Melukis Mengikuti Perasaan

melukis-mengikuti-perasaan

Oleh: Jonson Pasaribu.

Melukis adalah jalan hi­dupnya, dijalani setiap hari de­ngan penuh kegem­biraan. Ba­ginya melukis harus bisa mem­buat orang senang atau merasa bahagia ketika melihat lukisan yang diciptakannya. Menurutnya berbagi kebaha­gia­an itu penting dalam hidup. Inilah salah satu cara yang dia bisa lakukan, melalui lukisan. Lahir di Sima­lungun, 16 Maret 1968 diberi nama Andi Ian Su­rya. Kini dia bermukim di Per­cut Sei Tuan.

Sejak kecil dia sudah ber­cita-cita menjadi pelukis dan men­jadi profesinya sekarang. Selama ini Andi lebih dikenal dengan lukisan potret. Berba­gai pesanan lukisan potret per­nah dia kerjakan. Mulai dari pa­ra pejabat di pemerintahan, hingga pejabat di lingkungan perusahaan swasta. Termasuk juga pesanan secara pribadi lain yang datang padanya.

Andi memiliki studio luki­san potret di berbagai pusat ke­ramaian ruang publik, salah satu di antaranya berada di merdeka walk. Cara seperti ini memudahkan baginya un­tuk lebih menyebarluaskan karya-karya lukisan potret yang dia ciptakan. Dengan ca­ra ini pula publik bisa menge­nal dia karena berada dalam ru­ang keramaian. Andi akan langsung mengenal dan berha­dapan dengan pelanggan-pe­langgannya.

Menurutnya rezeki juga se­ring tak terduga datangnya de­ngan berada pada ruang pub­lik. Bisa dalam jumlah besar bisa juga biasa-biasa saja. Bagi Andi ini adalah sebuah cara untuk bisa bertahan dan terus bisa melukis. Cara ini adalah yang dipilih Andi untuk bisa te­rus ber­karya dan bertahan da­lam sepinya pasar senirupa Medan.

Melukis membawanya pa­da perjalanan hidup dengan ber­bagai pengalaman bersama keluarganya,hingga pernah ber­pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kini akhirnya An­di dan keluarganya menetap di tempat tinggalnya sekarang. Ketika melukis dia merasakan me­nemukan kebahagiaan ka­re­na melakukan sebuah peker­jaan yang dia sukai dan bisa membuat orang bahagia. Ba­ha­gia ketika melihat orang senang atau bahagia menerima hasil buah karyanya, begitu ke­inginan Andi.

Waktu benar-benar mem­bu­at peru­bahan perjalanan hidup seseorang, Andi pun mengalami berbagai perubah­an. Jika selama ini dia lebih ba­nyak menghabiskan waktu melukis potret memenuhi per­mintaan orang lain, kali ini se­mua mulai berubah dan berbeda. Andi mulai banyak mem­buat lukisan sesuai de­ngan ke­inginan­nya sendiri.

Perubahan itu muncul tanpa ada ke­inginan tertentu. Semua muncul hanya karena intuisi, kali ini Andi lebih me­ngi­kuti in­tuisinya dalam melukis. Andi me­­ngaku tak pintar mem­buat ini dan itu yang se­olah-olah direncanakan. Se­mua hanya mengalir saja begi­tu saja. Ketika Andi memulai melukis menurut in­tuisinya, banyak hal mengejutkan yang dia alami.

Ketika satu lukisan pertama yang dia selesaikan ternyata membawa dia untuk membuat lukisan yang lain lagi. Hampir dengan proses yang sama yaitu mengikuti perasaannya. Ke­mam­puan tehnik melukis yang dimilikinya membuat dia lebih mudah untuk melukiskan apa yang ingin dia lukiskan. Bukan tanpa alasan semua lukisan-lukisan terbaru Andi ini tercip­ta.

