Wabah Virus Corona Covid-19

Permintaan Karet dari China Turun, Gapkindo Sumut Tidak Khawatir

Permintaan Karet dari China Turun, Gapkindo Sumut Tidak Khawatir
Ilustrasi pohon karet (Pixabay)

Analisadaily.com, Medan - Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumatera Utara (Gapkindo Sumut), Edy Irwansyah mengatakan, negara tujuan utama ekspor karet Sumut adalah Jepang, yaitu 20 persen. Disusul Amerika Serikat, 18 persen, China, 11 persen, dan India, 7 persen.

“Dapat dilihat, China pada urutan ke-3, sekitar 70 ribuan ton per tahun. Sedangkan ekspor karet Sumut pada 2019 sebesar 410 ribu ton,” kata Edy, Sabtu (15/2).

Disinggung mengenai China merupakan konsumen nomor 1 dunia dan mengapa impornya dari Sumut rendah, disebutkan Edy, China sebagai konsumen nomor karet alam nomor 1 di dunia mengonsumsi lebih dari 5,5 juta ton per tahun.

“Secara geografi, Indonesia ke China lebih dekat. Namun ekspor karet Indonesia, khususnya Sumut, lebih banyak ke Jepang dan Amerika Serikat yang lebih jauh. Hal ini diakibatkan China menerapkan bea masuk yang cukup tinggi untuk produk karet tertentu dari Indonesia,” sebutnya.

Edy mengungkapkan, setelah Pemerintah China memberlakukan isolasi pada Wuhan dan beberapa kota terkait wabah virus corona Covid-19, harga karet SICOM TSR20 anjlok 9,9 sen AS menjadi 136 pada 28 Januari 2020.

“Harga ini masih bertahan rendah hingga kini. Harga pada 13 Februari 2020 untuk kontrak Maret tercatat 134.3. Harga tertinggi tercatat 152,4 sen AS pada 16 Januari 2020,” ungkapnya.

Edy juga menerangkan, jika banyak yang bertanya bagaimana dampak virus corona Covid-19 terhadap ekspor karet ke China, saat ini terjadi penurunan permintaan karet dari China. Hal ini dampak langsung dari berkurangnya aktivitas industri akibat meluasnya wabah virus yang sangat mengkhawatirkan banyak orang.

“Sumut tidak terlampau khawatir atas adanya permintaan yang berkurang tersebut, sebab negara tujuan ekspor utama lainnya masih stabil. Bahkan, permintaan dari Jepang ada peningkatan,” terangnya.

Namun, Edy menyayangkan adanya permintaan yang tinggi belum dapat dipenuhi karena krisis bahan baku. Salah satu faktornya adalah, saat ini sebagian pabrik hanya beroperasi 3 hari kerja yang setiap harinya hanya 1 shift.

“Dampaknya terhadap karyawan pabrik, sebagian besar sudah dirumahkan dan beberapa perusahaan mengurangi karyawan,” tandasnya.

(RZD)

Baca Juga