Gadis di Balik Pohon Pisang

Oleh: Hendra Au

Namaku Joko, aku baru seminggu di per­kam­pungan ini. Aku tinggal sendirian di rumah beratap nipah berdinding tepas, sebuah rumah khas perkampungan. Rumah sederhana ini merupakan fasilitas yang diberikan perusahaan. Rumah ini berada di tengah-tengah  kebun pisang. Pekerjaanku menjaga kebun pisang. Untuk me­mas­tikan keamanan, biasanya aku bersepeda me­­nge­lilingi kebun pisang. Orang-orang desa bilang kebun pisang ini angker. Aku merasa biasa saja dan tak pernah merasakan ada kejanggalan apa pun di sini.

Suara lolongan anjing memecah keheningan malam. Karena ributnya suara itu membuatku terjaga. Aku mengambil lampu senter untuk memastikan kebun pisangku aman. Aku melihat beberapa  anak muda yang tiba-tiba muncul dari semak-semak dan mereka terlihat kaget dan berlari menghilang. Entah apa yang mereka lakukan kepada pohon pisangku.

Aku melihat sepokok pohon pisang yang diikat dengan lilitan benang merah dan tertusuk jarum. Juga ada beberapa lilin merah dan dupa merah di dekatnya. Aku pikir anak-anak muda barusan sedang sembayang. Jadi kutinggalkan saja pohon pisang dan kembali untuk tidur.

Pukul satu dinihari aku terjaga kembali. Aku mendengar suara minta tolong dari seorang gadis. Suaranya terdengar sangat jelas. Anjing terus melolong panjang. Aku mencari dari mana datang­nya suara. Sepertinya di dekat pohon pisang tadi.

Tiba-tiba dari balik pohon pisang muncul seo­rang gadis muda dan cantik. Gadis itu berpakaian hijau dengan rambut panjang. Aku bertanya kepadanya kenapa meminta tolong?

Rupanya dia ingin aku membuka jarum dan benang yang melilit di pohon pisang, alasannya membuat dia terganggu. Gadis itu bernama Intan. Dia mengaku tersesat dan memohon padaku untuk diberi tumpangan semalam.

Sebenarnya aku agak risih tidur seatap dengan seorang gadis. Aku membiarkan dia tidur di ranjangku dan aku tidur di bawah. Esoknya aku tak menemukan Intan. Namun aneka masakan lezat telah terhidang di meja makan. Kupikir Intan yang memasaknya. Di mana dia? Kenapa dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku?

Seminggu setelah kejadian itu, ibuku di kampung sebelah sakit. Butuh banyak biaya. Namun aku tak punya uang. Aku sangat sedih. Malam itu aku tak bisa tidur memikirkan ibu. Sudah pukul satu dinihari. Samar-samar aku mendengar suara perempuan minta tolong. Aku pikir itu suara Intan.

Aku mencari-cari dan aku menemukan sumber suara. Ternyata Intan mengintip dari balik pohon pisang.  Intan meminta bantuanku untuk melepas­kan jarum dan benang merah yang mengikat pohon pisang. Intan bilang itu adalah pohon pisang ke­sa­yangan­nya, dia sangat sedih bila ada yang me­lukainya. Malam ini Intan ingin menginap di rumah karena takut pulang larut malam. Intan sangat berterima kasih padaku telah banyak membantunya.

“Bang Joko, kenapa terlihat sedih dan lesu?” pertanyaan Intan menyadarkanku dari lamunan.

Aku pun menceritakan kegundahan hatiku. Aku butuh uang untuk pengobatan ibuku. Tiba-tiba Intan memberikan sebuah kertas empat angka. Aku tahu ini nomor judi.

Esoknya, seperti dikatakan oleh Intan, aku mendapatkan uang yang banyak dari nomor judi yang diberikannya. Aku pulang kampung dan berhasil menolong ibu. Aku sangat bersyukur.

Pukul tujuh malam, sepulang dari ibadah, da­ri balik pohon pisang kesayangan Intan, ada suara memanggilku. Ternyata Intan. Aku mem­bon­ceng Intan ke rumah. Intan memasak untukku. Masakannya lezat sekali. Malam itu Intan tampak cantik sekali.

Setiap malam Intan datang menjengukku. Sepertinya aku mulai jatuh cinta kepadanya. Kami akhirnya menjalin kasih.

Sudah setengah tahun kami pacaran. Aku ingin melamarnya. Intan adalah wanita yang sempuna, sederhana dan penyayang.

Malam itu, purnama amat indah. Aku duduk berdua Intan menikmati indahnya cahaya rem­bulan. Aku mengutarakan niatku untuk mela­marnya. Namun Intan bersedih dan mena­ngis. Intan bilang dia akan segera pergi jauh.

Pagi itu mandor perusahaan datang. Mandor mengatakan kebun pisang ini akan diratakan dan didirikan pabrik. Aku sangat sedih ketika melihat satu per satu pisang yang telah menjadi sahabatku kini harus ditebang. Terlebih melihat pisang kesayangan Intan.

Sejak semua pohon pisang rata, Intan tak pernah datang lagi. Tak pernah lagi ada yang menemaniku menghabiskan malam bersama. Aku sangat kesepian dan berharap Intan kembali datang. Aku sedih mengingat ketika aku menghitung bintang bersama Intan, menangkap kunang-kunang bersamanya dan masih banyak hal indah lainnya yang telah kami lalui bersama.

Aku membuka handphone untuk melihat wajah Intan. Namun file telah rusak. Tak ada satu pun kenangan wajah Intan yang tertinggal. Aku mencari Intan ke mana-mana namun tak seorang pun mengenalnya. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa bila masih berjodoh semoga Tuhan mempertemukan dan mempersatukan kami.

* Juni 2018

()

Baca Juga

Rekomendasi