Oleh: Dewanty Ajeng Wiradita
PERSEBARAN dokter anak di Sumatera Utara belum merata. Utamanya di daerah-daerah dengan jumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang masih minim. Untuk itu, para lulusan dokter spesialis anak ditugaskan ke daerah-daerah tersebut sebagai bentuk pengabdian sesuai Peraturan Presiden.
"Kebanyakan tenaga dokter anak masih bertumpuk di ibu kota provinsi atau kota-kota besar. Agar merata, sekarang diterapkan aturan penugasan mereka harus kerja dulu di daerah baru di Kota Medan. Setelah selesai sekira 2-3 tahun, lapor ke kita baru kita evaluasi," ujar Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Wilayah Sumut, dr Agusnadi Talah SpA pada Pelantikan Dokter Spesialis Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara di Hotel Santika Jalan Kapten Maulana Lubis Medan, Selasa (18/7).
Ia turut menyampaikan, Perpres dimaksud adalah Perpres Nomor 4/2017 yang mencantumkan lima bidang kesehatan wajib kerja ke daerah, yakni spesialis anak, penyakit dalam, bedah, anestesi dan kebidanan. Untuk itu, IDAI Sumut mengikuti arahan IDAI pusat berdasarkan Perpres ini. IDAI Sumut sendiri mengoordinasikan tenaga dokter anak di wilayah Sumut dan Pulau Simeulue.
Daerah-daerah yang relatif minim dokter anak di sekitar Sumut, sebut Agusnadi meliputi daerah kepulauan seperti Nias dan daerah pesisir seperti Mandailing Natal. Namun secara keseluruhan wilayah cakupan IDAI Sumut, belakangan ini sudah diupayakan mulai nampak menyebar secara merata. "Kalau sebelumnya di Kota Rantauprapat masih 2-3 orang dokternya. Sekarang sudah bertambah," imbuhnya.
Kepada setiap lulusan pendidikan dokter anak, khususnya pada 16 orang yang baru dilantik pada kesempatan ini, ia berpesan agar lebih mandiri menyelesaikan persoalan kesehatan anak. Juga untuk berpartisipasi aktif dengan lembaga-lembaga kesehatan seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN. "Mereka jelas butuh tenaga dan pemikiran dari para dokter anak, termasuk program 1000 hari pertama kehidupan anak," imbaunya.
Kepala Bagian Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU, dr Supriatmo, MKed(Ped), SpA(K) juga menegaskan agar para alumni tetap berkarir dengan memenuhi etika profesi. "Tetaplah berkarir di jalur yang baik agar membangun nama baik almamater kita sehingga bisa bersaing di luar.
Urusan penghasilan, tak perlu khawatir. Hal terpenting adalah bagaimana bisa bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran USU meluluskan 16 peserta didiknya. Keenam belas lulusan yakni dr Ratna Sari Bagus, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Dame Lamtiur Sitompul, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Ifrah Ayuna Siregar, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Siti Habsyah Masri, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Melati Mandasari Nasution, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Ratna Dewi, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Nova Juliana Sagala, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Rocky Edy Parlindungan, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Carolus Trianda Samosir, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Deddy Eka Febri Liestiadi, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Erlita Wienanda Syarif, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Munarza Muzakkir, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Fadhilah Elvina, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Nopita Hidayah, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Sofiah Marlina Hutasuhut, M.Ked(Ped) Sp.A, dr Austin Simon Tjowanta, SpA.
Salah satu lulusan, dr Rocky Edy Parlindungan, MKed(Ked), SpA mengaku ini merupakan titik awal karier ia dan rekannya sebagai dokter anak dan berusaha maksimal. "Saya berjanji akan update dengan ilmu kami karena ilmu kedokteran sifatnya berkembang," ucapnya.
Acara ini turut dihadiri perwakilan Direktur RSUP H Adam Malik, Dr dr Fajrinur Syarani, MKed(P) SpP(K), Direktur RS USU dr Azwan Hakmi Lubis SpA MKes dan segenap keluarga para alumni.











