Subandi : MBG Kian Dicintai Rakyat Sumut (Analisadaily/zulnaidi)
Analisadaily.com, Medan — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin dirasakan manfaatnya dan kini kian dicintai masyarakat. Antusiasme tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari para orangtua dan tenaga pendidik. Bahkan, sejumlah kepala sekolah mulai kebanjiran pertanyaan dari murid dan wali murid terkait kapan sekolah mereka akan menerima program MBG.
Ketua Komisi E DPRD Sumatera Utara, HM Subandi, mengungkapkan hal tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (2/2/2026). Ia mencontohkan kondisi di SMA Negeri 1 Hinai, Kabupaten Langkat, yang hingga kini belum mendapatkan program MBG meski memiliki 643 siswa.
“Sekarang kepala sekolah sudah mulai ditanya murid-muridnya, ‘Pak, kenapa sekolah kita belum dapat MBG? Kapan dapat?’ Pertanyaan itu juga datang dari orangtua murid,” ujar Subandi.
Menurutnya, antusiasme masyarakat tumbuh seiring mereka melihat langsung dampak positif MBG terhadap anak-anak. Siswa terlihat lebih lahap makan, lebih bersemangat belajar, bahkan rela menunggu di pagar sekolah saat jam istirahat hanya untuk menyambut kedatangan kendaraan dapur MBG.
“Jam 10 istirahat, anak-anak sudah nunggu di pagar sekolah. Begitu angkutan MBG datang, langsung ramai. Ini bukti MBG sudah dikenal dan dicintai masyarakat,” katanya.
Subandi menegaskan, meski masih ada pihak yang menolak atau meragukan program ini, jumlahnya semakin kecil. Manfaat nyata di lapangan membuat resistensi perlahan menghilang.
Untuk wilayah Sumatera Utara, realisasi dapur MBG saat ini hampir mencapai 50 persen dari total kebutuhan sekitar 1.700 dapur. Pemerintah pusat, kata Subandi, terus melakukan evaluasi agar pelaksanaan berjalan tepat sasaran.
Ia menjelaskan bahwa dapur-dapur yang sebelumnya terdaftar namun tidak serius menjalankan program telah “di-rollback” atau dibatalkan. Langkah ini diambil agar dapur MBG tidak diperjualbelikan dan benar-benar dikelola oleh pihak yang berkomitmen.
“Sekarang pusat lebih teliti. Yang dipilih betul-betul pengusaha atau kelompok masyarakat yang serius mengelola dapur, supaya tidak timbul masalah baru,” jelasnya.
Secara nasional, penerima manfaat MBG telah mencapai lebih dari 50 juta orang, meningkat signifikan dibandingkan awal pemerintahan Presiden Prabowo yang baru menjangkau sekitar 32 juta penerima.
Menanggapi usulan agar bantuan diberikan langsung dalam bentuk uang kepada orang tua siswa, Subandi menegaskan hal tersebut tidak efektif. Berdasarkan hasil survei dan dialog langsung dengan masyarakat, mayoritas orang tua mengaku tidak sanggup menyiapkan makanan bergizi dengan anggaran Rp15.000 per anak setiap hari, apalagi harus mengantarkannya ke sekolah.
“Ibu-ibu bilang tidak sanggup. Waktunya tidak ada, apalagi yang punya lebih dari satu anak atau yang bekerja,” ungkapnya.
Selain itu, MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi memastikan asupan gizi sesuai usia, yang diatur oleh tenaga ahli gizi dan disesuaikan secara berkala.
Program MBG juga menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, dengan pendistribusian melalui kerja sama dengan posyandu di sekitar dapur MBG. Posyandu berperan mendata dan mengatur distribusi agar bantuan tepat sasaran.
Terkait bulan Ramadan, Subandi memastikan MBG tetap berjalan dengan penyesuaian. Siswa yang berpuasa akan diberikan makanan bergizi yang bisa dibawa pulang, seperti roti dan susu, sementara yang tidak berpuasa tetap dapat mengonsumsi sesuai kebutuhan.
“Intinya, negara hadir. MBG bukan hanya soal makan, tapi soal masa depan generasi kita,” pungkasnya.
(NAI/NAI)











