Menyilet Diri Identitas Ketionghoaan

menyilet-diri-identitas-ketionghoaan

Oleh: J Anto.

RAS atau etnis sebagai konstruksi politik kolonialis­me, tak hanya jadi sumber segregasi, tapi juga diskrimi­nasi. Identitas ketionghoaan dengan label-label yang diciptakan dan diawetkan hingga kini, kadang mencipta­kan krisis identitas.

“Suatu hari, entah kapan, karena rasanya saat itu ingatanku masih kabur, ada yang bertanya kepada­ku,”Cilik-cilik Cina, suk gedhe arep dadi apa?” (Masih kecil kok sudah jadi Cina, besok kalau sudah besar mau jadi apa?).

Nukilan itu terdapat dalam buku Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Dadi Apa?  karya Anne Shakka. Penulisnya mahasiswa program S3 Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Cultural Studies, Universitas Sanata Dharma, Yogya­karta.

Pertanyaan itu sebenarnya  bukan suatu ungkapan kebencian atau me­ren­dahkan. Namun justru hal itu jadi titik awal  Anne, kala itu masih SD, mulai merasa ada  yang berbeda dengan teman-teman sepergaulan di kampungnya, Temanggung, Jawa Tengah.

“Aku jadi mulai bertanya-tanya, apa itu China? Kenapa aku tidak memang­gil Daniel dengan sebutan ‘Mas’ seperti anak-anak lain di sekitarku yang memanggil kakak lelakinya ‘Mas’. Kenapa tiap aku mengatakan Kokoh, aku seringkali ditertawakan.” (Anne Shakka, 2018: hlmn 68).

Kesadaran sebagai liyan, gara-gara dirinya bermata sipit, berkulit putih, dipanggil China dan label-label lain, dalam perjalanan hidup Anne Shakka, meneror dirinya bahkan menciptakan beban psikologis. Ia mengalami diskriminasi. Tak berani tampil dan bicara di ruang publik.

Hari-harinya diawali dari keadaan penuh ketakutan. Saat isu buruh China merebak dan di media sosial  muncul pro-kontra, pikiran-pikiran buruk muncul. Ia membayangkan jika pemerintah mengizinkan buruh China masuk dan merebut lahan pekerjaan orang Indonesia, maka bisa terjadi kemarahan. Terjadi kerusuhan.

“Mati! Mati! Isi kepalaku berte­riak!” (hlm 78).

Menanggung “nasib kambing hi­tam” seperti disebut Sindhunata dalam bukunya Puteri Cina, membuat Anne berusaha “melarikan diri” dari identi­tas ketionghoaannya. Karena teman-temannya mayoritas orang Jawa, ia berusaha keras “menjawakan diri”. Ia tak lagi memanggil abangnya kokoh, tapi langsung namanya. Kulitnya yang putih tiba-tiba dibencinya. Ia ingin warnanya kecoklatan.

“Aku suka bermain di bawah mata­hari dan dengan sengaja tidak mema­kai jaket, aku menghindari kosmetik yang mengandung pemutih.” (Anne Shakka: hlm 91). Ia belajar bahasa Jawa halus atau kromo inggil yang bertingkat. Ia juga terobsesi ingin menikah dengan pribumi. Baginya, menikahi  dengan orang pribumi ibarat berpindah dari ruang  tidak nyaman ke ruang nya­man.

Namun pada akhirnya Anne berha­sil berdamai dengan identitas ketiong­hoaannya. Ia sadar bahwa korban maupun pelaku rasisme sebenarnya sama-sama korban, dari konstruksi politik yang disponsori negara. Ia juga sadar bahwa identitas ketionghoaan bukan satu-satunya yang ada dalam dirinya.

Realitasnya, ia juga seorang Kato­lik, juga akademisi. Artinya dalam dirinya sebenarnya ada identitas hibrid yang muncul sesuai kepen­tingan dan kebutuhan.

Konstruksi Kolonialis Eropa

Ras dan rasisme menurut Paul Spoonley, dengan mengutip Santi Indra Astuti (2005), memang sebuah konsep kolonialisme, yang muncul ketika semangat berekspansi melanda Eropa. Konsep ras, di negara lebih sering dipakai etnis, juga mencer­min­kan kemalasan orang Eropa untuk berpikir ketika menghadapi kebera­gaman manusia dalam perjalan­an ekspansi mereka.

Lalu diperkenalkanlah oleh mereka  konsep ras dalam ranah interaksi  sosiologis dunia. Ada orang India, orang Afrika, orang China, orang Melayu, orang Aborigin, lengkap dengan stereotip masing-masing.  Misalnya Melayu yang malas dan lamban, China  yang ceriwis dan mata duitan, dsb. Bersamaan meluasnya stereotip, menyebar pula ras Eropa yang superior, civilized, dan punya hak menentukan nasib bangsa lain.

Rasisme mengambil bentuk berbe­da-beda sepanjang waktu. Mulai dari prasangka antaretnis, prasangka antargender, lalu berkembang menja­di prasangka sosial, bahkan kekeras­an. Rasisme tentu dapat menimbulkan permasalahan bagi korban.

