Mengurangi Alergi Seafood

Oleh: Bella Adelia Putri.

Pernahkah Anda tiba-tiba me­rasa gatal dan men­dapati kulit ter­lihat kemerah­an setelah menyantap ma­­kanan laut (seafood)?

Sebenarnya banyak orang me­ngeluh pernah meng­alami masalah se­perti itu ketika memakan seafood atau bah­kan hanya karena menghirup aro­ma masakannya saja. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun dapat me­ng­alami­nya. Padahal, seafood me­mi­liki kandungan gizi yang tinggi, yakni omega-3, vitamin B12 dan DHA yang ber­guna untuk kesehatan otak maupun sistem syaraf pusat. Namun tak bisa di­pungkiri jika jenis makanan ber­protein tinggi tersebut kerap menjadi pemicu terjadinya alergi.

Alergi seafood timbul se­bagai res­pon yang keliru dari sistem keke­balan tubuh da­lam menanggapi protein pa­da seafood (tropomyosin). Ketika An­da memakan seafood maka sistem ke­kebalan tubuh langsung mendeteksi pro­tein yang terkandung di dalamnya sebagai zat yang berbahaya.

Kondisi inipun memicu terpro­duk­sinya antibodi. Ke­mudian, saat Anda mema­kan­nya lagi, hal itu membuat antibodi tadi memberikan si­nyal ke­pada sistem keke­bal­an tubuh untuk melepaskan histamin dan menyerang ba­lik tropomyosin sehingga tim­bullah reaksi alergi.

Meskipun alergi seafood bukan ter­masuk ke dalam pe­nyakit yang mem­bahayakan karena biasanya ha­nya ber­langsung sebentar dan dapat sembuh dengan sendirinya atau tanpa perlu obat. Na­mun, bagaimanapun alergi ini tidak dapat diaggap remeh begitu saja. Sebab, respon atas alergi antara orang yang satu dengan lainnya berbeda-beda. Dari yang sifatnya ha­nya me­nim­bulkan masalah ringan dan ber­lang­sung sebe­ntar hingga memun­cul­kan res­pon-respon ekstrim yang lebih berat bahkan dapat me­nyebabkan ke­matian.

Pada dasarnya, kita perlu menge­ta­hui tentang pemba­gian seafood yang dapat me­nyebabkan alergi, di antara­nya, ada dari golongan mo­lus­ka yaitu cumi-cumi, ti­ram, gurita, keong dan ku­pang (kerang hijau). Go­long­an krustasea yaitu lobster, udang karang, kepiting dan udang kecil. Serta go­­longan chordata yaitu ikan tuna, salmon maupun tenggi­ri. Umumnya, alergi seafood yang dialami oleh kebanyak­an orang berasal dari go­long­an krustasea yaitu udang dan kepiting serta golongan mo­luska yaitu kerang.

Alergi terhadap seafood biasanya bersifat spesifik pa­da satu golongan tertentu sa­ja. Artinya, seseorang hanya rentan mengalami alergi ter­hadap jenis seafood dari go­longan yang sama. Mi­salnya, seseorang yang alergi terha­dap ikan tuna biasanya rentan juga meng­alami alergi terha­dap ikan lainnya se­perti sal­mon. Sementara itu, sese­orang yang alergi ikan tuna (chordata) maka ia belum ten­tu alergi udang (krustasea) atau jenis seafood dari go­longan mo­lus­ka seperti ke­rang.

Nah, adapun beberapa ge­jala yang mengindikasikan se­seorang sedang mengalami alergi seafood meliputi ge­jala alergi ringan dan berat. Ge­jala yang bersifat ringan da­pat ditandai de­ngan terjadi­nya gatal-gatal, eksem atau ruam pada kulit, bagian bibir, lidah, wajah, leher, jari-jari atau tangan membengkak, bersin-bersin, hidung ter­sum­bat, perut terasa sakit, mual, diare, muntah, kesu­lit­an bernapas, ke­pala terasa pu­sing dan ada rasa meng­ge­litik di dalam mulut atau ke­semutan.

Sedangkan pada gejala be­ratnya (ana­filaksis), respon yang dialami be­rupa tenggo­rokan membengkak atau timbulnya benjolan di leher yang me­nyebabkan sulit ber­napas, pe­nu­runan tekanan da­rah hingga meng­alami ke­jang, jantung mendadak ber­de­bar ken­cang, pusing, sakit kepala bah­kan sam­pai hi­lang­nya kesadaran atau meng­alami pingsan.

Reaksi anafilaksis meru­pakan kon­disi medis yang membutuhkan injeksi epi­nef­rin (adrenalin). Injeksi ini di­gunakan sebagai penanganan darurat untuk reaksi alergi berat maka untuk menda­pat­kannya hanya bisa melalui resep dokter saja.

Alergi seafood tidak bisa dihilang­kan dan risikonya justru semakin me­ningkat seiring dengan bertambah­nya usia. Oleh karena itu, ke­banyakan pen­derita alergi ini sering mengambil lang­kah pen­cegahan yang terkesan ber­­pikir pendek yaitu dengan memilih untuk tidak me­nyan­tap aneka seafood sa­ma sekali. Walau cukup masuk akal akan tetapi keputusan tersebut tidak dapat dibenar­kan karena cenderung me­ru­gikan.

Lantas, adakah cara untuk mengu­rangi alergi ter­hadap seafood sehingga te­tap bisa menikmatinya? Ada: Perta­ma, banyak me­minum air pu­tih. Tak terbatas pada pende­rita alergi seafood saja, se­benarnya tindakan ini juga bia­sa disarankan pada pende­rita alergi terhadap makanan tertentu lainnya.

Kedua, cerdas memastikan kualitas seafood yang ingin disantap. Jangan memakan seafood yang yang tak lagi segar dan telah diawetkan de­ngan bahan pengawet kimia.

Ketiga, pastikan seafood yang hen­dak dikonsumsi telah dimasak sampai benar-benar matang.

Keempat, cu­kupkan asup­an vitamin C. Vitamin C ini dapat berperan se­bagai anti-oksidan yang mampu untuk menjaga kulit.

Kelima, konsumsi ma­kan­an yang kaya vitamin E. Vitamin E mengan­dung sifat anti-alergen yang memban­tu untuk menyingkirkan dan mence­gah alergi akibat ma­kanan tertentu.

Keenam, mengonsumsi ba­han ala­mi seperti madu, ja­he dan jeruk ni­pis atau le­mon. Madu mengandung be­­be­ra­pa jenis vitamin yang da­pat mem­bantu meringan­kan gatal. Jahe dapat mengu­rangi ruam merah dan gatal akibat alergi yang terjadi. Je­ruk nipis ataupun lemon juga turut memi­ni­malisir timbul­nya ruam di kulit.

Ketujuh, mencukupi asup­an serat. Dengan banyak me­ngonsumsi sayuran berserat tinggi maka dapat membantu usus dan sistem pencernaan bekerja lebih baik sekaligus memperbaiki reaksi atas zat yang masuk ke dalam tubuh sehingga memperkecil mun­cul­nya gejala alergi. Terakhir ialah ber­konsultasi dengan dokter spesialis terk­ait alergi yang diderita.

(Penulis adalah mahasiswi FKM Universitas Islam Ne­geri Sumatera Utara, Ang­kat­an 2016)

()

Baca Juga

Rekomendasi