Sosialisasi Wawasan Kebangsaan, Lily: Ciri Bangsa Indonesia Bergotong Royong Semakin Memudar (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan – Bergotong royong adalah salah satu ciri khas bangsa Indonesia. Hal ini juga terdapat dalam sila kelima yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Sayangnya, hal ini semakin hari semakin memudar di tengah masyarakat Indonesia, khususnya pula di Kota Medan.
"Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi wawasan kebangsaan agar rasa nasionalisme kita lebih tinggi, rasa cinta tanah air lebih tinggi. Kalau kita lupa, lama lama rasa nasionalisme itu akan semakin terkikis," tegas anggota DPRD Medan Dr Lily MBA dinhadapan konstituennya pada Pelaksanaan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan yang digelar di Jalan Pembangunan I, Nomor 5, Lingkungan VII Gaperta Ujung, Kelurahan Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia, Sabtu (8/8/2026).
Saat ini, lanjut Lily, gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia, kini banyak tidak dipedulikan lagi oleh warga. Warga tidak mau ambil bagian dalam kegiatan yang juga biaa menjadi media bersilaturahmi antar tetangga.
"Padahal, gotong royong itu bisa menjadi wadah silaturahmi yang merupakan ciri khas dari rakyat Indonesia sejak dulu kala," ujar politisi PDI Perjuangan itu.
Di kesempatan itu, anggota Komisi II DPRD Medan itu menjabarkan bahwa Pancasila itu merupakan landasan filosofi tentang dasar dan tujuan bernegara Indonesia. Pancasila itu merupakan ideologi dan pandangan hidup bangsa yang menyatukan tanah air Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Lalu, cara pandang Indonesia terhadap dunia ikut melaksanakan ketertiban dunia dan menjadikan Indonesia sebagai taman saling dunia.
"Pancasila juga merupakan nafas perjuangan yang digerakan oleh kesadaran Indonesia yang berbangsa serta bertanah air dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia yang menjadi sumpah dari para Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Pancasila ini pertama kali dicetuskan oleh Ir Soekarno yang menjadi presiden pertama Indonesia," jelasnya.
Dikarenakan Pancasila yang menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia ini sangat penting, dulu mulai sekolah TK, SD sudah belajar dengan mata Pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Di bangku SMP, SMA dan kuliah juga harus mengikuti Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P–4) yang kini digaungkan kembali dengan Pendidikan dan Pelatihan Pembinaan Ideologi Pancasila.
Di kesempatan itu pula, di penghujung kegiatan, anggota Komisi II tersebut menguji para peserta yang hadir dengan mengajukan lima pertanyaan sesuai dengan isi sila Pancasila. Para peserta saling berebut untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Bagi peserta yang berhasil menjawab diberikan sovenir menarik.
(MC/RZD)