Beberapa ilustrasi penyiksaan masyarakat Chongqing yang ada di dalam museum (Analisadaily/nirwansyah sukartara)
Analisadaily.com, Chongqing - Bisa dikatakan bahwa Chongqing adalah benteng terakhir bagi masyarakat Tiongkok untuk tidak menyerah dalam melawan Jepang. Di Museum Sejarah Peristiwa Pengeboman Chongqing "6-5" Terowongan jejak itu masih bisa dilihat.
Selasa (23/6/2026), cuaca di Chongqing cukup sejuk. Hiruk pikuk kota maju sangat terlihat dari gedung-gedung pencakar langit di sekitar. Pusat-pusat perbelanjaan dikunjungi banyak orang. Begitu juga dengan wisatawan yang datang. Lokasinya berada di tengah gedung mewah. Cukup kecil, tapi bisa menjelaskan bagaimana peristiwa pengeboman pada tahun 1938 hingga Desember 1944 terjadi ketika saya mengunjungi museum tersebut. Museum ini terletak di Jalan Ciqi, Distrik Yuzhong, Chongqing, dekat dengan Jiaochangkou.
Di lokasi ini juga kita bisa menyaksikan terowongan yang menjadi saksi bisu saat perang terjadi. Seperti kita ketahui bahwa tentara Jepang melakukan pengeboman strategis terhadap Chongqing dan sekitarnya selama 6 tahun 10 bulan, yang dikenal dalam sejarah sebagai Pengeboman Besar Chongqing.
Museum ini masuk dalam daftar pertama situs peninggalan Perang Perlawanan dan merupakan unit perlindungan peninggalan budaya Kota Chongqing. Di mana selama perang Rakyat Tiongkok melawan Agresi Jepang, Chongqing menjadi ibu kota masa perang pemerintahan Nasionalis dan pusat komando Front Timur Jauh dari Perang Anti-Fasis Dunia. Karena status dan peran strategisnya yang penting, maka Jepang berusaha menghancurkan keinginan rakyat Tiongkok untuk melawan.
Terowongan tempat masyarakat Chongqing bersembunyi waktu pengeboman
Di museum ini pula, Terowongan "6-5" itu masih terlihat jelas. Meskipun ada yang telah diperbaiki. Terowongan ini menjadi saksi bahwa tanggal 5 Juni 1941, 24 pesawat Jepang dalam 3 gelombang melancarkan serangan malam ke Chongqing.
Karena serangan terjadi pada malam hari, evakuasi dan perlindungan warga tidak dapat dilakukan secara efektif, sehingga banyak warga yang panik berbondong-bondong masuk ke terowongan di Jiaochangkou tersebut.
Terowongan ini mulai dibangun pada akhir tahun 1938, dengan kedalaman sekitar 10 meter di bawah tanah, lebar dan tinggi sekitar 2 meter, membentang sekitar 2 kilometer, dan memiliki 3 pintu masuk dan keluar di cabangnya, yang dapat menampung sekitar 5.000 orang.
Namun pada malam itu, lebih dari 10.000 orang berdesakan di dalam terowongan sepanjang 190 meter ini. Karena terlalu banyak orang yang mengungsi, ventilasi tersumbat dan waktu pengeboman yang lama, mengakibatkan ribuan warga sipil termasuk anak-anak meninggal karena sesak napas dan terinjak-injak. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai "Tragedi Sesak Napas Terowongan Besar 6-5", yang menggemparkan dunia .
Para pengunjung saat membaca cerita soal pengeboman Chongqing di museum tersebut
Data sejarah menunjukkan bahwa selama 6 tahun 10 bulan Pengeboman Besar Chongqing, total korban meninggal mencapai 32.829 orang, 11.814 rumah dan 21.295 ruangan hancur, dengan kerugian harta benda sekitar 10 miliar yuan.
Renovasi
Pada tahun 2019, Kantor Pertahanan Udara Rakyat Kota Chongqing melakukan renovasi terhadap museum ini dengan teknologi baru untuk merekonstruksi peristiwa tersebut. Dan pada akhirnya tahun 2021, museum ini secara resmi dibuka untuk umum, untuk memperingati para korban dalam Pengeboman Besar Chongqing khususnya Tragedi Terowongan 6-5, dan untuk menginspirasi generasi penerus mengatasi segala kesulitan dan berjuang demi kebangkitan besar bangsa Tiongkok.
Museum ini memiliki total 3 lantai dengan luas bangunan 1.181 meter persegi. Isinya meliputi 6 bagian: ruang serbaguna (aula utama), pembantaian dari utara, pengeboman besar Jepang terhadap Chongqing, Tragedi "6-5" dan terjadinya Tragedi Terowongan Besar. Semakin di bom semakin kuat rakyat Chongqing berdiri tegak.
Gratis
Museum ini dibuka gratis untuk umum dari hari Selasa hingga Minggu pukul 10.00–18.00 (tutup pada hari Senin) . Pengunjung dapat merasakan secara mendalam dampak kejam perang terhadap warga sipil dan semangat pantang menyerah dari kota yang terlahir kembali itu dari kehancuran.
Hingga Juli 2025, museum ini telah menerima lebih dari 810.000 pengunjung, secara bertahap dan menjadi tujuan pendidikan sejarah dan budaya yang penting di Chongqing. Setiap tahun pada tanggal 5 Juni, suara sirine peringatan serangan udara bergema di atas kota, dan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul di depan situs lama Tragedi Terowongan "6-5" di Jiaochangkou untuk memberi penghormatan kepada para korban yang tewas dalam Pengeboman Besar Chongqing.
Warga diingatkan untuk tidak melupakan sejarah. Museum ini juga merupakan saksi kuat dari peristiwa sejarah penting seperti Perang Rakyat Tiongkok Melawan Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia, mencatat kejahatan brutal militerisme Jepang, dan juga menyaksikan semangat juang rakyat Chongqing yang bersatu dan "Semakin Dibom Semakin Kuat". Kata-kata ini yang terpancar ketika kalian berkunjung ke museum tersebut.
Penulis: Nirwansyah Sukartara
Editor: Bambang Riyanto