Hadiri Maulid dan Pelantikan PAC Aceh Sepakat, Prof Ridha Gaungkan Gerakan Gadget Sehat

Hadiri Maulid dan Pelantikan PAC Aceh Sepakat, Prof Ridha Gaungkan Gerakan Gadget Sehat
Prof Ridha Gaungkan Gerakan Gadget Sehat (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Inisiator Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI), Prof.Dr.dr. Ridha Dharmajaya Sp BS (K) hadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1445 H di Masjid Aceh Sepakat, Jalan Sewindu, Medan, Sabtu (18/11).

Dalam acara yang juga dibarengi pelantikan pengurus anak cabang Aceh Sepakat 1s/d VII dewan pimpinan cabang II Medan Baru 2023-2028 itu, Prof Ridha kembali menggaungkan gerakan gadget sehat.

Prof Ridha tak bosan mengingatkan kepada jamaah yang hadir akan bahaya gadget yang mengancam generasi muda terkhusus generasi muda Islam saat ini.

Di mana dirinya menyebutkan jika salah dalam penggunaan gadget secara posisi dan durasi maka akan berdampak terhadap saraf kejepit bagian leher dengan gejala yang dirasakan, kepala pening, pundak berat, leher sakit, tangan kesemutan, dan bangun tidur tidak segar.

“Akhir 2022 kita banyak menerima kasus saraf kejepit di leher yang dialami anak SMA, SMP, bahkan SD. Biasanya itu dialami oleh orang tua usia 50-60 tahun” terang pria yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah syaraf itu.

“Apa sebenarnya yang terjadi? Itu karena mereka memakai gadget dengan posisi yang salah dan juga dengan waktu yang cukup lama. Kalau mereka tidak merubah kebiasannya, maka lima hingga sepuluh tahun ke depan mereka akan mengalami gejala permanen yakni kematian saraf. Ini bahaya bapak, ibu, karena yang terjadi adalah kelumpuhan tangan dan kaki, seksualitas hilang untuk lelaki dan buang air kecil tak terasa (loss),” sambung Prof Ridha.

Alhasil, lanjutnya, tidak ada obat yang menyembuhkan dan tidak operasi yang mengembalikan.

Gadget yang salah menurut Prof Ridha yakni dalam memposisikan dirinya. Di mana seseorang yang menggunakan gadget terutama handphone akan mengalami tekukan pada bagian leher yang menyebabkan leher bagian belakang akan menahan beban berat sesuai lekukan yang dilakukannya.

“Jika tekukan itu hanya beberapa menit tidak masalah. Tapi anak-anak kita bermainnya itu berjam-jam bahkan terus berlangsung hingga berbulan, bertahun bahkan puluhan tahun inilah menjadi ancaman saraf kejepit leher tadi dan yang paling fatal jika terus dibiarkan adalah kematian saraf leher dan berujung kelumpuhan,” ucapnya.

Untuk itu, Prof Ridha kembali mengingatkan kepada orang tua untuk bisa mengawasi anak-anaknya, agar ke depan lahir generasi muda Islam yang berkualitas, yakni generasi sehat, pintar, dan berahlakul karimah.

“Pesan saya, untuk anak 13 tahun maksimal penggunaan gadgetnya itu dua jam sehari. Sedangkan usia di bawahnya tidak ada alasan memberikan handphone ke mereka. Karena itu sama saja meracuni anak-anak kita,” sebutnya.

Berdasarkan pengalaman yang didapatnya, beberapa pasien di bawah usia 13 tahun yang ditanganinya mengalami speech delay atau lambat bicara akibat kecanduan gadget.

“Bahkan ada anak usia 9 tahun yang saya tangani belum bisa ngomong karena kecanduan gadget. Pada sifatnya gadget hanya merangsang saraf penglihatan dan pendengaran anak, tapi tidak merangsang untuk berbicara. Maka selalu awasi anak-anak kita jangan sampai kecanduan gadget. Jika ini terjadi siap-siap kita akan menyumbang generasi muda Islam yang cacat ke depannya,” ucapnya mengakhiri.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut di antaranya seluruh pengurus anak cabang I s/d VII DPC II Medan yang dilantik serta ketua DPC II Medan Baru, Aceh Sepakat Sumut, Dr. H. M Sabri, MT, IPM Asen Eng.

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi