Selamat Jalan Pak Soffyan..!

War Djamil: Soffyan Tokoh Pers yang Peduli Pendidikan

War Djamil: Soffyan Tokoh Pers yang Peduli Pendidikan
War Djamil: Soffyan Tokoh Pers yang Peduli Pendidikan (analisadaily/hendra irawan)

Pemimpin Redaksi Harian Analisa, H War Djamil SH, menyampaikan kenangan dan sosok terhadap tokoh pers Soffyan (89) yang juga Pemimpin Redaksi Harian Analisa periode 1972 -2022 yang telah bepulang ke rahmatullah, Sabtu (7/3/2026).

War Djamil juga menyampaikan bahwa edisi Sabtu Harian Analisa dipersembahkan khusus untuk Bapak Soffyan yang selama 50 tahun memimpin redaksi surat kabar tersebut.
"Koran Analisa edisi Sabtu ini kami persembahkan untuk beliau yang selama 50 tahun bersama kami memimpin dan membimbing kami semua," katanya saat melepas jenazah almarhum menuju peristirahatan terakhir di rumah duka, Jalan Sampali, Medan, Minggu (8/3).
Turut hadir Ketua PWI Sumut H Farianda Putra Sinik, Kepala LKBN Antara Sumut Irwan Arfa, Vice Consul Konsulat Jenderal Jepang di Medan Suzuki Yushi, Sekretaris PWI Sumut SR Hamonangan Panggabean, dan Wapemred I Harian Analisa yang juga Ahli Pers Rizal Rudi Surya, para tokoh masyarakat dan para pelayat lainnya.
Ia mengenang momen terakhir saat menjenguk almarhum. Ketika itu, meskipun dalam kondisi sakit dan berada di kursi roda, almarhum masih menanyakan keadaan Harian Analisa.
"Saat kami menjenguk beliau, beliau bertanya apakah ada masalah di koran. Saya menjawab tidak ada, saya hanya datang menjenguk. Namun beliau tetap berbicara mengenai koran Analisa dan menanyakan apakah koran tetap terbit. Itulah pesan beliau, agar Analisa tetap terbit," kenangnya.
Bahkan pada hari terakhirnya, almarhum masih sempat membaca Harian Analisa yang setiap pagi diantar khusus ke kediamannya. Sejak lama ia selalu mengikuti perkembangan koran yang ikut ia bangun sejak tahun 1972.
War Djamil juga mengisahkan karakter kepemimpinan almarhum yang sangat mengayomi para wartawan. Ia sendiri telah bergabung dengan Harian Analisa sejak tahun 1973 sebagai reporter dan hingga kini tidak pernah meninggalkan perusahaan tersebut.
"Saya menyaksikan langsung bagaimana kepemimpinan beliau. Beliau mendidik wartawan dengan suasana kekeluargaan. Jika ada wartawan yang melakukan kesalahan, beliau tidak pernah memarahinya langsung. Biasanya beliau menugaskan staf untuk memanggil dan menjelaskan kesalahan tersebut," tuturnya.
Dengan sendu dan menitikkan air mata, dia mengatakan almarhum dikenal sangat peduli terhadap pengembangan kualitas wartawannya. Banyak wartawan Analisa yang mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dan perjalanan jurnalistik ke luar negeri berkat dukungannya.
"Beliau membuka hubungan baik dengan berbagai konsulat di Medan. Wartawan Analisa pernah berangkat ke Jepang, Malaysia, Singapura, Australia, Amerika dan berbagai negara lainnya. Semua itu karena beliau membuka jalur dan memberikan kesempatan," ujarnya.
Menurut War Djamil, almarhum sangat ingin wartawan-wartawannya menjadi orang yang berpendidikan dan memiliki wawasan luas. Bahkan beberapa di antaranya berhasil melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar master dan doktor dengan dukungan beliau.
"Beliau selalu mengatakan silakan melanjutkan studi, tetapi tugas di Analisa tetap dijalankan," katanya.
War Djamil kemudian memaparkan secara singkat riwayat almarhum di bidang pers. Almarhum pernah menempuh pendidikan hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara hingga tingkat sarjana muda.
Karier jurnalistiknya dimulai sejak tahun 1959 sebagai wartawan di Kantor Berita Antara. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala Cabang LKBN Antara di Medan.
Sejak tahun 1972, ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Analisa. Pemimpin redaksi pertama adalah almarhum Zainuddin, namun hanya menjabat sekitar tiga bulan. Sejak saat itu hingga tahun 2022, genap 50 tahun, posisi pemimpin redaksi dipegang oleh almarhum.
