Analisadaily.com, Langkat- Desa Bekiung di Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara adalah salah satu desa yang berhasil mengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) hingga masuk dalam 15 besar pemenang utama Desa BRILian 2021 Batch-2. Acara penganugerahan tersebut digelar PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Desa Bekiung memiliki BUMDes Bangun Mandiri. BUMDes yang didirikan pada 23 Desember 2015 tersebut, sukses mengelola beberapa unit usaha seperti, simpan pinjam, perdagangan beras, agen BRILink, mitra BRI jadi agen laku pandai, hingga mendirikan pakan ternak yang diolah dari limbah perkebunan dan pertanian.
Direktur BUMDes Bangun Mandiri Bekiung, Supono, mengatakan BUMDes ini berdiri berdasarkan Undang-undang Desa, yang mana setiap desa dapat mendirikan BUMDes sebagai pusat kegiatan pertumbuhan ekonomi di desa. Sebagai modal awal mendirikan badan usaha ini, ada dana penyertaan modal bersumber dari dana desa sebesar Rp20 juta. "Modal awal itu kita awalnya bingung, bagaimana mengelola badan usaha tapi anggarannya kecil. Jadi sepakat sesuai dengan musyawarah dibuat unit simpan pinjam. Mulai dari itu, terus berkembang, hingga akhirnya bisa membentuk unit-unit usaha lain seperti perdagangan beras, Brilink, mitra BRI jadi agen laku pandai," kata Supono, Sabtu (12/3/2022). Bagi Supono, setelah unit usaha berkembang saat itu hal yang paling berat menjadi pengurus BUMDes. Sebab, pengurus dituntut bisa membangun usaha dan mendapatkan keuntungan, menciptakan lapangan pekerjaan dan membagi hasil ke desa, tetapi tidak boleh menyaingi usaha-usaha yang ada di desa. "Kita baca potensi Desa Bekiung yang ada. Desa ini terletak di geografis yang terdiri dari pertanian dan perkebunan. Jadi selama ini banyak limbah pertanian dan perkebunan terbuang. Makanya kita diskusi dengan stakeholder desa minta arahan, akademisi, pemerhati, kampus dan lainnya untuk mendukung unit usaha yang sesuai potensi, tapi tidak boleh menyaingi usaha-usaha yang ada di desa. Akhirnya kita sepakat mengolah limbah ini menjadi pakan ternak," ujar pria 41 tahun ini. Supono mengakui, tidak gampang mewujudkan apalagi targetnya adalah industri pakan ternak. Di sisi lain, secara nasional, permintaan daging sapi terus meningkat di Indonesia. Dari potensi itu, is melihat peluang bahwa ada banyak bisnis yang bisa dibuat dari pakan ternak guna budidaya dan penggemukan sapi. "Mengingat juga lahan semakin sempit, sistem gembala sapi atau lembu tidak bisa seperti dulu di lepas. Kami berpikir harus ada teknologi atau memelihara sapi dengan cara lebih modern dengan dibuat pakan yang baik, sehingga pertumbuhan sapi bisa lebih cepat dalam hitungan bulan," ungkapnya. BUMDes Bangun Mandiri yang sudah berjalan hampir tujuh tahun, katanya, sudah memberikan Pendapat Asli Daerah (PAD) Desa Bekiung sebesar Rp28 juta. Selain itu, hasilnya juga terbuka lapangan pekerjaan, peningkatan ekonomi dan kegiatan sosial (CSR) yang diberikan kembali ke warga kurang mampu dan anak yatim. "Saat ini kita juga sedang pembuatan kandang dan gudang," ujarnya. Menurut Supono, secara umum BUMDes harus sejalan dengan pemerintahan desa. Jika pemerintah desa dan pengurus BUMDes tidak cocok, maka akan sulit berkembang. Bersyukurnya, lanjut dia, di Desa Bekiung semua pihak terutama kepala desa saling bersinergi sehingga program bisa berjalan. Kedua, kesulitan Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih terbatas. Tentunya hal ini bisa diperbaiki dengan mengikuti pelatihan-pelatihan. Saat ini, ada 240 desa di Langkat. Di mana, sekitar 80 persennya memiliki BUMDes dengan berbagai klasifikasi maju, tumbuh dan berkembang. "Saya juga sebagai Ketua Forum BUMDes di Langkat. Kita temui secara umum kendalanya ada di SDM misalnya dalam pembuatan laporan keuangan, pendaftaran badan hukum. Administrasi masih lemah. Pengurus bahkan ada yang tidak mampu menggali potensi desanya. Padahal, potensi itu bisa muncul dari masalah membaca peluang," ungkap lulusan Sarjana Elektro Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Figur Inspiratif BRI Sebagai pengurus BUMDes, Supono ingin usaha ini terus berkembang. Dirinya pun membangun kolaborasi ke semua stakeholder termasuk kampus dan perbankan. Khusus di perbankan, BUMDes Bangun Mandiri bermitra dengan BRI dalam hal upaya mendorong inovasi berkelanjutan bagi desa dan BUMDes. Kolaborasi ini menuai hasil. Dirinya pun masuk sebagai kategori figur inspiratif, pahlawan lokal (local hero) pendamping UMKM. Saat itu, ada 30 orang dari seluruh Indonesia dan dinyatakan kompeten serta mendapatkan sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). "Dapat sosok figur inspiratif juga berawal dari Desa Bekiung mengikuti lomba Desa BRILian yang digelar BRI dengan Kementerian Desa PDTT. Kita masuk dalam batch II, dan termasuk pemenang utama ada 15 desa yang diikuti hampir 600 desa seluruh Indonesia. Dari itu, Kanwil BRI Medan, menjadikan figur inspiratif lokal sebagaimana pengurus BUMDes, membina unit usaha dan mendampingi serta memberi pelatihan bagi pelaku UMKM," sebutnya. Supono menambahkan kepercayaan yang diberikan pihak BRI kepada dirinya dan BUMDes Bangun Mandiri terus termotivasi untuk terus berkembang. Apalagi, saat ini BUMDes Bangun Mandiri masuk kategori maju di tingkat kabupaten karena tertib administrasi laporan. Ia berharap, pihaknya bisa membuka lapangan pekerjaan di desa, sehingga anak-anak muda asli desa tidak perlu keluar daerah mencari pekerjaan. Kemudian, peningkatan PAD desa serta berharap pemerintah banyak memberikan pelatihan-pelatihan bagi SDM untuk mendongkrak kualitas SDM di desa. Selain itu semua, dukungan modal usaha dan kebijakan juga penting. "Persoalan selama ini banyak syarat yang menjadi kendala pelaku UMKM dari permodalan. Saya mengapresiasi BRI yang masih memberi kepercayaan dari rekomendasi permodalan bagi UMKM," ucapnya.(WITA/BR)