Saat remaja, Arief Budiman alias Soe Hok Djin, semisal pernah merasa benci karena terlahir sebagai seorang Tionghoa. Pada waktu itu ia bahkan menghindari untuk berpacaran de­ngan gadis-gadis keturunan Tionghoa. Tujuannya untuk mengurangi “dosa asal” sebagai orang Tionghoa (Arief Budiman: 2000).

Di negara kita, siapa tak kenal (almarhum) Chrisye? Penyanyi pop legendaris era 1980-an yang banyak memiliki lagu hits seperti Lilin–lilin Kecil, Sabda Alam, Badai Pasti Ber­lalu, Hip-hip Hura, atau Kisah Kasih di Sekolah, sekadar menyebut bebera­pa contoh. Namun mungkin banyak yang tak tahu, sepanjang karirnya sebagai penyanyi top, Chrisye menu­tup rapat-rapat identitas ketionghoa­annya.

Hampir tidak ada orang yang menyadari bahwa dia adalah seorang Tionghoa, termasuk penulis biografi­nya. Ia lahir dari pasangan Laurens Rahadi (Lauw Tek Kang) dan Hanna Rahadi (Khoe Hian Eng). Beberapa bulan saat penyakitnya makin kronis, ia “menelanjangi diri” dan memberi­kan pengakuan mengapa dia menyem­bunyikan jati diri sebenarnya, bahkan kepada anak-anaknya.

Rupanya saat duduk di bangku sekolah menengah, dirinya pernah diteriaki “China! China! China!” Tidak hanya itu, dia juga ditimpuki batu hingga kepalanya berdarah. Peristiwa itu menimbulkan trauma berat.  Chrisye lalu mengubur rapat-rapat identitas ketionghoaannya, karena merasakan itu sebagai be­ban.

Pelopor Gerakan Seni Rupa Baru 1974, FX Harsono, juga pernah men­yem­bunyikan identitas ketiong­hoa­annya. Ia enggan memakai nama asli pemberian orang tuanya. Alasan­nya sangat wajar. Ia aktivis mahasis­wa yang  seniman dan berkarya pada era orde baru sangat digdaya dan re­pre­sif terhadap kebebasan ber­eks­presi.

Namun setelah rezim orba terjung­kal, pada 2013, ia menampilkan karya performance-nya, Writing in The Rain (2013) yang ditampilkan melalui video. Di sana, ia terlihat berusaha menuliskan nama Tionghoa-nya dengan kuas dan tinta hitam pada sebuah kaca bening. Harsono melaku­kan berulang dengan repitisi gerakan tangan  halus.

Beberapa  saat  hujan  mengguyur. Seketika tulisan dalam aksara Mandarin itu terhapus, tetapi jejak bentuk yang pertama dilukis tidak menghi­lang. Meski hujan terus menggu­yurnya, Harsono tetap menuliskan namanya pada kaca tersebut. Bisa ditebak, Writing in The Rain adalah perjuangan Harsono  menemukan kembali salah satu identitasnya.

Identitas Etnisitas

Soal buku Cilik-cilik Cina, Suk Gedhe Meh Dadi Apa?  Harsono meli­hat ada yang luput dari kajian Anne Shakka. Ia tak menyoal metode autoet­nografi yang mengandalkan ingatan subyektif peneliti (penulis). Soalnya memori subyektif tersebut sebenarnya representasi memori kolektif masyarakat Tionghoa. Ia sendiri juga sebenarnya menerapkan dalam beberapa karyanya saat meng­gali kembali identitas ketionghoa­annya.

“Memori subyektif akan menjadi lebih kaya, apabila di pertemukan dengan pembacaan dan penelusuran terkait dengan sejarah orang Tiong­hoa di Indonesia,” katanya. Penelu­suran identitas tidak bisa dilepaskan dengan sejarah, peristiwa-peristiwa kebuda­ya­an dan kebiasaan dalam hidup sehari-hari masyarakat China tak lagi sama dengan budaya China yang berasal dari nenek moyang­nya. Arti­nya kebudayaan China di negara kita adalah kebudayaan diaspora, kental perjumpaan dan percampuran dengan budaya ma­sya­rakat lokal.

Sayang, saat orde baru, orang China tidak bisa mempraktikkan kebudaya­an hibrid mereka. Akibatnya  generasi yang lahir pada masa orde baru, menurut Harsono, tak lagi mengenali budaya China diaspora yang menjadi bagian dari kehidupan orang tua dan kakek-nenek mereka.

Dalam konteks resinifikasi meraya­kan kebebasan kulturalnya, orang China akhirnya mengidentifikasi budayanya dengan budaya China yang ada di negara lain atau dari Chi­na. Menurut Harsono, itu kekura­ng­an yang ada dari buku tersebut.

Ungkapan menarik dari Direktur Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Romo Banar atau G Budi Subanar, SJ, yang dikutip Anne Sakkha dalam pengantar bukunya. Romo Banar menyebut, buku autoet­no­grafi Anne Shakka merupakan usaha menyilet-nyilet diri Anne Shakka untuk memahami, mengingat, dan mengumpulkan kembali berbagai pengalamannya sebagai keturunan China yang tinggal dan berdinamika dengan  lingkungan masyarakat di Jawa.

Akhh, siapa lagi yang mau menyi­let-nyilet identitas etnisitas produk kaum kolonial yang sejatinya merupa­kan praktik politik pecah belah?

()

Baca Juga

Rekomendasi