Medan, (Analisa). Penggunaan media gadget terlalu dini bisa berkontribusi sebagai penyebab anak terlambat bicara (speech delay). Selain terlambat bicara, gadget juga bisa menghambat aspek perkembangan anak. Hal ini diungkapkan Psikolog Yenni Merdeka Sakti M Psi, dalam seminar parenting bersama Academy, bertajuk “Menjawab tantangan orangtua generasi Z,” belum lama ini di Medan.
Umumnya anak-anak di bawah usia lima tahun, asyik dengan aksi jumpalitan. Namun kini tak sedikit orangtua yang memanfaatkan gadget sebagai alat dengan tujuan agar anak bisa duduk dan diam. Padahal, ditegaskan Yenni, justru anak yang hanya diam itu tidak normal. Menurutnya sejatinya anak-anak di usia itu harus banyak bergerak, semakin lasak justru semakin normal.
Faktanya di era generasi millenial saat ini, rata-rata anak sudah mengenal gadget melalui orangtuanya. Harapannya si anak bisa diam, dan tidak mengganggu aktivitas si ibu. Apalagi dengan situasi zaman sekarang, sangat dimudahkan untuk mendapatkan gadget, karena harganya kian murah.
Dijelaskan psikolog berhijab ini, paling penting untuk anak usia 0-5 tahun adalah aktifitas fisik. Jadi jika di usia itu, seorang anak telah dikenalkan gadget, dikhawatirkan akan memberikan dampak negatif yang berkepanjangan bagi anak.
“Seorang anak yang kelamaan menatap layar akan menghambat kreativitasnya. Selain itu, akan membuat anak kurang bisa berinterkasi dengan orang dalam dunia nyata, dan akan sulit berkonsentrasi. Meskipun sebenarnya konten yang anak lihat adalah konten edukatif,” beber Yenni.
Tentu saja dampak yang diperoleh anak akan berbeda, tatkala anak melihat konten edukatif melalui dialog langsung. Pasalnya ekspresi wajah tidak ditemukan dalam konten edukatif pada gadget. Inilah yang melatarbelakangi mengapa gadget mampu menghambat perkembangan bicara anak. Umumnya pada usia satu (1) tahun, anak sudah menguasai berapa kosa kata. Anak juga sudah bisa mengungungkapkan keinginannya. Ditambahkannya juga, keterlambatan bicara ini sangat terkait dengan usia kronologis dengan tahapan perkembangan anak.
Secara pribadi diakuinya, pada 2017 dia telah mendampingi sembilan sampai 10 anak yang mengalami gangguan perkembangan bicara. Sebelumnya pada 2016, Yenni mendampingi lima hingga enam orang anak saja. Artinya melalui angka itu saja, bisa disimpulkan telah terjadi peningkatan kasus anak yang mengalmi gangguan keterlambatan bicara.
“Tahun-tahun sebelumnya anak yang terlambat bicara itu lebih disebabkan masalah organ bicara. Namun sekarang justru anak yang secara organ bicara normal, tidak ada masalah, namun anehnya malah tidak menghasilkan kata-kata sesuai dengan usianya. Saat ditelusuri ternyata disebabkan oleh gadget,” ungkapnya.
Membuminya gadget bagi generasi Z ini rupanya dikeluhkan oleh Sarmidin, guru di salah satu SMK di Medan. Katanya anak zaman sekarangan bahkan telah memiliki gadget pribadi. Oleh karena itu, dia memberikan aturan khusus bagi murid-muridnya. Setiap kali mata pelajarannya berlangsung, Sarmidin meminta agar setiap siswa di kelas mengumpulkan gadget ke satu tempat yang sengaja dia siapkan. Gadget bisa dipegang kembali oleh siswa, usai jam pelajarannya selesai.
“Saya merasa janggal ketika gadget kian membumi di zaman ini. Saya lihat saat ujian dilangsungkan. Semua anak malah mencari jawaban ujian pada internet. Jawaban mereka memang betul semua, namun saat saya tanya, mereka tidak bisa menjawab,” ujarnya.
Sejatinya gejala ini telah dicium oleh para pendidik dan pemerintahan setempat. Jika dibiarkan, tentu saja keadaan ini akan memperburuk psikologi generasi penerus bangsa. Puri Anindia selaku Founder Academy menyebutkan tak segan untuk berkontribusi dan memberikan solusi terhadap kondisi pendidikan. Apalagi berdasarkan hasil literasi yang diterbitkan lembaga Program for International Student Assessment (PISA) pada 2015, Indonesia berada pada peringkat ke 69 dari 76 negara.
“Kami tidak mau mengkritik pemerintah. Lebih baik mengambil peran. Upaya yang dilakukan adalah dengan memberdayakan guru, menjadikan mereka sebagai patrner. Pun menjadikan orangtua menjadi pendidik di rumah sehingga anaknya menyenangi proses belajar,” pungkasnya. (del)










