Rujak Kolam Sri Deli di Jalan Mahkamah Kota Medan tepatnya di seputaran Taman Sri Deli. (Analisadaily/Dimas Arif)
Analisadaily.com, Medan - Di balik ramainya pengunjung wisata Masjid Raya Al-Mashun dan Istana Maimun, terdapat aktivitas ekonomi yang terus berputar dari pagi hingga malam hari.
Salah satu nya adalah lapak-lapak rujak di Kawasan Taman Sri Deli. Penjual rujak "Famili" Kolam Raya Medan, Leli salah seorang yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari kuliner tradisional di kawasan bersejarah tersebut.
Perempuan berusia 51 tahun itu, bukan pendatang baru dalam berdagang rujak. Ia sudah berjualan rujak selama lebih dari 20 tahun, melanjutkan usaha yang sebelumnya dijalankan orang tuanya.
Usaha rujak ini menjadi bukti bagaimana kuliner tradisional dapat bertahan lintas generasi dan menjadi bagian dari kawasan Masjid Raya Medan.
“Ini bukan usaha baru. Dari dulu orang tua saya sudah jualan di sini. Saya tinggal meneruskan,” ujar Leli saat ditemui di lapaknya, Jumat (6/2/2026).
Kesehariannya ia mulai membuka usaha nya sejak Pukul 10.00 WIB dan baru menutup dagangannya sekira Pukul 23.00 WIB. Selama belasan jam tersebut, ia melayani pembeli yang datang silih berganti, baik pembeli dari warga sekitar maupun warga luar kota.
Rujak yang dijual nya hanya satu jenis, sama seperti rujak di lapak lainnya. Tapi yang membedakan lapaknya dengan beberapa lapak rujak di sebelahnya adalah, Leli menyediakan makanan dan minuman lain untuk dipesan, dan menyediakan kursi dan meja untuk tempat wisatawan singgah dan istirahat.
“Kalau jenis rujak sih semuanya hampir sama, cuman yang buat kami beda itu karena kami nyediakan jenis makanan dan minuman lainnya” katanya
Menurut nya jumlah pembeli meningkat saat sore hari. Sementara itu kalau malam hari lebih ramai jika di malam-malam libur atau akhir pekan. Pada waktu tersebut, wisatawan dari luar kota Medan mendominasi pembeli.
“Kalau hari biasa paling warga sini aja yang beli karena udah langganan, tapi kalau hari libur biasanya baru banyak wisatawan dari luar kota yang beli” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Masjid Raya dan Istana Maimun memiliki pengaruh yang besar terhadap kelangsungan usahanya ini.
Dua ikon wisata kota Medan tersebut menjadi magnet tersendiri yang mendatangkan pengunjung sekaligus membuka peluang ekonomi bagi usaha kecil di sekitarnya.
Ditengah perjalanan usahanya ia juga mengaku tidak dikenakan biaya sewa bulanan untuk berjualan di lokasi tersebut.
Ia hanya mengurus perizinan ke pihak Kelurahan dan Kecamatan. Walaupun begitu ia juga pernah digusur atau ditertibkan sementara, biasanya karena ada pembersihan gorong-gorong atau perbaikan jalan.
Kedepannya beliau berharap agar mendapat atensi khusus dari pemerintah Kota, khususnya dalam penataan lapak di sekitar lokasi objek wisata.
Ia juga berharap adanya bantuan dari pemerintah seperti tenda untuk berjualan serta kursi dan meja yang membuat lapak berjualan mereka semakin rapi dan nyaman.
“Rujak ini kan juga sudah jadi ikon kota Medan. Harapannya sih kedepannya bisa lebih diperhatikan biar tempatnya lebih nyaman dan rapi,” ucapnya
Keberadaan pedagang rujak seperti Bu Leli bukan hanya sekedar soal mencari nafkah, tetapi juga membantu menjaga warisan kuliner lokal yang telah melekat dengan kawasan Masjid Raya Medan.
Di tengah modernisasi kota dan persaingan usaha, rujak Leli tetap bertahan sebagai bagian dari denyut kehidupan rakyat kecil yang tumbuh berdampingan dengan ikon sejarah kota.
Berita kiriman dari: Dimas Arif Fadillah