Sepanjang kariernya, almarhum juga melakukan berbagai kunjungan jurnalistik ke luar negeri, antara lain ke Amerika Serikat sebanyak tiga kali, Eropa Barat, Eropa Timur, negara-negara Skandinavia, Australia, Selandia Baru, Jepang, Filipina, Malaysia, Singapura, India, dan Pakistan.
Ia juga pernah mengikuti pendidikan jurnalistik selama tiga bulan di International Institute of Journalism Berlin, Jerman, dan memperoleh sertifikat di bidang pers.
Sejumlah penghargaan juga diterima almarhum. Pada tahun 1983 ia memperoleh Mitsui Award dari Asian Press Foundation (APF) di Manila. Kemudian pada tahun 1989 menerima penghargaan dari PWI Pusat sebagai tokoh pers yang mengembangkan Pers Pancasila.
Ia juga mendapat penghargaan dari Kodam I/Bukit Barisan. Almarhum menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak tahun 1969 hingga akhir hayatnya. Ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PWI Sumatera Utara.
Di masa-masa terakhir kehidupannya, kepedulian almarhum terhadap Harian Analisa tidak pernah surut. Meskipun berada di rumah dan menggunakan kursi roda, ia tetap mengikuti perkembangan koran tersebut.
Pada ulang tahun Analisa sebelum ini, 23 Maret tahun lalu, pihak Harian Analisa bahkan melakukan wawancara khusus dengan beliau untuk dimuat di koran.
"Namun pada HUT Analisa tahun ini, 23 Maret mendatang, kami sudah tidak bisa lagi mendengar komentar beliau. Kami bersyukur tahun lalu masih sempat menghadirkan pandangan beliau untuk pembaca Analisa," ujar War Djamil.
Ia menutup sambutannya dengan menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam dari keluarga besar Harian Analisa dan insan pers.
"Kami merasa kehilangan sosok besar dalam dunia pers, bukan hanya bagi Harian Analisa, tetapi juga bagi pers Sumatera Utara dan bahkan pers nasional," tutupnya.
Sementara itu, Ketua PWI Sumut, Farianda Putra Sinik SE mengaku kehilangan sosok Soffyan yang merupakan panutan sekaligus sahabat Almarhum ayahandanya.
"Om Soffyan adalah tokoh pers yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pers, baik di Sumatera Utara maupun di tingkat nasional. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi kita semua. Dalam dua bulan terakhir ini, kita telah kehilangan dua tokoh pers. Kemarin Bang Besihar Lubis dan hari ini Om Soffyan. Ini tentu menjadi duka yang sangat mendalam bagi keluarga besar pers, khususnya PWI Sumatera Utara," ungkapnya
"Saya mengenal Om Soffyan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Anak-anak beliau pun berteman dengan kami. Sosoknya sangat sederhana dan bersahaja. Jika melihat kantornya, orang mungkin membayangkan kehidupannya sangat besar. Namun ternyata beliau adalah pribadi yang sangat sederhana, lembut, selalu tersenyum, dan suka bercanda," ujarnya.
Semalam saya sangat terkejut ketika mendapat kabar dari rekan-rekan di PWI Sumatera Utara bahwa Om Soffyan telah berpulang. Tanpa menunggu lama ia pun datang.
"Karena bagi saya, beliau bukan sekadar senior, tetapi sudah seperti orang tua sendiri, bahkan menggantikan sosok ayah bagi saya.
Sekali lagi, PWI Sumatera Utara kehilangan tokoh senior, orang tua, dan panutan bagi kami semua. Kini yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mendoakan beliau serta keluarganya.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya, menerima seluruh amal ibadahnya, dan menempatkan beliau di tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT," pungkasnya.
Selamat jalan Pak Soffyan...!

(WITA/NAI)

Baca Juga

Kasus Apple Daily
04 Mar 2026 20:02 WIB

Kasus Apple Daily

(Bukan) Sebuah Dilema ?
23 Feb 2026 21:12 WIB

(Bukan) Sebuah Dilema ?

HPN 2026 : Integritas !
18 Feb 2026 18:22 WIB

HPN 2026 : Integritas !

Sengketa Pers
13 Feb 2026 17:10 WIB

Sengketa Pers

Komnas HAM & Dewan Pers
02 Feb 2026 17:55 WIB

Komnas HAM & Dewan Pers

Verifikator
12 Jan 2026 17:36 WIB

Verifikator

Rekomendasi