Ingin Menyamai Jurrasic Park

Rusia Bangun Fasilitas Kloning Hewan Purba

MENGHIDUPKAN kem­bali he­wan-hewan yang te­lah punah mungkin dianggap seba­gai hal yang mus­tahil. Tapi sekelompok peneliti di Rusia be­rencana un­­tuk me­ngembangkan penelitian demi mengem­ba­likan hewan-he­wan yang telah punah dengan cara kloning.

Para peneliti harus merangkai pecahan DNA dengan tepat untuk memghidupkan kembali hewan yang telah punah, tapi ada juga ke­mungkinan hewan punah yang dikloning langsung mati akibat kondisi komplikasi.

Rusia berencana mencipta­kan sebuah pusat penelitian dan la­bo­ratorium kloning hewan purbakala di Siberia. Di pusat penelitian ter­sebut, mereka akan berusaha meng­hidupkan hewan-hewan pur­bakala yang sudah punah.

Menurut sebuah riset yang di­publikasikan di jurnal Nature Ecology & Evolution pada 2017, ren­cana untuk menghidupkan spesies yang sudah punah dapat meng­gang­gu spesies yang hidup seka­rang.

Dalam riset tersebut, jika dana yang tersedia terbatas, maka usaha menghidupkan kembali spesies yang sudah punah ber­kemung­kinan dapat menyebab­kan kepu­nahan pada spesies lain yang ada sekarang.

Sebagai contoh, jika Selandia Baru menghidupkan kembali 11 spe­sies aslinya, maka pemerin­tah­nya akan mengorbankan usaha perlindungan 33 spesies lain yang masih hidup demi 11 spesies yang dihidupkan kembali.

"Bakal ada yang menjadi kor­ban," ujar Joseph Bennett, profesor bio­logi di Carleton Uni­versity se­ka­ligus pemimpin riset ini, dilansir Live Science.

"Tanpa adanya peningkatan besar anggaran, maka yang ter­jadi adalah skenario maju satu langkah, mundur dua langkah," tambahnya.

Namun, tidak semua peneliti me­nyetujui argumen yang disam­p­aikan Bennet. Ronald Sandler, Direktur Ethics Institute di Nor­theastern University, berpendapat yang berbeda. Menurutnya, meski biaya sangat penting bagi usaha per­lindungan spesies, tapi ada isu lain yang bisa menjadi argumen untuk mewujudkan usaha meng­hi­dupkan kembali spesies punah.

"Kita mungkin memiliki suatu spesies yang sangat penting ke­hadirannya sebagai simbol atau ke­budayaan. Dan tentu hal itu bisa men­jadi alasan kuat untuk mela­kukan itu (menghidupkan kembali spesies punah)," jelas Sandler.

Dalam film 'Jurassic Park', kita bisa melihat bagaimana dinosau­rus bisa dihidupkan kembali. Tapi, di dunia nyata sendiri, hal ini ma­sih menjadi sebuah misteri. Kalau pun bisa, bakal butuh waktu yang sangat lama.

Sebelumnya, peneliti hanya berhasil menghidupkan kembali spesies Pyrenean ibex atau Capra pyrenaica pyrenaica.

Spesies tersebut adalah kam­bing yang berasal dari semenan­jung Iberia, Spanyol, dan telah pu­nah. Pada 2009, peneliti me­la­porkan di jurnal Theriogenology bahwa mereka berhasil mengklo­ning embrio dari ibex dan mena­na­mnya di rahim dari kambing bia­sa. Namun bayi betina ibex ha­nya berhasil hidup selama be­berapa menit setelah lahir, dia mati akibat kelainan di paru-parunya.

Meski demikian, usaha meng­hidupkan kembali spesies punah masih dianggap positif oleh para peneliti. Pada 2015, peneliti dari Harvard mengumumkan bahwa mereka menggunakan teknik edit genetik CRISPR untuk mengga­bungkan gen mammoth dengan gen gajah.

Secara teori, hal tersebut akan menghasilkan sebuah spesies ga­jah hibrida atau sejenis mam­moth berbulu.

Hasil temuan riset

Dalam riset tersebut para pene­liti menemukan bahwa de­ngan meng­hidupkan kembali spesies pu­nah dan mengurusnya, maka akan membuat banyak spesies lain yang memerlukan perhatian akan terabaikan akibat berkurangnya anggaran.

Peneliti juga mengatakan bah­wa masalah ini bisa diatasi jika ada sponsor yang mampu mem­beri­kan anggaran untuk mengurus spesies punah yang hidup kembali.

Namun mereka menambah­kan bahwa jika biaya yang digu­nakan untuk mengurus spesies yang dihi­dupkan kembali dialih­kan kepada spesies yang hidup maka lebih ba­nyak lagi spesies yang ada bisa dise­la­matkan.

Di samping itu, Sandler kem­bali menegaskan bahwa banyak ketidakpastian riset terkait argu­men tentang menghidupkan kem­bali suatu spesies akan mem­be­rikan kerugian. Sandler berpen­dapat bahwa analisis biaya dan manfaat tidak memperhitungkan kepentingan etis.

Menanggapi komentar San­dler, Bennet menjawab bahwa ia ­meng­hormati argumen dari sudut pandang etis. Tapi ia berpendapat bahwa memperhitungkan nilai praktis jauh lebih penting.

"Jika Anda memiliki 10 juta dolar AS, Anda bisa menghi­dup­kan kembali satu spesies atau Anda bisa menggunakan uang itu untuk menyelamatkan spesies-spesies lain," terang Bennet.

"Harapan utama saya adalah riset ini akan menarik perhatian ke­pada usaha penyelamatan spe­sies sebelum mereka benar-benar punah," lanjutnya. (bms/ngi/es)

()

Baca Juga

Rekomendasi