Awalnya dia berpikir ten­tang betapa besar yang sudah Tu­han berikan dalam hidup­nya selama menjalani pekerja­an sebagai pelukis. Andi Ian Surya merasa bersalah atau ber­dosa karena sudah tak terhi­tung banyaknya lukisan yang di­ciptakannya. Lukisan untuk memuliakan nama yang Maha Pencipta belum pernah diingat untuk diciptakannya. Ratusan lukisan potret Opung-opung, orang tua, Presiden dan para pesohor seperti artis dan lain-lain sudah diciptakannya.

Tuhan membe­kali bakat untuk kita, sehingga kita bisa melukis, begitu kata Andi. Me­lalui lukisan juga Andi banyak berkenalan dengan orang-orang dari berbagai kelas so­sial yang berbeda. Dari melu­kisjuga dia dulu mendapatkan pacar Saadah Lubis yang se­karang menjadi Ibu dari anak-anaknya.

Beberapa lukisan dari ka­rya terbaru Andi Ian Surya se­mua diberi judul yang sama “sujud pada sang pencipta 1, #2, #3, #4, #5“ dengan berbagai ukuran. Lukisan #1-#4 berbahan cat minyak di atas kanvas dengan ukuran 70 x 50 cm. Sementara karya ke #5 (ti­ga bidang kanvas bersam­bung) berbahan acrylic di atas kanvas dengan ukuran 300 x 140 cm semua dibuat tahun 2019.

Lukisan sujud pada pencip­ta #5, adalah lukisan yang be­lum selesai tetapi menarik un­tuk disaksikan. Lukisan ini me­nurut Andi masih akan di­selesaikan, karena dia belum me­rasa mendapatkan bentuk yang sempurna dari karakter burung bangau. Sekalipun dia sudah berburu untuk mengam­bil foto langsung burung ba­ngau itu di tepian pantai, dia me­rasa tak cukup. Andi me­mu­tuskan untuk memelihara burung bangau di rumahnya agar bisa mengamati setiap saat pertumbuhannya dan ber­interaksi langsung.

Dalam lukisan ini muncul objek berlatar belakang Mes­jid Raya Medan. Pada bidang tengah kanvas di depan Mesjid Raya ada sekumpulan burung bangau putih, sedang mencari makan. Pada sisi kanan dan kiri kanvas ada bangau putih sedang berkerumun di sisi sam­ping depan mesjid. Ada juga yang sedang terbang se­perti mengarah ke mesjid.

Penggunaan bangau putih sebagai simbol. Sebuah baha­sa simbol dari kelompok yang sama. Kelompok tertentu yang akhir-akhir ini menjadi keru­mu­nan massa yang selalu ber­kumpul merespon kebijakan pemerintah. Lukisan ini juga seperti sebuah isyarat, bahkan binatang sekalipun sadar. Mereka harus sujud pada sang pencipta.

Lukisan lain yangbertema tentang sujud pada sang pen­cipta juga merupakan hasil pergulatan batinnya pada sang pencipta. Semua menggam­bar­kan kewajiban tunduk pada sang pencipta. Bersujud untuk terus bersyukur atas semua limpahan rezeki yang menga­lir dalam hidupnya.Bersujud adalah bentuk kerendahan hati untuk selalu mengucap syukur atas pemberian sang pencipta.

Selain menghabiskan hari-harinya melukis di studio. An­di juga aktif ber­gabung dengan beberapa pelukis Medan yang sering melakukan aksi melukis langsung di lapangan.

Menu­rut Andi kegiatan seperti ini bisa lebih merekatkan hubung­an antar pelukis. Andi juga ingin agar kelompok-kelom­pok lain juga bisa aktif mela­ku­kan aktifitas-aktifitas melu­kis atau diskusi antar kelom­pok.

Baginya berbeda cara ber­si­kap dalam menjalankan roda seni rupa masing-masing bu­kan menjadi masalah. Sebab setiap kelompok pasti punya cara sendiri dalam membang­un kelompok atau ko­mu­nitas­nya.

Perbedaan itu semua se­baiknya juga tidak menjadi penghalang dalam per­­gaulan antar kelompok secara pribadi. Justru dengan cara pandang ma­sing-masing yang berbeda, ketika bertemu akan saling me­ngisi satu dengan yang lain­nya.

()

Baca Juga

Rekomendasi