Shibati, Lorong Bersejarah yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi Chongqing

Shibati, Lorong Bersejarah yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi Chongqing
Lorong Bersejarah Shibati yang Tetap Hidup di Tengah Modernisasi Chongqing (Analisadaily/nirwansyah sukartara)

Analisadaily.com, Chongqing - Gerimis tipis menyambut langkah kami saat memasuki Kawasan Jalan Tua Shibati di Kota Chongqing, Tiongkok, Selasa (30/6/2026). Butiran hujan yang turun perlahan membasahi jalan-jalan batu dan atap bangunan bergaya tradisional Tiongkok.

Namun, cuaca yang sendu sama sekali tidak mengurangi denyut kehidupan di kawasan wisata itu. Lorong-lorong tetap dipadati wisatawan yang datang dari berbagai daerah di Tiongkok maupun dari berbagai negara di luar Tiongkok, sementara para pedagang dengan ramah menawarkan beragam suvenir, makanan khas, hingga aneka kerajinan tangan.

Lampu lampion juga menghiasi jalanan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan. Sesekali terdengar tawa wisatawan yang berhenti untuk mengabadikan suasana, sementara aroma makanan tradisional menguar dari deretan kios yang berjajar di sepanjang jalan. Gerimis justru menghadirkan nuansa berbeda, membuat kawasan tua itu tampak semakin klasik dan romantis.

Shibati merupakan salah satu kawasan bersejarah yang menjadi wajah lama Chongqing. Berada di wilayah dengan kontur perbukitan yang curam, kawasan ini berhasil disulap menjadi destinasi wisata yang memadukan pelestarian budaya dengan geliat ekonomi masyarakat.

Bangunan-bangunan tradisional yang dipertahankan berpadu dengan fasilitas modern sehingga menghadirkan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung.

Foto dari atas dengan view lorong Shibati dan Kota Chongqing
Di sepanjang jalan, berbagai toko menawarkan suvenir khas Chongqing, mulai dari kerajinan tangan hingga makanan tradisional yang menjadi buah tangan favorit wisatawan. Aktivitas jual beli berlangsung tanpa henti meski hujan masih turun perlahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Shibati bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga jantung ekonomi Chongqing yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.

Setelah menikmati suasana Jalan Tua Shibati, perjalanan berlanjut menuju salah satu ikon paling terkenal di Chongqing, yakni Kawasan Jalan Perbelanjaan Tugu Pembebasan atau Jiefangbei. Dari kawasan bersejarah yang sarat nuansa tradisional, perjalanan membawa kami memasuki pusat kota yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit dan pusat perdagangan modern.

Di tengah kawasan yang ramai itu berdiri kokoh Tugu Pembebasan atau Jiefangbei, sebuah monumen berbentuk segi delapan yang menjadi saksi perjalanan panjang Kota Chongqing. Bangunan yang kini dikelilingi gedung-gedung tinggi tersebut pernah menjadi bangunan tertinggi di kawasan itu pada periode 1941 hingga awal 1950-an.

Monumen ini memiliki makna sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Tiongkok. Jiefangbei merupakan satu-satunya monumen di Tiongkok yang dibangun untuk memperingati kemenangan Perang Perlawanan melawan Jepang.

Sejarahnya bermula pada 1931 ketika pemerintah memutuskan membangun sebuah "Benteng Semangat" atau Jingshen Baolei sebagai simbol untuk membangkitkan semangat rakyat menghadapi invasi Jepang. Namun perjalanan monumen tersebut tidaklah mudah.

Selama periode 1938 hingga 1944, Chongqing mengalami lebih dari 200 kali pengeboman besar-besaran. Benteng Semangat beberapa kali hancur diterjang serangan udara, tetapi setiap kali itu pula kembali dibangun sebagai simbol bahwa semangat rakyat tidak pernah runtuh.

Setelah berdirinya Republik Rakyat Tiongkok pada 1949, pemerintah pusat membangun kembali monumen tersebut sebagai Monumen Peringatan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok yang kemudian lebih dikenal sebagai Tugu Pembebasan atau Jiefangbei.

Kini, kawasan di sekitar monumen telah berubah menjadi salah satu pusat bisnis dan perdagangan paling sibuk di wilayah barat daya Tiongkok. Deretan pusat perbelanjaan modern, hotel, restoran, hingga gedung pencakar langit mengelilingi monumen yang tetap berdiri sebagai pengingat perjalanan sejarah bangsa.

Perpaduan antara nilai sejarah dan wajah kota modern menjadikan Jiefangbei bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga simbol transformasi Chongqing dari kota yang pernah menjadi sasaran perang menjadi salah satu pusat ekonomi penting di Tiongkok.

Menjelang sore, perjalanan ditutup dengan menyaksikan pertunjukan budaya bertajuk "1941", sebuah pertunjukan yang memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi masyarakat di wilayah barat daya Tiongkok.

Selama pertunjukan berlangsung, penonton disuguhi beragam atraksi yang memikat, mulai dari sulap, wayang kulit, seni minum teh (cha yi), hingga pertunjukan paling ditunggu, yakni bian lian atau seni ganti topeng dari Opera Sichuan.

Dalam hitungan detik, para pemain mampu mengganti topeng tanpa terlihat prosesnya, membuat penonton berdecak kagum.

Pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan juga menjadi media untuk memperkenalkan adat istiadat dan budaya masyarakat Sichuan serta Chongqing.

Salah satu tradisi yang diangkat adalah budaya minum teh yang masih sangat lekat dengan kehidupan masyarakat, terutama kalangan generasi tua yang menjadikan kedai teh sebagai ruang berkumpul dan bersosialisasi.

Busana tradisional yang dikenakan para pemain semakin memperkuat nuansa budaya lokal. Sementara atraksi bian lian, yang telah diakui sebagai bagian dari warisan budaya takbenda, menjadi penutup yang meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton.

Sehari menjelajahi Chongqing memperlihatkan bagaimana kota ini berhasil merawat sejarah sekaligus bergerak menuju masa depan. Dari lorong-lorong tua Shibati yang tetap hidup di tengah gerimis, Tugu Pembebasan yang menjadi saksi keteguhan rakyat menghadapi perang, hingga panggung Opera Sichuan yang menjaga denyut tradisi, semuanya menyatu menjadi potret sebuah kota yang tidak pernah melupakan akar sejarah dan budayanya.

Penulis:  Nirwansyah Sukartara
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga

Rekomendasi