaan media sosial, ini menjadi sebuah bukti yang sangat kuat. Karena media sosial memiliki banyak cara alternatif untuk menemukan banyak seniman baru, memberi rekomendasi dan cara mengkonsumsi musik. Musik sebagai sebuah pengalaman, dapat dilihat dari bagaimana bentuk apresiasi orang-orang terhadap musik.
Penulis adalah mahasiswa di Macquarie University, Sydney











