Angkutan Nataru 2025/2026, Bandara API Beroperasi 24 Jam (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Bogor - Untuk memperlancar perjalanan penumpang pesawat udara selama angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyiapkan sebanyak 35 Bandara yang dikelolanya. Ke-35 Bandara tersebut siap beroperasi selama 24 jam sesuai kebutuhan maskapai.
PGS. Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, mengatakan operasional 24 jam diperlukan agar pesawat yang mengalami delay tetap dapat didaratkan dan diberangkatkan pada hari yang sama.
“Angkasa Pura berkomitmen open 24 jam. Ini tergantung kebutuhan maskapai, tetapi kami siap. Kenapa 24 jam? Karena jika terjadi delay, harus selesai di hari itu,” kata Arie, di Bogor, Kamis (11/12).
Arie menekankan bahwa kebijakan ini penting agar tidak terjadi penumpukan pesawat maupun penumpang di Bandara asal maupun Bandara tujuan.
“Jangan sampai karena Bandara close, pesawat yang delay tidak bisa landing. Itu akan menumpuk semua termasuk penumpang di Bandara asal,” ujarnya.
Operasional Bandara 24 jam, kata Ari, dilakukan sejak masa angkutan Nataru yaitu mulai 22 Desember 2025 sampai 10 Januari 2026.
Selain persiapan operasional Bandara API selama angkutan Nataru juga mempersiapkan sumber daya manusia.
"Personel API telah kami siapkan baik dari aspek operasional Bandara maupun aspek keamanan.Untuk aspek keamanan, kami bekerja sama dengan Polri dan TNI,serta komunitas lainnya," ungkap Arie.
Sedangkan untuk mengantisipasi cuaca buruk, pihaknya terus memantau perkembangan dari BMKG.
"Aspek keselamatan merupakan faktor utama dalam penerbangan.Kami terus memantau perkembangan cuaca dari BMKG," ujar Arie.
Selama angkutan Nataru 2025/2026, puncak arus keberangkatan diperkirakan terjadi pada 20–21 Desember 2025, sementara arus balik diperkirakan pada 3–4 Januari 2026.
Jumlah pergerakan orang melalui Bandara yang dikelola API diperkirakan mencapai 9.035.958, atau tumbuh 3,8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Lima Bandara diperkirakan menjadi yang tersibuk, yakni: Soekarno-Hatta (Cengkareng), I Gusti Ngurah Rai (Bali), Juanda (Surabaya), Sultan Hasanuddin (Makassar) dan Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan (Balikpapan).
Manajemen Operasi Berbasis Trafik
Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan potensi kepadatan di area Bandara, API menerapkan manajemen operasi berbasis trafik yang diperkuat teknologi prediktif.
Teknologi tersebut mampu memetakan titik-titik rawan kepadatan seperti area drop zone, check-in, ruang tunggu, hingga airside.
Sejumlah penyesuaian kapasitas juga telah dilakukan, termasuk peningkatan kapasitas sisi udara di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dari 24 juta menjadi 32,4 juta penumpang per tahun.
Arie menegaskan, pengelolaan operasional Nataru membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, termasuk maskapai, regulator, TNI–Polri, komunitas bandara, dan mitra layanan.
“Semua ini menjadi prioritas khusus di seluruh kantor regional dan cabang. Persiapan infrastruktur, fasilitas, prosedur, dan personel harus dimulai sejak sekarang,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama puncak Nataru, InJourney Airports akan menambah personel layanan, termasuk customer service, untuk mempercepat respons terhadap komplain penumpang—terutama terkait delay dan informasi penerbangan.
“Kalau bicara komplain delay, kuncinya adalah informasi. Kami berusaha memberi dukungan psikologis agar tidak terjadi dampak negatif di lapangan,” ujarnya.
(TRY/RZD)